Indonesia menghadapi kesulitan diplomatik dengan tetangga Pasifiknya dan sudah saatnya diperbaiki. Indonesia mengabaikan sebagian besar negara Pasifik selama beberapa dekade, menganggap wilayah itu sebagai ˜halaman belakang™ sehingga tidak termasuk dalam perhitungan strategisnya. Esai ini menjelaskan pemanfaatan pendekatan budaya oleh Indonesia dalam hubungan diplomatik dengan Pasifik Selatan (Oseania). Penyebaran budaya sebagai alat hubungan internasional tidak banyak dipelajari meskipun penggunaan budaya dalam diplomasi telah lama digunakan dan tingkat keberhasilannya yang tinggi dalam menjalin saling pengertian antara orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Untuk itulah Indonesia mencoba menggunakan pendekatan budaya untuk mengejar ketertinggalan secara diplomatis dengan negara tetangganya di Oseania. Pendekatan budaya selama ini diabaikan oleh Indonesia, sehingga berakibat pada terbentuknya ˜citra buruk’ yang telah bertahan di Pasifik Selatan selama lebih dari tiga decade sejak masa Orde Baru.
Pendekatan budaya yang dilakukan Indonesia ke Pasifik Selatan berfungsi untuk melengkapi pendekatan politik dan ekonomi. ˜Diplomasi lunak™ ini dalam jangka panjangnya berorientasi pada identitas nasional, politik-bisnis dan kepentingan strategis. Pemerintah Indonesia optimistis diplomasi budaya akan berhasil meningkatkan status Indonesia di zona ini sehingga mampu menciptakan image positif di kalangan negara-negara di kawasan tersebut. Untuk mengubah image tersebut, Indonesia memerlukan upaya diplomatik intensif.
Identitas suatu bangsa berhubungan erat dengan kebijakan luar negeri. Indonesia adalah
contoh yang tepat tentang bagaimana mengabaikan aspek identitas yang berdampak pada melemahnya upaya diplomasi. Identitas ganda Indonesia (sebagai negara Asia dan
Pasifik) dapat menguntungkan jika dimanfaatkan dengan tepat. Keterlambatan Indonesia
dalam menyadari sepenuhnya identitas gandanya telah mengakibatkan hilangnya peluang
yang menimbulkan risiko signifikan terhadap kebijakan luar negerinya. Keterlambatan dalam menyadari identitas nasional Indonesia didasarkan pada keragaman etnistas yang kompleks. Kompleksitas ini seringkali menimbulkan krisis identitas bagi sebagian masyarakat Indonesia yang meyakini bahwa identitas Indonesianya belum sepenuhnya terwujud.
Sementara itu, bangsa-bangsa Oseania memiliki keterikatan budaya yang sama, sekali pun pada saat yang bersamaan heteroginitas mereka cukup tinggi. Bangsa-bangsa Pasifik tidak dapat didekati secara efektif hanya melalui jalur politik; oleh karena itu, cara diplomasi lain harus ditemukan. Metode pendekatan budaya dapat digunakan dalam praktik hubungan internasional untuk memperkenalkan diri kepada bangsa yang berbeda. Menariknya, Indonesia baru belakangan ini memanfaatkan pendekatan budaya kepada bangsa Oseania. Selama ini Jakarta terlalu sibuk menggunakan sarana politik untuk melawan ˜serangan™ anti-Indonesia di forum multilateral seperti PBB. Bagi Jakarta, meningkatkan konektivitas antara Indonesia dan Oseania berarti mengalihkan fokusnya dari Asia ke Pasifik.
Sebelumnya, wilayah Oseania menempati posisi pinggiran di Indonesia. Oseania kini mendapat perhatian penting bagi Indonesia karena Jakarta telah meningkatkan intensitas hubungan Indonesia dengan wilayah ini dalam dua dekade terakhir. Dengan membangun jembatan identitas bersama untuk Oseania, Jakarta telah menggeser citranya di kawasan. Citra negatif yang sebagian besar didasarkan pada masalah Papua dapat ditransformasikan dengan cara mempromosikan identitas ganda Indonesia agar dapat membawa manfaat bagi kedua belah pihak. Keterlibatan Indonesia dalam berbagai aktivitas pembangunan Pasifik dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan identitas yang menekankan etnis dan budaya Melanesia. Indonesia dapat mengambil peran dalam membantu menghubungkan negara kepulauan Asia Tenggara dengan Oseania. Selanjutnya, identitas ganda Indonesia juga memungkinkannya untuk menjadi penghubung antara ASEAN dan Pasifik. Pemosisian ini memudahkan Indonesia untuk menjadi pemain yang kritis dalam menciptakan peningkatan hubungan antara ASEAN dan organisasi-organisasi regional di Selatan Pasifik, seperti Pacific Island Forum (PIF), Pacific Island Development Forum (PIDF) dan Melanesian Spearhead Group (MSG).
Indonesia dengan gigih mencari ruang geopolitik baru untuk dapat bergerak lebih leluasa di kawasan Pasifik. Setelah memantapkan perannya di zona Asia Tenggara dari diplomasi tradisionalnya, kini saatnya bagi Indonesia untuk mengejar kepentingannya di Oseania secara lebih intensif. Pergeseran ke arah ini harus diwujudkan dalam pengembangan kelembagaan yang sesuai, seperti rencana Kementerian Luar Negeri untuk memisahkan Direktoratnya Asia Timur dan Pasifik menjadi dua bagian terpisah: Direktorat Asia Timur dan Direktorat Pasifik. Pemisahan seperti itu akan menunjukkan bahwa Indonesia meningkatkan fokus pada Pasifik dan ikatan dengan kawasan yang semakin intensif dan matang. Identitas Pasifik Indonesia harus diperluas baik ke dalam maupun ke luar. Harus ada penguatan kesadaran warga negara Indonesia bahwa Indonesia adalah bagian dari Pasifik. Slogan Indonesia Bhinneka Tunggal Ika tidak masuk akal sepenuhnya tanpa ekspresi identitas Pasifiknya.
Indonesia juga harus membuka pintunya lebih luas dan berinteraksi lebih baik dengan negara tetangga negara-negara di sebelah timurnya. Pendekatan budaya merupakan sarana yang efektif di kawasan Pasifik karena timbal balik budaya sudah ada di sana. Jakarta dan negara-negara Pasifik berbagi kepentingan yang saling melengkapi, melalui saling ketergantungan yang meningkat. Meskipun masih terbatas, upaya memanfaatan pendekatan budaya Indonesia melalui diplomasi telah berhasil memitigasi citra negatif Jakarta di antara suara-suara pro-kemerdekaan yang berasal dari kawasan Pasifik.
Penulis: Baiq Wardhani
Link publikasi riset ini dapat dilihat di:





