Pernahkah kalian mendengar mengenai penyakit tumor? Tumor merupakan benjolan yang muncul akibat sel-sel tidak normal yang tumbuh secara berlebihan. Tumor dapat tumbuh di bagian tubuh mana pun serta bisa bersifat jinak dan ganas atau kanker. Lalu apa bedanya tumor jinak dan ganas? Tumor jinak sendiri t褨d邪k merusak sel, jaringan 褧械h邪t yang ada di sekitarnya sehingga selnya tidak menyebar. Tumor j褨n邪k b褨邪褧邪n褍邪 memberikan respon positif terhadap pengobatan, sementara tumor ganas bersifat sebaliknya.
Lalu apakah tumor merupakan penyakit keturunan? Penelitian mengatakan tumor ganas (kanker) terjadi akibat tidak seimbangnya pertumbuhan sel yang baru sehingga pertumbuhannya berlebihan. Beberapa faktor resiko pada tumor jinak adalah pola makan tidak sehat, banyak mengkonsumsi lemak jahat, paparan sinar matahari berlebih, infeksi virus, mengkonsumsi minuman beralkohol, merokok, kegemukan serta paparan bahan kimia. Sedangkan tumor ganas terjadi karena mutasi genetik pada keturunan dari keluarga yang memiliki riwayat keganasan sehingga memiliki risiko yang lebih besar.

Apakah Indonesia berpeluang terkena penyakit tumor ganas (kanker)? Di Indonesia, tumor ganas (kanker) merupakan salah satu penyakit dengan angka kematian terbanyak berdasarkan RISKEDAS 2018. Bagaimana cara dokter mendiagnosa penyakit tumor? Pertama, dokter akan mewawancarai pasien terkait gejala dan riwayat medis yang dimiliki pasien. Kemudian, dilakukan pemeriksaan fisik guna mendeteksi ada tidaknya tanda-tanda tumor pada tubuh. Namun, jika tumor diduga tumbuh di dalam tubuh, maka dokter akan melakukan pemeriksaan radiologi sebagai penunjang.
Apakah pemeriksaan radiologi berbahaya dan menghasilkan radiasi? Tidak semua pemeriksaan radiologi menggunakan radiasi, salah satunya yaitu MRI. Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan alat radiologi yang mengambil gambar organ secara detail dari berbagai sudut. Pemeriksaan ini menggunakan bantuan medan magnet dan gelombang radiofrekuensi yang nantinya akan dikelola dengan komputer sehingga menghasilkan gambar organ dengan jelas. Dokter radiologi akan mengevaluasi hasil gambar MRI tersebut apakah ditemukan tumor atau tidak. Tumor dapat dievaluasi dan dianalisa dengan melakukan MRI Perfusi.

Dalam pemeriksaan MRI,apa saja prosedurnya? Persiapan pertama yaitu pasien menandatangani surat persetujuan tidakan medis (informed consent) dengan membawa hasil rekam medis sebelumnya, pasien dalam keadaan sadar, pasien diminta buang air sebelum pemeriksaan, pasien wajib memberitahu dokter atau petugas jika menggunakan implan logam dan melepas semua benda logam (gigi palsu, alat bantu dengar, jepit rambut, perhiasan, dll) pada tubuh karena didalam ruang MRI tidak diperbolehkan terdapat benda logam. Pasien cukup tidur berbaring pada meja pemeriksaan dan tidak diperbolehkan bergerak sampai pemeriksaan selesai.
MRI Perfusi ini memakan waktu kurang lebih 1 jam dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk pasien dengan kondisi mengalami rasa takut dan cemas berlebihan di dalam ruangan gelap atau sempit, mungkin tidak terlalu efektif dan butuh edukasi lebih lanjut. Namun, MRI Perfusi menjadi teknik yang paling diandalkan untuk mendeteksi tumor karena memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. MRI Perfusi menggambarkan hemodinamik di tingkat mikrovaskuler sehingga dapat mengindentifikasi daerah tumor seperti pengklasifikasian tumor, mengidentifikasi area stroke dan mengevaluasi karakteristik kelainan lainnya yang berkaitan dengan pergerakan aliran darah secara detail.
MRI Perfusi ada 3 metode yaitu, Dynamic Susceptibility Contrast (DSC), Dynamic Contrast Enhancement (DCE), dan Arterial Spin Labeling (ASL). Dari ketiga metode tersebut, DSC merupakan teknik standar dalam pemeriksaan MRI perfusi, karena dapat digunakan sebagai penentuan tingkat penggolongan jenis tumor (tumor grading) dan memprediksi perawatan selanjutnya yang harus dilakukan.
Apakah yang dimaksud DSC, DCE, dan ASL? Dynamic Susceptibility Contrast (DSC) merupakan metode dalam perfusi yang menggunakan kontras media Gd揇TPA. Media kontras tersebut disuntikkan melalui pembuluh darah. DSC menerapkan pengakuisisian data yang sangat cepat (berdasarkan sekuen EPI-T2* GRE) agar mendapatkan gambaran kontras media ketika pertama kali melalui pembuluh darah menuju otak dan metode ini disebut dengan bolus tracking.

Dynamic Contrast Enhanced (DCE), dalam metode ini media kontras juga disuntikan melalui intravena untuk menghasilkan bolus. MRI Perfusi DCE menggunakan spoiled fast gradient echo (T1-Weighted) sequence yang menghasilkan hyperintensity pada gambaran media kontras.
Arterial Spin Labeling (ASL) merupakan teknik perfusi MRI tanpa penyuntikkan media kontras melainkan menggunakan kontras media dari dalam tubuh berupa perputaran atom hidrogen dalam darah yang menuju jaringan otak. Prinsip kerja ASL ialah dengan cara memberikan tanda atau 渓abel pada aliran darah yang menuju jaringan yang akan dievaluasi. Untuk memberikan label pada aliran darah tersebut, digunakanlah teknik akuisi citra yang cepat, dengan menggunakan Echo-planar Imaging (EPI), Gradient dan Spin-echo Imaging (GRASE), atau menggunakan teknik tiga dimensi Fast Spin Echo (FSE) dengan stack-of-spiral.
Penulis: Nafiur Rahmi Yasmin, Achmad Rifqi Fannani, Syah Reza Budi Azhari, Darra Fitria Dewi, dan Veronica Vanessa Aulia B, Muhaimin, S.Tr.Kes., M.T, Dr. Sri Andreani Utomo, dr., Sp.Rad(K) N-KL., M.Sc,
Eunike Serfina Fajarini, S.Si., M.I.Kom





