51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Astaxanthin menargetkan VEGF dan FGF2 sebagai akselerator penyembuhan luka mulut: Analisis in silico dan farmakokinetik

Astaxanthin Nanoemulsi sebagai Kosmetika Antiaging yang Poten (Foto: NAXA)

Penelitian ini mengevaluasi potensi astaxanthin sebagai akselerator penyembuhan luka oral melalui pendekatan in silico dan analisis farmakokinetik. Menggunakan molecular docking (AutoDock Vina), astaxanthin menunjukkan afinitas ikatan yang kuat terhadap dua faktor pertumbuhan utama dalam angiogenesis, yakni VEGF (“6.87 ± 1.19 kcal/mol) dan FGF2 (“7.33 ± 0.25 kcal/mol). Interaksi yang terbentuk didominasi oleh ikatan hidrofobik/alkyl dengan residu-residu kunci pada kedua protein, dan seluruh nilai RMSD berada <2 Ã…, menandakan stabilitas pose yang optimal.

Jika dibandingkan dengan hyaluronic acid sebagai agen penyembuhan luka yang sudah dikenal, astaxanthin memiliki nilai afinitas lebih tinggi dan interaksi yang lebih stabil. Analisis ADMET menunjukkan bahwa astaxanthin memiliki absorpsi usus yang tinggi, permeabilitas kulit yang baik, metabolisme utama melalui CYP3A4, serta profil keamanan yang baik (tidak toksik, tidak hepatotoksik, dan tidak mutagenik). Satu kelemahannya adalah kelarutan air yang rendah, sehingga memerlukan formulasi berbasis pelarut non-polar untuk aplikasi topikal.

Secara keseluruhan, astaxanthin memiliki potensi besar sebagai agen terapeutik untuk mempercepat penyembuhan luka oral, terutama melalui aktivasi jalur VEGF dan FGF2 yang berperan penting dalam angiogenesis. Meskipun demikian, penelitian lanjutan berbasis uji seluler maupun hewan diperlukan untuk memvalidasi temuan in silico ini.

Penulis: Prof. Dr. Retno Indrawati Roestamadji, drg., M.Si.

Link: https://doi.org/10.56499/jppres25.2356_13.s1.232

AKSES CEPAT