Grooming atau perilaku perawatan diri pada hewan adalah perilaku alami yang berhubungan dengan perawatan kebersihan dan merupakan aktivitas fisiologis yang berkaitan dengan menjaga suhu tubuh serta komunikasi sosial. Perilaku grooming memiliki langkah-langkah terstruktur yang khas dan berurutan yaitu gerakan dari bagian kepala ke ekor. Pada beberapa studi dilakukan penilaian perilaku grooming pada mencit atau hewan pengerat lainnya yang dikaitkan dengan reaksi stres atau kecemasan.
Perilaku grooming pada mencit bukanlah model yang tepat untuk penyakit pada manusia, namun unsur-unsur perilaku grooming dapat sedikit menggambarkan perilaku kompulsif manusia yang berubah oleh karena stres sehingga mempengaruhi perilaku perawatan dirinya. Perawatan diri pada manusia dapat berubah dalam keadaan tertentu, seperti pada kondisi stres atau dengan adanya penyakit neuropsikiatri tertentu.
Perilaku grooming pada mencit dapat diinduksi dengan memaparkan mencit ke dalam situasi stres. Hal ini merupakan metode paling umum yang digunakan dalam studi tentang grooming pada mencit. Beberapa perlakuan yang dapat menginduksi grooming antara lain adalah dengan memaparkan mencit secara langsung dengan zat tertentu, seperti mengolesi makanan pada bulunya, membuat mencit berenang, atau menyiramnya dengan air, sehingga timbul keinginan untuk melakukan grooming untuk membersihkan dan melindungi tubuh dari zat asing. Jika pada kondisi tersebut mencit tidak terjadi perubahan perilakugrooming atau reaksinya lambat, terdapat kemungkinan mencit memiliki motivasi rendah, yang mirip dengan kondisi depresi atau apatis.
Sementara itu, perilaku menggaruk pada mencit dilakukan menggunakan kaki belakang dan perilaku ini mungkin tidak berhubungan dengan aktivitas grooming lainnya. Perilaku menggaruk adalah tindakan motorik yang sangat kompleks yang mencerminkan persepsi rasa gatal. Perilaku menggaruk terjadi dalam waktu beberapa detik dan dimulai dari mencit mengangkat kaki belakang ke area tubuh yang akan digaruk hingga menurunkan kaki belakangnya kembali ke tempat semula. Perilaku menggaruk dapat disebabkan oleh berbagai rangsangan dari luar, seperti serangga, parasit, alergen, dan iritan kimia, yang menimbulkan sensasi gatal akut.
Dermatitis atopik adalah kondisi peradangan kulit kronis dan menyebabkan beberapa manifestasi kulit seperti rasa gatal, kulit kering, dan kemerahan pada kulit. Dermatitis atopik terjadi kambuh-kambuhan yang disebabkan oleh faktor pencetus yang dapat memperburuk gejala dermatitis atopik. Paparan alergen seperti debu rumah, faktor lingkungan dan faktor emosional dapat mempengaruhi kekambuhan dermatitis atopik.
Rasa gatal yang terus menerus, infeksi kulit sekunder, dan gangguan tidur dapat menurunkan kualitas hidup pasien dermatitis atopik. Orang dengan dermatitis atopik lebih rentan terhadap depresi dan kecemasan, akibat keparahan penyakitnya, yang mungkin mengakibatkan perubahan perilaku perawatan diri.
Pada suatu studi, mencit dipaparkan pada alergen tungau debu rumah selama 7 hari berturut-turut dan didapatkan hasil adanya peningkatan perilaku menggaruk pada mencit di kelompok perlakuan disbanding kelompok kontrol. Hal ini mungkin terkait dengan sensasi gatal dari perkembangan lesi seperti dermatitis atopik pada kulit mencit akibat paparan alergen. Selain itu didapatkan peningkatan perilaku perilaku grooming pada mencit di kelompok perlakuan yang mungkin disebabkan dari situasi perlakuan dan stres.
Pada studi tersebut juga ditemukan hubungan yang signifikan antara perilaku menggaruk dan grooming dengan pola tidak teratur, grooming bagian tubuh, serta total durasi grooming. Dimana semakin tinggi perilaku menggaruk, semakin tinggi pula perilaku grooming mencit. Hubungan antara perilaku grooming dan perilaku menggaruk belum dianalisis lebih lanjut pada penelitian lainnya, karena kedua perilaku tersebut memiliki tujuan dan patofisiologi yang berbeda. Namun, ada kemungkinan kedua perilaku ini memang terkait satu sama lain.
Penulis : dr.Sylvia Anggraeni,Sp.KK(K)
Informasi lengkap dari artikel ini dapat diunduh di:





