Trauma gigi susu atau gigi sulung merupakan kerusakan yang terjadi tidak hanya pada gigi susunya saja, tetapi termasuk pada jaringan disekitar gigi tersebut. Biasanya trauma pada gigi susu anak ini sering terjadi akibat terjatuh baik ketika melakukan aktivitas diluar rumah seperti olahraga maupun ketika anak belajar berjalan, termasuk juga ketika terjadi kecelakaan lalu lintas. Tentunya hal ini menyebabkan rasa sakit, dan stress pada anak.
Beberapa referensi menyebutkan bahwa prevalensi terjadinya trauma gigi susu pada anak berkisar antara 11-47%, dimana anak laki “ laki lebih banyak (65%) dibandingkan dengan anak perempuan (35%). Gigi insisif (seri) pertama susu rahang atas merupakan gigi yang paling sering mengalami kejadian trauma, diikuti dengan gigi insisif (seri) kedua susu rahang atas. Terjadinya trauma pada gigi susu ini tidak hanya menyebabkan gejala rasa sakit pada penderita, kerusakan pada gigi susu yang mengalami trauma, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan gigi permanen. Dengan demikian, penanganan trauma gigi susu pada anak secara cepat dan tepat sangat dibutuhkan agar membuahkan hasil yang optimal.
Salah satu klasifikasi yang sering digunakan dalam mengkategorikan trauma pada gigi susu adalah klasifiasi Andreasen™s modification of World health Organization, dimana trauma gigi susu dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
- Enamel infraction and fracture atau retaknya dan patahnya enamel pada gigi susu
- Fraktur pada mahkota gigi tanpa melibatkan pulpa
- Fraktur pada mahkota gigi dengan melibatkan pulpa
- Fraktur pada mahkota dan akar gigi
- Fraktur pada akar
- Concussion, dimana kerusakan pada jaringan periodontal tanpa kegoyangan dan perubahan letak gigi
- Subluxation, kerusakan minor pada jaringan periodontal tanpa perubahan letak gigi, namun disertai sedikit kegoyangan
- Extrusive luxation, dimana terdapat perubahan letak gigi secara ekstrusif (jurusan vertical menuju keluar socket), namun gigi tersebut masih didalam socket gigi
- Lateral luxation, terdapat perubahan letak gigi kearah lateral (bukal atau palatal)
- Intrusive luxation, kerusakan jaringan periodontal dimana terdapat perubahan letak gigi kearah apical
- Avulsi, dimana gigi keluar secara utuh dari socket gigi
Dalam melakukan penanganan trauma gigi susu pada anak, maka diperlukan ketelitian serta kecepatan dalam perawatan. Berikut merupakan salah satu panduan bagi praktisi untuk melakukan tindakan kegawatdaruratan trauma gigi susu pada anak.
- Initial presentation and minimizing anxiety to the child and parent, tahap awal ini merupakan tahap yang penting, dimana menenangkan atau menurunkan kecemasan pada pasien serta orang tua pasien perlu dilakukan agar dapat melakukan pemeriksaan serta perawatan yang lebih optimal pada kasus trauma gigi susu
- Obtaining history, seperti data “ data personal yaitu nama, umur, jenis kelamin, alamat, kemudian dilanjutkan dengan keluhan utama pasien serta riwayat terjadinya trauma. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggali keluhan utama dan riwayat terjadinya trauma gigi susu adalah lokasi rasa nyeri, apakah terdapat perdarahan, pusing kepala, muntah, ketika trauma bagian tubuh mana saja yang terkena, apakah terdapat perubahan letak gigi, kegoyangan gigi, kapan dan dimana terjadinya trauma gigi tersebut, apakah tempat terjadinya trauma gigi tersebut diklasifikasikan tempat kotor atau bersih, riwayat vaksinasi tetanus, obat yang diminum
- Clinical examination, tahapan ini dibagi atas pemeriksaan ekstra oral dan pemeriksaan intra oral. Pada pemeriksaan ekstra oral, beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah perdarahan; seperti perdarahan pada subkonjungtiva, maka terdapat indikasi fraktur zygomaticus, laserasi pada jaringan lunak ekstra oral; perhatikan benda asing ataupun fragmen pada gigi yang kemungkinan patah dan mengenai jaringan lunak, deviasi mandibula; indikasi terdapat kerusakan pada Temporo Mandibular Joint (TMJ). Pada pemeriksaan intra oral beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah laserasi intra oral pada gingiva dan mukosa labial, fragmen gigi, hematoma pada dasar mulut; indikasi fraktur mandibula, perubahan letak dan kegotangan gigi, abnormalitas pada saat oklusi; indikasi fraktur dentoalveolar, mandibula, maksila. Pemeriksaan penunjang seperti X-ray panoramic, CT scan, Cone Beam Computed Tomography (CBCT) juga sering dilakukan sebagai pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnose.
