51动漫

51动漫 Official Website

Apakah Self Efficacy Berhubungan dengan Perilaku Pencegahan Merokok pada Remaja SMA?

Foto by CNN Indonesiaa

Saat  ini  remaja  semakin  mudah  mengakses  informasi  yang  dapat  memunculkan  berbagai  permasalahan dalam  perkembangan  remaja  yang  kompleks  dan  sulit  untuk  dipecahkan.  Salah  satu  masalah  utama  yang  muncul saat  ini  adalah  banyaknya  remaja  yang  melakukan  perilaku  berisiko,  terutama  perilaku  yang  berisiko  terhadap kesehatan. Perilaku berisiko didefinisikan sebagai perilaku  yang meningkatkan  kemungkinan  efek kesehatan yang merugikan. Kebiasaan  merokok  merupakan  salah  satu  contoh  perilaku  berisiko  yang  sering  terjadi  pada  remaja. Merokok  umumnya  dimulai  pada  masa  remaja,  tetapi  kebanyakan  remaja  mulai  merokok  secara  teratur  sekitar masa   pubertas   berlangsung.   Remaja   yang   memulai   merokok   lebih   awal,   lebih   mungkin   mengembangkan ketergantungan  nikotin  jangka  panjang  daripada  mereka  yang  mulai  merokok  di  akhir  masa  remaja.  Mereka  yang merokok sejak remaja awal memiliki peningkatan risiko terkena penyakit yang berhubungan dengan merokok.Perilaku  merokok  paling  mungkin  terjadi  pada  individu  yang  mengalami  banyak  gangguan  emosional dibandingkan  dengan  mereka  yang  emosinya  stabil.  Remaja  memutuskan  untuk  merokok  karena  hasil  emosional yang  belum  matang  dapat  menjadi  penyebabnya.  Remaja  yang  belum  matang  secara  emosional  lebih  mungkin untuk   terlibat   dalam   mekanisme   perlindungan   diri   yang   diinduksi   oleh   rokok.   Merokok   dirasakan   dapat memperkuat kesan emosional menjadi lebih dewasa dan matang daripada remaja yang tidak merokok.

Remaja biasanya lebih sering berperilaku yang membuat mereka merasa seperti orang dewasa yaitu dengan mengkonsumsi  minuman  keras,  menggunakan  obat-obatan  terlarang,  dan  merokok. Menurut  Setiyanto,  faktor-faktor yang mempengaruhi kebiasaan merokok adalah tekanan teman sebaya, berteman dengan perokok usia muda, status  sosial  ekonomi  rendah,  mempunyai  orang  tua  yang  merokok,  saudara  kandung,  lingkungan  sekolah  (guru) yang merokok dan tidak percaya bahwa merokokmengganggu kesehatan. Selain faktor tersebut, terdapat faktor lain  yang  berhubungan  dengan perilaku  pencegahan  merokok  yaitu  efikasi  diri  atau  keyakinan  diri  seseorang. Efikasi  diri  adalah  suatu  penilaian  untuk  menilai  kemampuan  atau  keyakinannya  dalam  meraih  tujuan,  mengatasi suatu  hambatan,  dan  menampilkan  kompetensi.  Efikasi  diri  merupakan  persepsi  diri  seseorang  bahwa  dirinya memiliki kemampuan untuk mencapai tingkat yang dia inginkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan  antara efikasi diri  dengan  perilaku  pencegahan  merokok  pada  remaja  di  SMA  Negeri  1  Taman  Kabupaten  Sidoarjo.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 1 Taman kelas 10 dan 11. Sampel penelitian ditentukan dengan metode simple random sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak 90 responden. Dalam pengambilan data, peneliti membagikan kuesioner kepada responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara efikasi diri dengan perilaku pencegahan merokok.

Penulis: Muthmainnah, S.KM., M.Kes.

Link Artikel :

AKSES CEPAT