51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Bakteri Lokal Multifungsi Dari Genus Bacillus yang Ditemukan Dari Larva Aedes Aegypti

Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor yang menularkan berbagai penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD), demam kuning, ensefalitis virus, filariasis, dan Zika. Penyakit tersebut masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di dunia, termasuk Indonesia. WHO memperkirakan pertahunnya terjadi 500.000 kasus DHF dan 22.000 kematian yang sebagian besar terjadi pada anak-anak. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut seperti melakukan pengendalian populasi vektor A. aegypti menggunakan pengendalian menggunakan bahan kimia seperti pada saat abatisasi dan fogging massal, namun hal tersebut terbukti menimbulkan banyak dampak negatif seperti resistensi pada serangga sasaran, membunuh serangga non target, dan dampak negatif lainnya pada lingkungan manusia. Sehingga, diperlukan alternatif lain yang lebih efektif dan ramah lngkungan.

Penggunaan bioinsektisida yang dikembangkan dari bahan hayati dapat menjadi solusi dari permasalahan tersebut. Bioinsektisida merupakan cara pengendalian biologi menggunakan mikroorganisme dan makroorganisme dengan keungggulan lebih ramah lingkungan dan tidak meninggalkan residu yang berbahaya bagi tanaman, manusia, maupun lingkungan. Peneliti telah mengembangkan penggunaan mikroorganisme salah satunya bakteri sebagai agen pengendali hayati terhadap larva nyamuk, contohnya yang dikembangkan ini adalah bakteri entomopatogen dari jenis Bacillus local. Bakteri diketahui merupakan mikroorganisme yang memiliki banyak manfaat baik dalam bidang lingkungan maupun kesehatan. Dalam pengembangan bioinsektisida, telah dilaporkan bahwa dari strain Bacillus thuringiensis dan Bacillus sphaericus telah diketahui memiliki toksisitas larvasida terhadap berbagai jenis nyamuk.

Hasil penelitian ini telah berhasil mengeksplorasi bakteri entomopatogen asli spesies Bacillus yang diisolasi dari larva A. aegypti. Sampel diambil dan dikumpulkan dari larva di tempat perkembangbiakan nyamuk A. aegypti. Semua isolat bakteri yang ditemukan menjalani uji skrining dan konfirmasi di laboratorium untuk dinilai kemampuan toksisitas larvasidalnya terhadap larva A. aegypti. Kemudian dilakukan karakterisasi morfologis dan identifikasi nama spesies melalui ciri molekulernya untuk mengetahui nama spesies dari Bacillus lokal tersebut berdasarkan indeks kemiripan dan persen identitas (%ID) dari data-data yang ada di Genbank. Pohon filogenetik digunakan untuk membandingkan kekerabatannya dengan spesies Bacillus lainnya. Hasil penelitian menunjukkan 120 isolat spesies Bacillus dari sampel larva A. aegypti. Di antara isolat tersebut, tiga isolat (LS3.3, LS9.1, dan LSD4.2) menunjukkan toksisitas larvasida tertinggi dalam pengujian yang dikonfirmasi, menghasilkan tingkat kematian larva masing-masing sebesar 100%, 96,7%, dan 100%, setelah 48 jam. paparan. Identifikasi molekuler menunjukkan bahwa LSD4.2 memiliki ID 99,16% dengan Bacillus velezensis, LS3.3 memiliki ID 98,22% dengan Bacillus mojavensis, dan LS9.1 memiliki ID 99,93% dengan Bacillus subtilis.

Penemuan B. velezensis, B. mojavensis, dan B. subtilis dalam penelitian ini mempunyai arti yang sangat penting. Bakteri ini telah dilaporkan sebagai bakteri multifungsi di berbagai industri, termasuk kesehatan, farmasi, lingkungan, dan pangan, serta sebagai agen biokontrol vektor penyakit, hama tanaman, dan pengendalian penyakit pada budidaya air tawar.

Penulis Artikel: Salamun, Rizky Danang Susetyo, Hakimatul Husniyah, Almando Geraldi, Ni™matuzahroh, Fatimah, Farah Aisyah Nafidiastri, Nabilatun Nisa, Muhammad Fath Alhaqqi Sanis Salamy. Indigenous Bacillus Species Isolated from Aedes aegypti Larvae: Isolation, Larvicidal Toxicity Screening, Phenotypic Characterization, and Molecular Identification. BIOTROPIA Vol. 30 No. 2, August 2023: 242 “ 252

URL Journal:

AKSES CEPAT