Pandemi COVID-19 dimulai di Wuhan, Cina pada Desember 2019, World Health Organization (WHO) secara resmi menyatakan pandemic pada 11 Maret 2020 dan Indonesia melaporkan kasus pertama COVID pada 2 Maret 2020. Kasus coronavirus yang baru (2019-nCoV) yang diketahui sebagai severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2), dan penyakitnya disebut pneumonia COVID-19.
Sepanjang pandemi virus Corona-10 sejak tahun 2019 hingga 2022 telah dirasakan bersama di seluruh dunia dan kondisi ini sangat berdampak pada pelayan kesehatan di Indonesia, termasuk kondisi kesehatan jiwa dari petugas kesehatan. Kondisi ini penting karena bila para petugas kesehatan menjadi burnout dan gugur, maka tidak ada lagi orang yang membantu pasien dan masyarakat dalam merawat penyakit COVID-19 khususnya maupun penyakit lainnya secara umum.
Studi ini dilakukan saat pandemi berupa pengamatan pada petugas kesehatan garda depan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo, Surabaya tentang kejadian ansietas, burnout, kemampuan resiliensi dan korelasinya dengan beberapa biomarker.
Hingga saat ini biomarker dari berbagai kondisi psikis belum ada yang dapat pasti. Di sisi lain, sangat penting upaya untuk mendapatkan biomarker agar menjadi petanda dini dan dapat mencegah terjadinya distres.
Petugas Kesehatan secara langsung terdampak pada diagnosis, penanganan dan perawatan pasien COVID-19 dan berisiko mengalami distres psikologis dan gejala kejiwaan. Didapatkan 59% petugas Kesehatan di RSUD dr. Soetomo mengalami ansietas sedang hingga berat pada kondisi saat awal akan jaga pasien Covid di RIK (Ruang Isolasi Khusus).
Ansietas adalah suatu kondisi normal yang sebenarnya untuk mempersiapkan manusia berpikir antisipatif, namun bila ansietas itu menjadi meningkat intensitasnya dan terus menerus, maka akan menjadi gangguan kesehatan jiwa. Dengan kondisi ansietas diharapkan para petugas Kesehatan lebih berhati-hati menjaga diri jangan sampai tertular dan melakukan kelalaian dan merugikan diri sendiri. Penilaian tentang kecemasan dari seseorang kadang menjadi subyektif dan bisa juga menjadi penyangkalan terhadap kondisinya. Oleh sebab itu perlu dicari petanda biologis dari ansietas.
Terdapat 83,62% petugas kesehatan mempunyai resiliensi yang tinggi walaupun ada kecemasan. Kemampuan tenaga Kesehatan di RSUD dr. Soetomo menghadapi situasi emerjensi yang tidak diharapkan seperti pandemic COVID-19 tetap baik dalam resiliensinya, yaitu mempunyai kemampuan adaptasi yang fleksibel secara mental emosional dan perilaku menghadapi tuntutan dari luar dan dalam diri. Resiliensi penting untuk memproteksi diri seseorang menjadi ansietas berlebihan dan depresi yang pada akhirnya petugas kesehatan akan berguguran dan berdampak pada pelayanan kesehatan masyarakat pada pandemic COVID-19.
Petugas kesehatan rentan terjadi burn out, hasil penelitian menunjukkan 39,34% menunjukkan burn out sedang dalam kondisi depersonalisasi, sementara 85,24% mengalami burn out rendah dalam kelelahan emosi serta 52,45% burn out berat dalam pencapaian personalnya. Secara emosional para petugas kesehatan mempunyai strategi tersendiri untuk tetap resilien dan tidak terjadi burn out, yaitu dengan saling mendukung bersama, perhatian dari pihak manajemen Rumah Sakit yang mendukung kebutuhan para petugas kesehatan dalam bekerja, pengaturan tugas, alur tugas, juga memberikan kesempatan untuk isolasi mandiri setelah jaga malam selamam 1 minggu, serta kesejahteraan sangat membantu pekerjaan di tengah pandemic COVID-19 yang waktu itu tidak tahu kapan akan berakhir. Pada Sebagian tenaga kesehatan mengalami burn out berat dalam pencapaian personal karena ketidakjelasan berakhirnya pandemik COVID-19 telah membuat rencana personal, keluarga dan akademis mereka terganggu dan tidak tercapai.
Petugas kesehatan yang menikah mempunyai faktor proteksi yaitu skor MBI-EE lebih rendah. Karena masih dapat berkumpul bersama keluarga di rumah di kala pandemi. Tenaga Kesehatan lain yang belum menikah dan tinggal sendiri tidak dapat melakukan kegiatan di luar rumah bersama kawan, sehingga rentan mengalami cabin fever seperti para mahasiswa yang terkungkung di rumah dan melakukan school from home. Penerapan isolasi mandiri ini terbukti dapat menurunkan secara bermakna berturut-turut (0.007 dan <0.001) kadar kortisol serum [0.47 (0.30-0.66) menjadi 0.38 (0.27-0.55)] dan interleukin-6 (IL-6) [233.77 (8.06-727.53) menjadi [4.65 (2.16-9.60)] pada saat jaga shift dibandingkan setelah jaga, yaitu saat isolasi mandiri.
Kadar IL-6 yang tinggi rentan menjadi depresi dan berbagai penyakit lain yang didasari inflamasi. Kondisi ini bila tidak diatasi akan menurunkan kekebalan tubuh petugas Kesehatan dan bukan tidak mungkin akan rentan penularan COVID-19 yang akhirnya akan mengganggu tugas sebagai pelayan utama di garda depan penanganan COVID-19.
NLR (Neutrophil to lymphocyte ratio) terbukti bermakna berkorelasi ansietas dan resiliensi dilihat dari skor STAI-S dan BRS, sehingga kemungkinan dapat digunakan untuk petanda kondisi kecemasan dan resiliensi. Tidak ditemukan perbedaan ansietas, burn out dan resiliensi pada pria maupun perempuan.
Hasil penelitian ini menyadarkan kita semua bahwa kondisi Kesehatan petugas sangat penting diperhatikan, khususnya pada masa pandemic yang membutuhkan pelayanan emerjensi terus menerus dengan tantangan penyakit yang belum jelas karakteristiknya, penyediaan sarana dan prasarana penanganan yang tersedia terbatas dan tidak dipersiapkan untuk pandemi. Di samping itu, petugas kesehatan perlu menjaga resiliensi walaupun kondisi kecemasan pasti terjadi karena pandemik COVID-19 yang datang tiba-tiba dan dalam waktu yang tidak dapat diprediksi berakhirnya. Untuk itu pemeriksaan NLR dapat digunakan sebagai warning sign dari petugas Kesehatan atas ansietas dan resiliensinya.
Penulis: Dr. Margarita M. Maramis, dr. SpKJ(K), FISCM.
Informasi dari survei dapat dibaca pada:





