Saat ini remaja semakin mudah mengakses informasi yang dapat memunculkan berbagai permasalahan dalam perkembangan remaja yang kompleks dan sulit untuk dipecahkan. Salah satu masalah utama yang muncul saat ini adalah banyaknya remaja yang melakukan perilaku berisiko, terutama perilaku yang berisiko terhadap kesehatan. Perilaku berisiko didefinisikan sebagai perilaku yang meningkatkan kemungkinan efek kesehatan yang merugikan. Kebiasaan merokok merupakan salah satu contoh perilaku berisiko yang sering terjadi pada remaja. Merokok umumnya dimulai pada masa remaja, tetapi kebanyakan remaja mulai merokok secara teratur sekitar masa pubertas berlangsung. Remaja yang memulai merokok lebih awal, lebih mungkin mengembangkan ketergantungan nikotin jangka panjang daripada mereka yang mulai merokok di akhir masa remaja. Mereka yang merokok sejak remaja awal memiliki peningkatan risiko terkena penyakit yang berhubungan dengan merokok.Perilaku merokok paling mungkin terjadi pada individu yang mengalami banyak gangguan emosional dibandingkan dengan mereka yang emosinya stabil. Remaja memutuskan untuk merokok karena hasil emosional yang belum matang dapat menjadi penyebabnya. Remaja yang belum matang secara emosional lebih mungkin untuk terlibat dalam mekanisme perlindungan diri yang diinduksi oleh rokok. Merokok dirasakan dapat memperkuat kesan emosional menjadi lebih dewasa dan matang daripada remaja yang tidak merokok.
Remaja biasanya lebih sering berperilaku yang membuat mereka merasa seperti orang dewasa yaitu dengan mengkonsumsi minuman keras, menggunakan obat-obatan terlarang, dan merokok. Menurut Setiyanto, faktor-faktor yang mempengaruhi kebiasaan merokok adalah tekanan teman sebaya, berteman dengan perokok usia muda, status sosial ekonomi rendah, mempunyai orang tua yang merokok, saudara kandung, lingkungan sekolah (guru) yang merokok dan tidak percaya bahwa merokokmengganggu kesehatan. Selain faktor tersebut, terdapat faktor lain yang berhubungan dengan perilaku pencegahan merokok yaitu efikasi diri atau keyakinan diri seseorang. Efikasi diri adalah suatu penilaian untuk menilai kemampuan atau keyakinannya dalam meraih tujuan, mengatasi suatu hambatan, dan menampilkan kompetensi. Efikasi diri merupakan persepsi diri seseorang bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk mencapai tingkat yang dia inginkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara efikasi diri dengan perilaku pencegahan merokok pada remaja di SMA Negeri 1 Taman Kabupaten Sidoarjo.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 1 Taman kelas 10 dan 11. Sampel penelitian ditentukan dengan metode simple random sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak 90 responden. Dalam pengambilan data, peneliti membagikan kuesioner kepada responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara efikasi diri dengan perilaku pencegahan merokok.
Penulis: Muthmainnah, S.KM., M.Kes.
Link Artikel :





