Kanker payudara merupakan jenis kanker paling umum di Indonesia, dengan lebih dari 65.000 kasus baru setiap tahunnya. Sayangnya, sekitar 68-73% penderita baru menyadari penyakit ini pada stadium lanjut. Padahal, deteksi dini dengan metode Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) dapat dilakukan secara mandiri tanpa alat khusus dan sangat disarankan bagi wanita berusia 20 tahun ke atas, idealnya 7-10 hari setelah menstruasi.
Meski penting, praktik SADARI masih belum merata di kalangan mahasiswa, terutama di luar bidang kesehatan. Mahasiswa dari jurusan kesehatan umumnya memiliki akses lebih besar terhadap informasi terkait kesehatan dibandingkan dengan mahasiswa dari disiplin ilmu lain. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku terkait SADARI antara mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan di 51动漫.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain observasional komparatif dan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada 304 mahasiswa angkatan 2022 di 51动漫, yang terdiri dari 152 mahasiswa kesehatan dan 152 mahasiswa non-kesehatan. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-square.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kelompok mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan dalam hal pengetahuan, sikap, dan perilaku terkait SADARI. Sebanyak 38% mahasiswa kesehatan memiliki pengetahuan baik mengenai SADARI, dibandingkan dengan hanya 21% dari kelompok non-kesehatan. Dari segi sikap, 98,5% mahasiswa kesehatan menunjukkan sikap positif terhadap SADARI, sedangkan di kelompok non-kesehatan hanya 90%. Dalam hal perilaku, 50% mahasiswa kesehatan rutin melakukan SADARI, sementara di kelompok non-kesehatan hanya 24% yang melakukannya secara rutin.
Sebagian besar mahasiswa kesehatan memperoleh informasi tentang SADARI melalui perkuliahan (25%), sedangkan mahasiswa non-kesehatan lebih banyak mendapatkan informasi dari media sosial (35%). Faktor lain seperti pengalaman pribadi, lingkungan sosial, dan budaya juga berpengaruh terhadap kesadaran dan perilaku terkait SADARI.
Temuan ini menyoroti perlunya edukasi SADARI yang lebih luas bagi mahasiswa non-kesehatan. Kurangnya paparan terhadap informasi kesehatan dalam kurikulum mereka membuat kesadaran akan pentingnya deteksi dini kanker payudara lebih rendah dibandingkan dengan mahasiswa kesehatan. Program edukasi yang lebih inklusif, seperti seminar, kampanye kesehatan, dan keterlibatan tenaga kesehatan dalam komunitas mahasiswa, dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kesadaran dan praktik SADARI di kalangan mahasiswa non-kesehatan.
Perbedaan tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku terhadap SADARI antara mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan menunjukkan bahwa akses terhadap informasi kesehatan memainkan peran penting dalam kesadaran dan pencegahan penyakit. Oleh karena itu, upaya penyuluhan yang lebih merata perlu dilakukan agar mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu lebih memahami pentingnya deteksi dini kanker payudara.
Penulis: Kaza Dity Wandari, Astika Gita Ningrum, dan Pirlina Umiastuti
Untuk informasi lebih lanjut bisa diakses melalui link berikut:
DOI:听





