UNAIR NEWS – Tradisi lokal yang Indonesia miliki sangat beraneka ragam, tetapi masih kesadaran masyarakat untuk melestarikannya sangat minim. Sebagai upaya menghidupkan kembali tradisi tersebut, (Basasindo) (FIB) 51动漫 (UNAIR) mengadakan Praktik Kuliah Lapangan (PKL) mata kuliah Folklor pada Jumat-Sabtu (23-24/5/2025) di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Blitar.
Dr Abimardha Kurniawan SHum MA, selaku Penanggung Jawab Mata Kuliah (PJMK) Folklor, hadir dalam agenda pembukaan kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya pengalaman belajar langsung di tengah masyarakat untuk memperluas wawasan mahasiswa.
“Ruang belajar itu sangat luas tidak hanya di kampus, tetapi juga di masyarakat. Saya mohon teman-teman mahasiswa bisa saling beradaptasi, mengenal, dan belajar bareng. Semoga apa yang menjadi tujuan dari kegiatan ini bisa terlaksana dengan baik,” ujar Dr Abimardha.

Dukungan Masyarakat Setempat
Sejalan dengan Dr Abimardha, Kepala Desa Kemloko Miftahul Choiri menyambut baik inisiatif pelestarian tradisi lokal yoleh mahasiswa Basasindo FIB UNAIR. “Mudah-mudahan adik-adik mahasiswa nanti dapat menggali kesenian yang ada di Desa Kemloko ini. Mungkin kalian akan mengambil salah satu kesenian yang ada di sini, yaitu Salawat Jidor,” tuturnya.
Miftahul juga menyampaikan apresiasinya atas kerja sama yang telah terjalin selama ini antara pihak desa dan FIB UNAIR. “Saya mengucapkan terima kasih sekali pada FIB UNAIR yang telah memberikan kepercayaan kepada Desa Kemloko sejak tahun 2012. Basasindo FIB UNAIR ini telah mengadakan praktik kuliah lapangan dengan mengunjungi berbagai budaya,” ucapnya.
Mengenal Sholawat Jidor
Lebih lanjut, salah satu tokoh masyarakat Desa Kemloko Sunarko menjelaskan bahwa Selawat Jidor merupakan folklor sebagian lisan yang telah diwariskan turun-temurun selama tiga generasi. Lantunan selawat ini dalam bahasa Arab dengan iringan alat musik tradisional seperti gendang, jedor, ketipung, dan kempling. Biasanya, pertunjukan selawat ini menjadi bagian dari acara hajatan masyarakat di Desa Kemloko.
“Kalau dulu, seni jidor atau tabuhan mungkin dilakukan oleh masyarakat beragama Hindu. Namun, sekarang digunakan untuk melantunkan Salawat Barzanji,” papar Sunarko.
Pada akhir, Sunarko mengungkapkan harapannya agar generasi muda tertarik mempelajari dan melestarikan tradisi ini. “Ketertarikan anak-anak untuk datang dan belajar sulit sekali. Mungkin hal ini sebab Salawat Jidor pelafalannya berbeda dengan pelafalan bahasa Arab pada umumnya. Sebenarnya kami sangat mengharapkan adanya regenerasi pelantun salawat ini,” pungkasnya.
Penulis: Selly Imeldha
Editor: Ragil Kukuh Imanto