- Providing first aid, pada prinsipnya pertolongan pertama yang dilakukan adalah mengatasi segala hal yang bersifat kegawatdaruratan pada pasien, seperti menghentikan perdarahan, mengatasi obstruksi jalan nafas. Kemudian hal “ hal lain yang harus dipertimbangkan pertimbangan untuk memberikan medikasi seperti antibiotic, analgesic dan juga anti inflamasi pada kasus “ kasus yang dianggap berat. Selain itu pemberian vaksin dan serum anti tetanus perlu dipertimbangkan sesuai dengan Riwayat hostori tempat terjadinya trauma serta riwayat vaksinasi.
- Treatment (dental aspect) for primary tooth, perawatan trauma gigi susu pada anak “ anak disesuaikan dengan kondisi gigi dan penyangganya serta kooperatif pasien pada saat itu. Sebagai contoh, apabila terjadi fraktur pada mahkota tanpa keterlibatan pulpa, maka dapat dirawat dengan tumpatan glass ionomer cement (GIC), komposit atau bahkan preformed crown dengan atau tanpa liner (tergantung pada kasus). Pada kasus fraktur mahkota dengan keterlibatan pulpa, maka dilihat kembali apakah apeks akar masih membuka atau sudah menutup serta gigi tersebut vital atau non vital. Apabila vital dan apeks terbuka, maka pulp capping atau pulpotomy dapat menjadi opsi perawatan. Apabila vital dan apeks tertutup, maka pulp capping, pulpotomy, atau pulpektomi dapat menjadi opsi perawatan. Apabila gigi non vital dengan apeks tertutup, perawatan saluran akar dapat menjadi opsi perawatan. Pada kasus fraktur mahkota melibatkan akar gigi, apabila masih dapat dipertahankan gigi tersebut, maka dapat mengacu pada perawatan fraktur enamel baik dengan ataupun tanpa melibatkan pulpa, apabila tidak dapat dipertahankan, maka pencabutan dapat dipertimbangkan sebagai opsi perawatan. Pada kasus fraktur akar, maka bergantung kondisi dapat dilakukan observasi, reposisi pada mahkota yang mengalami perubahan letak diserta perawatan saluran akar pada bagian koronal, atau bahkan ekstraksi jika diperlukan. Sedangkan pada kasus concussion serta subluxation, observasi serta diet makanan lunak menjadi opsi perawatan. Pada kasus ekstrusive, intrusive dan lateral luxation juga bergantung pada tingkat keparahan dari gigi yang mengalami trauma. Apabila kasusnya ringan maka observasi hingga reposisi menjadi opsi perawatan, namun apabila kasusnya tergolong kasus berat dan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan benih gigi permanen maka pencabutan dapat menjadi opsi perawatan. Sedangkan pada kasus avulsi pada gigi susu, maka replantasi merupakan kontra indikasi perawatan, pada kasus avulsi gigi susu, maka observasi merupakan opsi perawatan.
Trauma gigi susu pada anak merupakan suatu kasus yang sering terjadi dan membutuhkan perawatan yang cepat serta tepat agar mendapatkan hasil yang optimal pada perawatan tersebut. Dengan mengikuti protokol perawatan berbasis ilmu pengetahuan, maka prognosis perawatan yang baik dapat dicapai.
Penulis : Dimas Prasetianto Wicaksono, drg., M.Kes., Ph.D
Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi, 51¶¯Âþ
Informasi lebih detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di :
Dimas Prasetianto Wicaksono, Ardianti Maartrina Dewi, Udijanto Tedjosasongko, Herautami Caezar Yulia Setiawati and Nattakan Chaipattanawan. The management-concept of traumatic dental injury in primary tooth: Narrative Review. World Journal of Advanced Research and Reviews, 2025, 25(01), 1956-1962.
Article DOI:





