51动漫

51动漫 Official Website

Baseline Serum Mac-2 Binding Protein Glycosylation Isomer sebagai Prediktor Hepatoseluler Karsinoma pada Pasien Hepatitis B Kronis

Ilustrasi oleh pei.de

Infeksi hepatitis B kronis (CHB) merupakan penyakit dengan skala global. Sekitar 20-30% orang dewasa yang terinfeksi virus hepatitis B (HBV) kronis akan berkembang menjadi konsekuensi klinis stadium akhir, seperti sirosis dan karsinoma hepatoseluler (HCC). Selanjutnya, lebih dari 90-95% kasus infeksi HBV pada masa bayi dan anak usia dini akan menyebabkan CHB. Perkembangan CHB menyumbang angka mortalitas yang besar, karena HCC berkembang dengan cepat. Namun, karena pengobatan yang terbatas, proses penyembukan seringkali tidak berjalan dengan baik.

Biopsi hati diakui sebagai gold standard untuk menilai perkembangan fibrosis; namun, prosedur ini masih terbatas oleh invasif, biaya, risiko komplikasi, kesalahan pengambilan sampel, dan interpretasi subyektif. Selain itu, diagnosis dan pengawasan HCC biasanya didasarkan pada deteksi penanda tumor, seperti protein yang diinduksi oleh tidak adanya vitamin K atau antagonisnya II (PIVKA-II), 伪-fetoprotein (AFP), dan teknik pencitraan. Oleh karena itu, harus ada biomarker yang lebih andal, noninvasif, dan murah untuk pengelolaan HCC terkait CHB.

Hasil penelitian sebelumnya melaporkan bahwa protein yang disekresikan hati secara ekstensif glikosilasi yakni isomer glikosilasi protein pengikat Mac-2 (M2BPGi), ditemukan sebagai biomarker baru pada penyakit hati, termasuk fibrosis hati. M2BPGi dapat secara akurat membedakan antara stadium fibrosis hati dan mengidentifikasi stadium fibrosis yang lebih parah. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa M2BPGi juga dapat memprediksi risiko HCC di antara pasien hepatitis B dan C. Oleh karena itu, adanya M2BPGi dalam pengaturan klinis berpotensi meningkatkan management pasien dengan HBV. Namun, akurasi prediksi risiko M2BPGi serum awal perlu ditetapkan lebih lanjut untuk mendukung kemanjurannya.

Berdasarkan dari gambaran di atas, peneliti berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal Internasional terkemuka, yaitu Annals of Gastroenterology. Peneliti melakukan evaluasi terhadap M2BPGi serum sebagai biomarker baru untuk memprediksi HCC pada pasien CHB. Penelitian meta analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi serum isomer glikosilasi protein pengikat Mac-2 (M2BPGi) sebagai penanda fibrosis hati berbasis glikoprotein baru untuk memprediksi HCC pada pasien CHB. Hasil disajikan sebagai perbedaan rata-rata standar (SMD), rasio bahaya (HR), dan parameter akurasi prediktif dari baseline cutoff index (COI) untuk serum M2BPGi.

Studi kami menunjukkan bahwa baseline serum M2BPGi adalah biomarker yang berguna untuk memprediksi perkembangan pasien CHB menjadi HCC, seperti yang ditunjukkan oleh rasio bahayanya. Kami selanjutnya menganalisis akurasi gabungan M2BPGi serum awal, yang menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas yang cukup tinggi disertai dengan PLR dan NLR yang moderat. Temuan lain menunjukkan bahwa baseline serum M2BPGi pada pasien CHB terkait HCC adalah biomarker yang andal dan membantu dalam mengonfirmasi keputusan pengobatan praktisi. Selain itu, temuan kami menunjukkan bahwa baseline serum M2BPGi pada pasien CHB yang berkembang menjadi HCC lebih tinggi daripada mereka yang tidak, terlepas dari status pengobatan dalam analisis subkelompok.

Temuan kami mungkin masih menunjukkan bahwa M2BPGi memiliki nilai klinis yang signifikan untuk memprediksi risiko HCC pada pasien CHB, karena tidak dipengaruhi oleh status pengobatan, terlepas dari kemungkinan faktor lainnya. Meskipun demikian, terdapat beberapa keterbatasan. Pertama, hasil kami menunjukkan heterogenitas yang cukup besar antara studi sehingga harus ditafsirkan lebih hati-hati. Kedua, adanya potensi bias publikasi, seperti yang ditunjukkan oleh plot corong dan uji Egger. Ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa penelitian kami hanya memasukkan artikel berbahasa Inggris.

Singkatnya, penelitian kami menunjukkan bahwa baseline serum M2BPGi lebih tinggi pada pasien CHB yang berkembang menjadi HCC dibandingkan dengan mereka yang tidak, terlepas dari status pengobatan. Serum dasar M2BPGi dapat berfungsi sebagai prediktor baru perkembangan HCC pada pasien CHB, mengingat akurasinya yang sedang hingga tinggi. Studi lebih lanjut yang berukuran lebih besar dan dirancang dengan baik secara langsung membandingkan sifat M2BPGi dengan biomarker HCC tradisional lainnya diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan saat ini. Penelitian kami memberikan bukti lebih lanjut mengenai kegunaan serum M2BPGi dalam praktik klinis, terlepas dari biomarker yang tersedia dan sudah mapan saat ini.

Artikel dapat diakses: 

Penulis

Andro Pramana Witartoa

Bendix Samarta Witartoa

Shidi Laras Pramuditoa

Achmad Januar Er Putra

Grace Manuela Nurhadia

Ummi Maimunah

AKSES CEPAT