Adhesi intraperitoneal disebabkan oleh pembedahan pada perut atau panggul yang memiliki persentase kasus sekitar 67-93% setelah proses pembedahan perut. Adhesi yang terbentuk pasca operasi seringkali menyebabkan nyeri kronis di perut atau panggul, kesulitan operasi ulang, infertilitas pada wanita, obstruksi usus bahkan mampu menyebabkan kematian. Nyeri pada perut dan panggul disebabkan oleh pembentukan adhesi yang mengakibatkan cedera saraf, kerusakan jaringan dan pembentukan jaringan parut. Data statistik 2004 tercatat 7024 kasus pasien, dengan presentase obstruksi usus halus sebesar 73,9% dan usus besar sebesar 26,1%. Prosedur operasi ulang cenderung lebih beresiko dan berbahaya. Operasi ulang akan memperpanjang waktu operasi, anestesi dan waktu pemulihan. Resiko kehilangan darah dan kerusakan viseral, termasuk cedera kandung kemih dan kerusakan usus.
Banyak penelitian telah dilakukan untuk mencegah pembentukan adhesi, diantaranya obat-obatan kimia seperti kortikosteroid, antikoagulan, antibiotik, agen f-brinolitik, hormon dan anti inflamasi. Pendekatan dengan hidrogel sebagai anti-adhesi merupakan inovasi yang dikembangkan. Hidrogel dapat diaplikasikan dengan injeksi, semprot, atau metode laparoskopi. Hidrogel memiliki kemiripan struktur seperti ekstraseluler matriks yang dapat membantu dalam regenerasi jaringan untuk penyembuhan luka. Hidrogel mampu menutupi seluruh bagian daerah luka yang terinfeksi untuk mengisolasi permukaan luka, mencegah pembentukan jaringan perekat atau adhesi intraperitoneal setelah operasi dalam jangka waktu tertentu. Karakteristik material sebagai anti-adhesi adalah memiliki periode degradasi pasca operasi, biokompatibel, aman, non-inflamasi, non-imunogenik, dapat melekat tanpa jahitan, menjaga isolasi permukaan traperitoneal untuk menghindari hubungan antara permukaan seosa yang rusak selama 5-7 hari untuk epitelisasi intraperitoneal.
Hyaluronic acid (HA) adalah polisakarida polianionik yang merupakan komponen utama dari ekstraseluler matriks. HA berisfat biodegradable, biokompatibel, hidrofobik, non-imunogenik dan memiliki sifat kekentalan tinggi. HA mampu meningkatkan proliferasi sel mesotel intraperitoneal. Kelemahan HA adalah dapat terdegradasi dengan cepat dan sifat mekanik yang rendah. Penambahan chitosan digunakan untuk memperbaiki sifat HA. Chitosan bersifat hemostatik yang dapat mencegah pendarahan pasca operasi dan bersifat anti mikroba. Allium sativum merupakan material yang bersifat antibakteri, antiinflamasi, antioksidan dan mampu mencegah munculnya adhesi peritoneum pasca operasi.
Proses fabrikasi material, dimana bubuk HA dicampurkan dengan air suling yang menghasilkan larutan transparan dan kental. Natrium metaperiodat (NaIO4) ditambahkan dalam kondisi gelap untuk merangsang reaksi oskidasi untuk mendapatkan gugus aldehid dan ditambahkan etilen glikol. Larutan kemudian dikeringkan dengan metode freeze dry. Bubuk chitosan dicampurkan dengan alkohol isopropil untuk menghasilkan larutan berwarna kuning. NaOH sebagai kontrol pH ditambahkan dalam larutan. Asam monokloroasetat diteteskan perlahan sehingga terbentuk karboksimetil kitosan. Pengadukan dilakukan pada suhu 600C selama 3 jam. Larutan supernatan chitosan disaring menggunakan kertas saring, kemudian pemurnian dan pencucian chitosan menggunakan metanol dan alkohol 70%. Selanjutnya chitosan dikeringkan dengan freeze-dryer.
Sampel hidrogel dengan variasi A, B, C dan D dimana variasi konsentrasi HA:Chitosan 30:0; 30:10; 30:20 dan 30:30. Pembentukan ikat silang untuk kedua bahan ditunjukkan pada puncak serapan pada bilangan gelombang 1638 cm-1 menandakan gugus fungsi CN. Allium sativum menghasilkan amida I dan III dimana bilangan gelombang 1630 cm-1 dan 1250 cm-1. Uji swelling untuk sampel B, C dan D adalah 209,077%, 158,523% dan 90,472% dimana standar rasio swelling adalah 123-225%. Uji degradasi menunjukkan bahwa sampel B, C dan D mengalami degradasi sebesar 90,5%, 87% dan 83,5%. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi chitosan memperlambat laju degradasi. Uji antibakteri difokuskan pada efisiensi variasi chitosan dan penambahan allium sativum. Sampel B, C dan D tergolong sensitive terhadap mikroorganisme dimana memperkuat potensi hidrogel sebagai agen anti-adhesi. Uji sitotoksisitas menunjukkan keempat variasi tidak toksik dimana A, B, C dan D adalah 98,5%, 91,6%, 59,3% dan 54,5%. Uji in vivo menggunakan tikus wistar dimana kontrol negatif menunjukkan skor adhesi 5 yang menunjukkan keberhasilan pembentukan model adhesi luka berulang. Kelompok kontrol positif menunjukkan skor adhesi 4 yang menunjukkan anti adhesi buruk yang tidak memiliki perbedaan signifikan dengan kontrol negatif.
Hidrogel berbasis AHA/NOOC/A. sativum menunjukkan sifat yang baik untuk pencegahan adhesi karena bersifat swelling yang baik, degradabilitas, biokompatibilitas, sifat antibakteri dan kemampuan dalam mencegah pembentukan adhesi berdasar uji in vivo. Oleh karena itu, A-HA/NOCC/A.sativum hidrogel mampu menjadi kandidat anti-adhesi intraperitoneal. Hasil penelitian ini memberikan harapan baru bagi eksistensi biomaterial sebagai barrier / solusi preventif perlekatan usus dan organ pencernaan yang lain.
Penulis: Prihartini Widiyanti
Link Jurnal:





