Plastik digunakan dalam banyak produk komersial dan penggunaan sehari-hari. Polusi plastik adalah salah satu masalah terbesar di dunia akibat meluasnya penggunaan plastik (Jambeck et al. 2015). Plastik mencemari tanah, air, dan sistem biologis (Jambeck et al. 2015; Buwono et al., 2021). Menurut National Plastic Action Partnership Indonesia, 4,8 juta ton, atau 70% sampah plastik di Indonesia, tidak dikelola, dan 0,62 juta ton, atau 9%, dibuang ke saluran air dan lautan (Dwiyitno dkk. 2020).
Plastik diproduksi dari berbagai monomer yang berasal dari minyak bumi atau gas alam dan tahan terhadap degradasi mikroba (Guven et al. 2017). Plastik tahan terhadap degradasi mikroba, namun dapat rusak dan retak akibat gelombang laut dan radiasi UV. Plastik polimer sintetik mengalami oksidasi dan kerusakan ikatan ketika terkena radiasi ultraviolet (Cordova et al. 2021). Plastik yang terfragmentasi menjadi potongan-potongan kecil (<5 mm) disebut mikroplastik (Masura et al. 2015). Mikroplastik ditemukan di hampir semua habitat perairan, dan 5% dari seluruh plastik yang diproduksi masuk ke perairan laut sebagai fragmen mikroplastik (Jambeck dkk. 2015). Karena ukurannya yang kecil, partikel mikroplastik dapat tercampur dengan pakan biota laut, seperti plankton. Oleh karena itu, organisme laut seperti ikan kemungkinan besar mengonsumsi mikroplastik.
Ikan kembung (Rastrelliger kanagurta Cuvier1816, Scombriformes, Scombridae), merupakan ikan pelagis yang bernilai ekonomi dan dikonsumsi manusia (Senduk et al., 2021). Spesies dewasa ini membentuk kawanan dan menghuni teluk pesisir, pelabuhan, dan laguna dalam, umumnya di perairan keruh yang kaya akan plankton, tempat mereka memakan fitoplankton (diatom) dan zooplankton kecil (cladocerans, ostracods, larva polychaete, dll.) (Colette 2001). Sebagai filter feeder, ikan kembung mungkin memakan mikroplastik dan plankton (Hulkoti et al. 2013). Ikan umumnya digunakan sebagai bioindikator dan biomonitor untuk mendeteksi keberadaan residu atau kotoran di lingkungan perairan karena distribusinya yang luas, signifikansi ekologisnya, dan keberadaannya dalam jaring makanan manusia (Su et al. 2019). Hal ini menunjukkan adanya potensi mikroplastik mencemari ikan kembung di habitat aslinya.
Mikroplastik yang tertelan menyebabkan tiga dampak buruk utama pada ikan: (1) dampak fisik seperti penyumbatan saluran pencernaan; (2) keluarnya bahan pemlastis (plasticizer) dan bahan kimia berbahaya lainnya ke dalam tubuh ikan; dan (3) desorpsi polutan berbahaya yang terkait dengan mikroplastik (Strungaru dkk. 2019). Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan organisme akuatik dan kesehatan manusia (Su dkk. 2019).
Teluk Jakarta yang terletak di wilayah utara Jakarta dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, khususnya masyarakat yang melakukan kegiatan perikanan dan pertanian. Teluk Jakarta menjadi muara bagi total 13 sungai yang mengalir melalui Kota Jakarta (Dwiyitno dkk. 2020). Jakarta memiliki pertemuan sungai-sungai yang mengalir melalui kawasan padat penduduk. Selain itu, industri yang aktif di Jakarta diduga berkontribusi terhadap pencemaran mikroplastik di Teluk Jakarta. Teluk Jakarta terus dimanfaatkan untuk penangkapan ikan dan budidaya perikanan oleh para nelayan. Berdasarkan faktor-faktor ini, Teluk Jakarta dipilih untuk penyelidikan ini.
Ekosistem perairan di Indonesia saat ini sedang dalam pemantauan keberadaan mikroplastik. Kurangnya informasi komprehensif mengenai mikroplastik pada organisme akuatik menghadirkan tantangan untuk mengevaluasi dan membandingkan tingkat polusi mikroplastik secara akurat di berbagai wilayah geografis dan komunitas biologis. Untuk berhasil memantau kondisi ekosistem laut Indonesia dan meningkatkan kesadaran masyarakat, pemahaman terhadap status lingkungan dan biota laut Indonesia sangatlah penting. Data ini berpotensi menjadi masukan bagi langkah-langkah mitigasi kontaminasi mikroplastik. Oleh karena itu, diperlukan informasi ekstensif mengenai polusi yang disebabkan oleh mikroplastik, termasuk kelimpahan, jenis, ukuran, warna, dan jenis polimer yang terdapat dalam biota Indonesia, khususnya ikan kembung (R. kanagurta) yang hidup di Teluk Jakarta.
Penelitian ini mengkaji karakteristik mikroplastik (MPs) pada insang dan saluran pencernaan (GIT) ikan kembung (Rastrelliger kanagurta) yang ditangkap di Teluk Jakarta, Indonesia. Sampel ikan sebanyak 120 ekor dari Teluk Jakarta mengandung MPs, dengan fragmen > serat > film menjadi jenis yang paling umum, dalam urutan tersebut. Jumlah total fragmen, serat, dan film (lapisan tipis) pada insang adalah sebagai berikut: masing-masing 4,8 ± 1,6; 1,0 ± 0,7; dan 0,3 ± 0,3. Sedangkan kelimpahan total fragmen, serat, dan film di GIT masing-masing adalah 5,9 ± 2,3; 1,3 ± 0,8; dan 0,4 ± 0,4. Analisis statistik menunjukkan bahwa kelimpahan fragmen, serat dan lapisan tipis pada insang dan saluran pencernaan ikan tenggiri tidak berbeda nyata antar lokasi pengambilan sampel. Pada insang dan GIT, MPs dengan ukuran kurang dari 0,1 mm dan MPs dengan warna hitam adalah yang paling umum. Uji spektroskopi Fourier transform infra merah (FTIR) pada MPs dari jaringan ikan kembung menunjukkan terdapat 8 jenis polimer MPs yang berbeda yaitu lateks, nilon, polimetil metakrilat (PMMA), selulosa asetat (CA), poliuretan (PU), polikarbonat (PC), polistirena (PS), dan polytetrafluoroethylene (PTFE). Lateks dan polikarbonat terdeteksi pada semua sampel ikan dari Teluk Jakarta.
Ditulis dalam Bahasa Indonesia oleh: Agoes Soegianto
Dimuat di Journal: Bulletin of Environmental Contamination and Toxicology, 111 (3), 37 (Publisher: Springer – Nature)
Website:
ƒ





