Tahukah Anda? Di dalam tubuh kita, terutama di usus, hidup triliunan mikroba kecil攎ulai dari bakteri, jamur, hingga virus攜ang dikenal dengan istilah gut microbiota. Walaupun ukurannya sangat kecil, peran mereka bagi kesehatan manusia (dan hewan percobaan seperti tikus) ternyata sangat besar. Salah satu peran pentingnya adalah menjaga keseimbangan sistem imun agar tubuh tidak bereaksi berlebihan terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya.
Toleransi: Mengapa Tubuh Tidak Selalu 淢enyerang?
Sistem imun kita dirancang untuk melawan ancaman berbahaya seperti virus, bakteri patogen, atau sel kanker. Namun, jika sistem ini terlalu 渟ensitif, ia bisa menyerang zat yang tidak berbahaya, misalnya makanan atau serbuk sari. Hal inilah yang menyebabkan alergi dan penyakit autoimun.
Untuk mencegah hal ini, tubuh memiliki mekanisme toleransi imun攕uatu kondisi di mana sistem imun 渂elajar menerima zat tertentu sebagai aman. Sel yang sangat berperan dalam proses ini adalah regulatory T cells (Treg), yaitu sel imun yang bertugas meredam reaksi berlebihan.
Sublingual Immunotherapy: Cara Baru Mengajarkan Tubuh untuk Toleran
Dalam dunia kedokteran modern, ada metode yang disebut sublingual immunotherapy (SLIT). Caranya sederhana: zat pemicu alergi (misalnya serbuk sari) diberikan dalam dosis kecil di bawah lidah (sublingual). Tujuannya agar sistem imun perlahan-lahan mengenali zat itu sebagai sesuatu yang aman, bukan musuh.
Hasil penelitian pada tikus menunjukkan bahwa metode ini dapat memicu terbentuknya sel Treg baru. Artinya, tubuh menjadi lebih toleran terhadap zat yang sebelumnya memicu alergi.
Peran Penting Bakteri Usus
Namun, para ilmuwan menemukan sesuatu yang menarik: efek SLIT dalam membentuk sel Treg ternyata sangat bergantung pada keberadaan gut microbiota.
Dalam penelitian, tikus yang mikrobiotanya terganggu (misalnya karena penggunaan antibiotik dalam jangka panjang) tidak mampu mempertahankan sel Treg yang diinduksi melalui terapi sublingual. Sebaliknya, tikus dengan mikrobiota usus yang sehat dapat menjaga keberlanjutan sel Treg dan toleransi imun dengan baik.
Artinya, mikrobiota usus bertindak seperti 減elatih tambahan bagi sistem imun, membantu memperkuat efek terapi imun sublingual.
Mengapa Temuan Ini Penting?
Penemuan ini membuka peluang besar dalam pengobatan alergi dan penyakit autoimun. Jika kesehatan mikrobiota usus dapat ditunjang (misalnya melalui makanan prebiotik, probiotik, atau pola makan sehat), efektivitas terapi imun seperti SLIT bisa meningkat.
Dengan kata lain, bukan hanya obat atau terapi yang penting, tetapi juga ekosistem mikroba dalam tubuh.
Kesimpulan
Gut microbiota bukan sekadar penghuni pasif di dalam usus kita. Mereka adalah mitra penting sistem imun, yang membantu menjaga toleransi agar tubuh tidak salah menyerang. Kombinasi antara terapi sublingual dan mikrobiota yang sehat berpotensi menjadi strategi baru untuk melawan alergi dan menjaga keseimbangan imun tubuh.
Penulis
Saka Winias
Tulisan lengkap dapat dilihat di
Gut Microbiota contributes to the maintenance of sublingually induced regulatory T cells and tolerance in mice. Allergology International. 2025.





