Basidiobolomikosis adalah infeksi jamur profunda yang jarang terjadi, disebabkan oleh Basidiobolus ranarum yang biasanya menginfeksi individu imunokompeten, khususnya anak-anak dan remaja. Infeksi Basidiobolus ranarum dapat menyebabkan berbagai gambaran klinis, termasuk basidiobolomikosis subkutan, gastrointestinal, retroperitoneal, dan paru-paru, dengan bentuk klinis yang paling khas adalah basidiobolomikosis subkutan yang ditandai dengan timbulnya lesi nodular eritematosa yang membengkak pada ekstremitas dan batang tubuh. Penyakit ini cukup langka sehingga seringkali dikenali sebagai penyakit lain seperti tuberkulosis, abses kronis, tumor jaringan lunak, keganasan, dan lain-lain.
Seorang pria berusia 25 tahun datang dengan riwayat pembengkakan ekstensif di lengan kanan, wajah, dan leher selama 2,5 tahun. Awalnya pasien terdiagnosis lipoma dan tuberkulosis skapula; namun, tidak ada perbaikan yang terlihat pasca operasi dan pengobatan tuberkulosis. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan sel raksasa, hifa aseptat, dan fenomena Splendore-Hoeppli. Kultur jamur memastikan isolat tersebut adalah Basidiobolus ranarum. Pasien diberikan itrakonazol oral 200 mg dua kali sehari, dan resolusi total dicapai setelah 25 bulan pengobatan.
Basidiobolus ranarum adalah jamur saprofit yang ditemukan pada tanah, tumbuhan yang membusuk, dan merupakan flora penghuni saluran pencernaan berbagai hewan (amfibi, ikan, kelelawar, reptil, dan serangga). Propagul Basidiobolus dapat kontak dengan manusia melalui paparan kulit terbuka, kontak dengan kotoran amfibi dan kadal, gigitan serangga, dan tanah. Pasien dalam kasus ini tinggal di dekat sawah dimana terdapat amfibi dan reptil. Pasien sering mengenakan baju tanpa lengan dan tidur di lantai, sehingga kemungkinan besar tertular infeksi akibat adanya trauma pada kulitnya dan terpapar propagul Basidiobolus.
Pengobatan basidiobolomikosis melibatkan terapi farmakologis dengan atau tanpa intervensi bedah. Pembedahan harus dipertimbangkan secara hati-hati karena dapat menjadi kontraproduktif dan berisiko menyebarkan jamur di batas eksisi. Terapi antijamur jangka panjang diperlukan setelah operasi jika pembedahan harus dilakukan. Pasien dalam kasus ini sebelumnya menjalani eksisi bedah tanpa pengobatan antijamur, sehingga menyebabkan pertumbuhan lesi yang cepat pasca operasi.
Pilihan pengobatan antijamur yang optimal dan durasi terapi untuk basidiobolomikosis masih belum jelas. Kebanyakan pasien dengan basidiobolomikosis merespon dengan baik terhadap obat-obatan golongan azol. Pada pasien ini pengobatan dengan itrakonazole mencapai resolusi penuh setelah 25 bulan dan tidak ada kekambuhan setelah satu tahun. Pasien ini memiliki lesi yang luas dan durasi penyakit yang lama dibandingkan dengan laporan kasus lain pada literatur; oleh karena itu diperlukan durasi terapi yang lebih panjang.
Basidiobolomikosis adalah infeksi jamur profunda yang jarang terjadi dengan respons yang sangat baik terhadap terapi antijamur. Dalam kasus ini, pemberian itrakonazol oral memberikan hasil yang luar biasa. Penyakit ini seringkali dikenali sebagai penyakit lain sehingga dapat menyebabkan morbiditas. Pengenalan terhadap penyakit ini akan menghasilkan diagnosis dan pengobatan yang tepat bagi pasien.
Penulis: Yoana Fransiska Wahyuning Christi,dr.
Informasi lengkap dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://e-jmi.org/archive/detail/121?is_paper=y
Subcutaneous Basidiobolomycosis: A Rare and Underdiagnosed but Curable Fungal Infection – A Case Report
Yoana Fransiska Wahyuning Christi, Irmadita Citrashanty, Yuri Widia, Sylvia Anggraeni, Linda Astari, Daniel Edbert, Arthur Pohan Kawilarang, Evy Ervianti





