51动漫

51动漫 Official Website

Aplikasi Pakan Kombinasi terhadap Biomassa dan Populasi Cacing Sutera

Cacing Sutera (sumber: Gramedia)

Akuakultur merupakan salah satu kegiatan yang memanfaatkan hasil sumber daya perairan. Pakan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya perikanan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Terdapat dua jenis pakan, yaitu pakan alami dan pakan buatan.

Ketersediaan pakan alami memegang peranan penting dalam penting dalam kegiatan budidaya, terutama pada fase pembenihan. Salah satu pakan alami yang digunakan dalam budidaya ikan adalah cacing sutra. Cacing sutra merupakan salah satu pakan alternatif untuk tumbuh dan berkembangnya benih ikan. 

Keunggulan dari cacing sutera adalah memiliki kandungan gizi yang tinggi, pergerakannya lambat, ukurannya kecil sesuai dengan mulut benih ikan dan mudah dicerna. Cacing sutra mengandung 48,63% protein dan 19,45% karbohidrat. Namun, produksi cacing sutera saat ini masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam, sehingga kualitas dan kuantitasnya belum dapat dipastikan.

Cacing sutra yang berasal dari alam berpotensi berbahaya yang dapat terakumulasi pada ikan. Selain itu, cacing sutra di alam tidak tersedia sepanjang tahun. Pada saat musim hujan cacing sutra dapat terbawa arus air yang tinggi. Solusi untuk mengatasi ketergantungan cacing sutra terhadap hasil tangkapan dari alam adalah dengan membudidayakan cacing sutra. 

Penelitian mengenai budidaya cacing sutra dengan menggunakan limbah telah banyak dilakukan seperti limbah ikan, limbah padat pabrik kertas dan kompos, susu bubuk yang sudah tidak terpakai, kotoran ayam, ampas tebu, dedak padi yang difermentasi dan bungkil inti sawit.

Limbah lain yang dapat digunakan untuk budidaya lain yang dapat digunakan untuk budidaya cacing sutra adalah silase jeroan ikan yang dicampur dengan dedak padi yang telah difermentasi. Jeroan ikan lele merupakan salah satu limbah perikanan yang dapat diolah menjadi silase. Silase jeroan ikan lele mengandung protein sebesar 54,17%.

Kandungan protein yang tinggi dapat digunakan sebagai sumber N-organik. Kandungan N-organik yang tinggi akan meningkatkan populasi bakteri bakteri dalam media pemeliharaan sehingga ketersediaan pakan cacing sutra akan meningkat.

Selain itu, proses budidaya cacing sutra juga membutuhkan C organik yang merupakan unsur pembentuk karbohidrat. Alternatif yang dapat digunakan sebagai sumber C organik dapat diperoleh dari bekatul yang telah difermentasi. 

Dedak padi yang difermentasi mengandung karbohidrat sebesar 35,04%. Oleh karena itu, penelitian ini bermaksud untuk mengkaji kombinasi pakan silase jeroan ikan dan dedak padi fermentasi pada budidaya ulat sutera terhadap biomassa dan populasi. Budidaya ulat sutera menggunakan pakan kombinasi silase jeroan ikan dan dedak padi terfermentasi dengan konsentrasi yang berbeda berpengaruh terhadap biomassa dan populasi ulat sutera. Penggunaan media lumpur sawah dengan kombinasi silase jeroan ikan 25% dan bekatul fermentasi 75% (P3) menghasilkan biomassa absolut dan populasi absolut tertinggi yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.

 Penulis: Dr. Laksmi Sulmartiwi, S.Pi., MP.

Tulisan lengkap pada link:

Sitasi : Febrianti, L., Sulmartiwi, L., & Dewi, N. N. (2023, December). Application of combination feed of fish viscera silage and fermented rice bran on biomass and population of silk worms (Tubifex tubifex). In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 1273, No. 1, p. 012042). IOP Publishing.

AKSES CEPAT