Produktivitas kerja sangat penting untuk mencapai suatu tujuan dalam pekerjaan. Indonesia, ternyata memiliki tingkat produktivitas kerja yang lebih rendah jika dibandingkan negara teteangga seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia. Data rata-rata produktivitas individu pekerja Indonesia pada tahun 2016 adalah sebesar 24,9 juta US Dollar namun berada di bawah rata-rata negara ASEAN yaitu sebesar 28,8 juta US Dollar.
Rendahnya produktivitas akan berdampak bagi suatu perusahaan. Bahkan, dalam jangka panjang, produktivitas tenaga kerja akan berdampak kepada perekonomian suatu daerah; negara dengan produktivitas rendah juga berbanding lurus dengan rendahnya tingkat perekonomian. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja antara lain beban kerja, beban tambahan akibat lingkungan kerja, kapasitas kerja, dan status gizi. Pentingnya zat gizi yang cukup untuk kesehatan umum dan produktivitas kerja sangat membutuhkan perhatian serius.
Metode dan hasil
Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana peran gizi terhadap produktivitas kerja, sebuah studi potong lintang dilakukan pada 64 pekerja PT. X di Kota Surabaya. Factor gizi terutama asupan gizi diambil dengan metode wawancara 24-hour food recall. Hasil recall kemudian dibandingkan dengan angka kecukupan gizi (AKG) dan digolongkan menjadi 3 kriteria yaitu asupan kurang (51-80% AKG), dan asupan optimal (>80% AKG). Sedangkan produktivitas kerja dinilai menggunakan data sekunder performance appraisal dari divisi terkait dan skornya dibagi menjadi 2 kriteria yaitu kurang produktif dan produktif. Pembagian ini diukur secara spesifik tergantung pada masing-masing Perusahaan.
Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 70% pekerja tidak mengonsumsi energi yang cukup, namun asupan protein sudah optimal. Sebanyak 52% pekerja memiliki konsumsi karbohidrat yang optimal, dan 50% pekerja mengkonsumsi jumlah lemak yang optimal. Lebih lanjut, hamper setengah pekerja tidak mengonsumsi zat besi cukup, begitu juga dengan vitamin C, kalsium, dan cairan. 65% pekerja memiliki tingkat kelelahan yang tinggi. Factor yang signifikan berhubungan dengan produktivitas yaitu asupan energi dan zat besi.
Jika dibandingkan dengan AKG, mayoritas asupan makronutrien pekerja menunjukkan hasil defisiensi. Hal ini dapat disebabkan oleh pemilihan makanan atau food choice dari pekerja yang memilih makanan padat energi sehingga tidak mempertimbangkan kandungan seperti protein, karbohidrat, maupun lemak yang ada di dalam asupan makanan mereka. Selain itu, makanan tinggi kalori juga memudahkan pekerja untuk mempertahankan energi dan stamina mereka dalam bekerja selama kurang lebih 8 jam kerja. Zat besi, sangat penting untuk pencegahan anemia. Anemia sendiri dapat menyebabkan gejala seperti Lelah, letih, lesu yang secara langsung dapat mempengaruhi produktivitas kerja.
Menariknya, asupan protein pekerja cukup namun zat besi kurang, padahal sumber zat besi salah satunya yaitu protein. Ternyata, kami menemukan bahwa asupan protein pada pekerja utamanya berasal dari protein nabati. Protein nabati mengadung zat besi dalam bentuk utama nonheme yang penyerapannya tidak seoptimal protein hewani atau zat besi heme. Hal tersebut dapat menjadi alas an mengapa asupan zat besi masih kurang. Jadi, pekerja juga perlu memperhatikan komposisi dan jenis protein yang dikonsumsi, utamakan protein hewani agar dapat memenuhi asupan zat besi juga.
Artikel lebih lengkap dapat dibaca pada:
Penulis artikel populer: Qonita Rachmah
Penulis jurnal: Salsabila Meivitama Arsanti, Farapti, Qonita Rachmah





