51动漫

51动漫 Official Website

Pekik Ketidaksepakatan dalam Novel-Novel Eka Kurniawan: Perspektif Politik Estetik

Eka Kurniawan mengungkapkan tanggapan terhadap situasi sosial yang ditampilkan dalam karya-karyanya berdasarkan kondisi sosial masyarakat. Eka Kurniawan mewarnai dunia sastra dengan memberikan kebaruan revolusioner karena ia menyampaikan kegelisahannya terhadap penindasan dan ketidakadilan dengan cara yang tidak biasa. Pengembangan karya sastra yang dihadirkan sebagai prototipe dan seni estetik yang membuka ruang emansipasi diharapkan mampu membongkar relasi sosial yang dominan sehingga muncul alternatif baru.

Ranciere menawarkan sastra estetik sebagai tandingan rezim etis dan rezim representasi. Sastra estetik merupakan politik sastra. Politik sastra adalah strategi, taktik, atau cara untuk membawa sastra ke mana pun, berbeda dengan sastra politik, yang dikooptasi oleh tujuan politik sehingga tidak menunjukkan kualitas sastra yang diharapkan. Karya sastra yang mencerminkan dominasi cenderung tidak memiliki estetika. Estetika mengacu pada distribusi kepatutan yang melampaui ruang lingkup diskusi seni dalam domain politik.

Ranciere menjelaskan bahwa politik sastra mengandung arti memperjuangkan estetika sastra, yang berarti sastra yang kembali ke seni sebagai seni. Karya sastra yang diperjuangkan memiliki kemampuan untuk bermigrasi, baik pada tataran migrasi subjek maupun migrasi karya sastra itu sendiri, dari rezim etis ke rezim estetika, sebagai kekuatan dominan yang diperebutkan dengan harapan dapat mengembalikan kekuatan seni dan sastra secara umum. Tujuannya adalah untuk membebaskan sekat-sekat fungsi subjek dan peran sosial lainnya untuk mencapai masyarakat setara yang hidup dan memperjuangkan kesetaraan.

Subjek minor yang digambarkan dalam novel-novel Eka Kurniawan berpotensi membawa perubahan dalam dunia sastra. Ranciere menganggap subjek minor dapat meninggalkan taksonomi sosial dan bermigrasi. Artinya, subjek minor berpindah dari jenis kesadaran sosial tertentu ke jenis kesadaran sosial lainnya. Berbekal polisi kesadaran akan suara-suara kecil yang hadir dalam narasi novel, distribusi kepatutan dibangun, yang mendorong mereka untuk bermigrasi.

Karakter Dewi Ayu, Margio, Ajo Kawir, dan O dapat lolos dari jebakan kelas mereka dan naik ke kelas yang lebih tinggi dengan melawan dominasi. Dominasi bisa menjadi penghalang bagi perkembangan minoritas. Oleh karenanya, hal yang patut diperjuangkan adalah suara kaum minoritas. Untuk mencapai masyarakat egaliter, struktur sosial yang memenjarakan suara yang dibungkam harus dipatahkan, sehingga membebaskan tindakan pengungkapan ketidakadilan yang membelenggu mereka.

Dapat disimpulkan bahwa novel-novel Eka Kurniawan membongkar dominasi setiap relasi sosial sehingga terwujud alternatif baru melalui perspektif politik estetik. Melalui tokoh Dewi Ayu, Margio, Ajo Kawir, dan O, ditemukan beberapa penemuan. Tokoh Dewi Ayu, Margio, Ajo Kawir, dan O merupakan subjek minor yang meninggalkan taksonomi sosial untuk bermigrasi melawan konstruksi sosial.

Nama Penulis: Dr. Nadya Afdholy, S.Hum., M.Pd., M.Hum.
Link Jurnal:

AKSES CEPAT