SARS CoV-2 menjadi pandemi di seluruh dunia dan menyebabkan perubahan pada semua aspek kehidupan termasuk pada ibu dengan masa nifas dan neonatal. Infeksi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) selama kehamilan, persalinan, dan nifas dikaitkan dengan peningkatan yang signifikan pada morbiditas dan kematian pada ibu dan bayi. Ibu baru dan bayinya lebih rentan terhadap infeksi dibandingkan populasi umum. Kematian pascapersalinan terkait COVID-19 telah dilaporkan di Brazil, dengan perkiraan 106 kematian pada tahun 2020. Selain itu, bayi juga rentan terhadap infeksi COVID-19. Bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi COVID-19 lebih mungkin dirawat di unit neonatal. Gambaran kasus COVID-19 pada anak pada penelitian sebelumnya terlihat lebih jarang, tidak terlalu parah, dan angka kematian sangat rendah, tetapi semakin banyak bukti bahwa mereka sama rentannya dengan orang dewasa. Bayi dengan gagal napas berat dan perjalanan klinis yang berkepanjangan terkait dengan paparan SARS-CoV-2 mungkin disebabkan oleh prematuritas ekstrem, paru-paru yang belum matang, dan status imunokompromis.
ASI merupakan satu-satunya makanan yang dibutuhkan dalam 6 bulan pertama kehidupan.7 ASI juga merupakan sumber perlindungan terbaik bagi bayi. ASI mengandung berbagai macam antibodi yang memberikan perlindungan pada bayi. Salah satu cara agar bayi mendapatkan perlindungan antibodi tambahan adalah melalui vaksinasi. Dalam kasus COVID-19, vaksinasi merupakan salah satu perlindungan utama namun penyediaan vaksin COVID-19 untuk bayi baru lahir dan bayi belum tersedia. Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa rejimen vaksinasi COVID-19 yang terdiri dari BNT162b2 ditemukan aman, imunogenik, dan manjur pada anak usia lima hingga 11 tahun. Jika dibandingkan dengan bayi, ibu nifas memiliki peluang untuk mendapatkan antibodi melalui vaksinasi. Vaksin COVID-19 adalah cara yang efektif untuk mencegah COVID-19. Pada wabah influenza di tahun-tahun sebelumnya, vaksin influenza terbukti meningkatkan antibodi serum dan mengurangi keparahan penyakit pada ibu dan bayi.
Menyusui dapat melindungi setidaknya selama enam bulan karena ASI mengandung imunoglobulin A (IgA) anti-influenza tingkat tinggi yang secara konsisten diproduksi secara aktif. Hasil penelitian ini menemukan bahwa menyusui dapat memberikan perlindungan setidaknya selama 6 bulan pertama karena ASI secara konsisten mengandung imunoglobulin A (IgA) anti-influenza yang diproduksi secara aktif dalam jumlah tinggi. Bayi yang demam memiliki episode penyakit pernapasan yang lebih sedikit, yang menyiratkan bahwa menyusui dapat memberikan perlindungan mukosa lokal. Risiko COVID-19 dapat dikurangi melalui menyusui di antara anak-anak seperti yang telah didokumentasikan untuk infeksi lain dibandingkan dengan pemberian susu formula.
Risiko terpapar virus dan pemberian nutrisi menjadi dilema, terutama terkait kandungan zat yang terkandung dalam ASI. Ibu menyusui tidak memahami zat yang terkandung dalam ASI, apakah itu virus atau zat pelindung saat memberikannya kepada bayinya. Kondisi ini juga diperparah dengan maraknya misinformasi di media sosial tentang kandungan virus SARS-CoV-2 dalam ASI sehingga menyebabkan masalah menyusui selama pandemi. Ibu menyusui akan kebingungan dan bertanya-tanya apakah virus corona dapat ditularkan melalui ASI dan apa yang dapat mereka lakukan untuk melindungi diri dan bayinya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan menyusui tidak perlu dihentikan selama infeksi COVID-19 atau setelah ibu divaksinasi. Penelitian yang dilakukan oleh United Nations Children’s Fund ( UNICEF) di lima negara di Asia Selatan menemukan bahwa kurang dari 25% orang yang diwawancarai memahami bahwa aman untuk terus menyusui. Mereka lebih memilih untuk memberikan susu formula, sedangkan meta-analisis yang dilakukan pada tahun 2020 menunjukkan bahwa genom SARS-CoV-2 umumnya tidak ditemukan pada ASI ibu menyusui yang terinfeksi COVID-19. Setelah informasi kandungan virus telah dijelaskan dengan jelas, poin perlindungan menjadi bagian penting untuk diketahui. Studi sebelumnya telah menemukan bahwa terdapat antibodi dalam ASI ibu yang terinfeksi COVID-19, tetapi durasi keberadaan antibodi tersebut tidak diketahui.Wanita pascapersalinan yang terinfeksi dan divaksinasi memungkinkan pembentukan antibodi terhadap COVID-19, tetapi dampak jangka panjang pada komposisi antibodi dan aktivitas fungsional masih belum jelas. Mengingat konteks ini, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan status antibodi dalam ASI setelah infeksi dan vaksinasi COVID-19. Setelah menemukan catatan keberadaan antibodi, durasi munculnya antibodi juga akan dipelajari. Pengetahuan tentang durasi antibodi dalam ASI menentukan waktu yang cukup dalam mentransfer antibodi dengan menyusui.
Informasi lebih lanjut mengenai penelitian dapat diakses pada:
Penulis: Eighty Mardiyan Kurniawati, Nur Anisah Rahmawati
Mardiyan Kurniawati E and Rahmawati NA. Records of antibodies in breast milk in postpartum women who have been vaccinated or exposed to COVID-19: A systematic review [version 3; peer review: 1 approved]. F1000Research 2022, 11:785 ()
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





