Masa remaja merupakan fase kritis dalam lintasan perkembangan anak, yang ditandai dengan percepatan pertumbuhan fisik yang signifikan, yang berpuncak pada puncak pencapaian tinggi badan. Percepatan pertumbuhan pada anak biasanya ditandai dengan dimulainya masa pubertas, yang ditandai dengan perubahan hormonal, fungsi reproduksi, perubahan bentuk tubuh, dan munculnya tanda-tanda pertumbuhan sekunder. Seperti tumbuhnya rambut di beberapa bagian tubuh dan perubahan komposisi tubuh. Selama masa remaja, orang sering mengalami kematangan emosional, sehingga remaja sering ingin mengeksplorasi kebiasaan makan mereka, yang dapat berdampak pada asupan gizi dan status gizi remaja.
Pengaruh teman sebaya dapat menyebabkan remaja memiliki kecenderungan untuk menentukan berbagai hal, termasuk pola makan harian remaja. Hal ini berkaitan erat dengan perkembangan emosi remaja yang masih labil sehingga sangat mudah mengikuti tren terkini yang terjadi dalam interaksi dengan teman sebaya. Selain itu, remaja di sekolah banyak mengalami kejadian yang memicu stres, seperti beban belajar yang tinggi, ujian mata pelajaran, hubungan dengan teman sebaya dan guru di sekolah, bahkan citra tubuh yang negatif juga dapat meningkatkan stres. Stres remaja harus dikelola melalui strategi koping yang efektif untuk mencegah penumpukan stres yang berlebihan, yang dapat berdampak negatif pada proses pertumbuhan dan perkembangannya.
Salah satu mekanisme koping yang paling sering terjadi pada anak adalah emotional eating. Makan emosional merupakan salah satu bentuk penyaluran stres yang berfokus pada perubahan pola makan akibat anomali emosional yang terjadi yang dapat mengurangi atau meningkatkan nafsu makan dan keinginan makan. Semakin tinggi kejadian makan emosional pada anak, maka akan semakin dapat menyebabkan perubahan pola makan secara keseluruhan. Perubahan kebiasaan makan dalam jangka panjang pasti akan berdampak pada status gizi remaja. Perubahan status gizi pada remaja dapat berdampak besar karena dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan remaja pada masa growth spurt.
Analisis hasil EADES terkait status gizi menunjukkan bahwa siswa yang melakukan emotional eating cenderung masuk dalam kategori normal hingga kelebihan berat badan atau obesitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang mengalami emotional eating termasuk dalam kategori status gizi berlebih, sedangkan sebagian responden lainnya termasuk dalam kategori normal.
Menurut teori psikosomatis, emotional eating dapat menjadi mekanisme koping untuk mengatasi stres dan emosi negatif. Makan karena emosi dapat terjadi ketika seseorang makan bukan untuk memuaskan rasa lapar. Melainkan untuk mengatasi stres atau emosi negatif yang dialaminya. Remaja yang mengalami makan karena emosi cenderung merasa lapar berlebihan dan lebih sering mengonsumsi camilan manis berenergi tinggi, seperti kue, es krim, cokelat, dan soda. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa peningkatan frekuensi ngemil dapat menyebabkan penambahan berat badan.
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara emotional eating dengan status gizi (IMT/U). Artinya, semakin tinggi skor emotional eating, semakin tinggi pula kecenderungan prevalensi status gizi berlebih, baik kelebihan berat badan maupun obesitas. Sebanyak 20,9% responden menggunakan makanan sebagai mekanisme koping untuk menenangkan diri, dan 28,6% responden mengonsumsi makanan saat merasa lelah. Hal ini menunjukkan bahwa saat remaja mengalami emosi negatif atau kondisi fisik yang kurang optimal, mereka cenderung melakukan mekanisme koping emotional eating.
Makan emosional disertai makan berlebihan dapat disebabkan oleh dua faktor: makan berlebihan karena ketidakmampuan membedakan antara rasa lapar, kenyang, dan perasaan negatif, atau kecenderungan makan berlebihan untuk mengurangi tekanan emosional yang dirasakan. Dalam kasus ini, beberapa responden mengalami insiden makan emosional yang melibatkan makan berlebihan, yang dapat berfungsi sebagai pengalih perhatian dari stres atau beban akademis.
Kim et al. (2013) menjelaskan bahwa remaja cenderung mengonsumsi makanan berenergi tinggi, manis, asin, dan berlemak untuk meredakan ketidaknyamanan atau stres yang dirasakan. Oleh karena itu, perilaku makan yang tidak terkontrol selama makan emosional dapat menyebabkan penambahan berat badan dan status gizi sebagai akibat dari kelebihan kalori yang dikonsumsi.
Hal ini sesuai dengan penelitian Rachmawati et al., (2019) yang menunjukkan bahwa kejadian kebiasaan makan dan ngemil karena emosi pada remaja lebih tinggi pada kelompok status gizi berlebih dibandingkan dengan kelompok status gizi kurang dan normal. Temuan serupa juga dijelaskan oleh Preti et al. (2008) yang mengungkapkan adanya hubungan antara perilaku makan karena emosi dengan status gizi remaja.
Penulis: Dominikus Raditya Atmaka, S.Gz, M.PH.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Anisah Firdaus Rahmawati, Shintia Yunita Arini, Dominikus Raditya Atmaka, Ardyanisa Raihan Kusuma, Sheila Amara Putri, Mutiara Arsya Wijanarko Vidianinggar, Norfezah Md Nor, Nadiatul Syima Mohd Shahid (2025). CORRELATION OF EMOTIONAL EATING AND NUTRITIONAL STATUS AMONG ADOLESCENTS IN SURABAYA. Media Gizi Indonesia,, 20(2): 185-190.





