Kasus penularan vertikal COVID-19 jarang dilaporkan, meskipun temuan abnormal pada histopatologi plasenta sering dilaporkan pada kehamilan yang terinfeksi SARS-CoV-2. Namun, belum ada publikasi yang melaporkan dampak infeksi COVID-19 terhadap indeks apoptosis plasenta. Apoptosis adalah proses fisiologis regenerasi sel. Infeksi SARS-CoV-2 selama kehamilan dapat mengganggu sistem pernapasan yang dapat menyebabkan kondisi hipoksia sehingga mungkin mengganggu perfusi plasenta. Infeksi COVID-19 juga meningkatkan mediator inflamasi, menghasilkan spesies oksigen reaktif dan mempengaruhi jaringan plasenta pada kasus viremia. Proses ini dapat menyebabkan pembelahan caspase, mengakibatkan kematian sel terprogram dan apoptosis. Meskipun apoptosis adalah proses yang fisiologis namun peningkatan dari apoptosis sering berhubungan dengan menurunnya luaran neonatal. Terganggunya fungsi plasenta yang diakibatkan juga berkorelasi dengan gangguan pertumbuhan janin, asfiksia dan gangguan organ saat lahir, persalinan premature hingga kematian neonatal. Belum banyak penelitian yang melihat efek COVID-19 terhadap unit plasenta ini.
Berdasar hal ini, tim peneliti dari Departemen Obstetri dan Ginekogi, Fakultas Kedokteran, 51动漫 melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui apakah infeksi COVID-19 dengan berbagai derajat gejala dapat mempengaruhi apoptosis plasenta
Penelitian ini merupakan studi retrospektif dan cross sectional dengan melakukan penelitian terhadap 34 plasenta pada kehamilan terinfeksi COVID-19 dan 31 plasenta pada kehamilan non-COVID-19. Status COVID-19 diperiksa dengan menggunakan pemeriksaan PCR dari swab nasofaring yang dilakukan pada pasien trimester ketiga di RSUD Dr. Soetomo memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel plasenta tersebut diolah menjadi slide dan dicat dengan alat uji TUNEL. Slide kemudian diperiksa dan dinilai untuk indeks apoptosis.
Temuan pada studi ini mayoritas pasien adalah wanita multipara dan berada dalam usia kehamilan aterm (37-40 minggu). Tidak ada perbedaan bermakna dari karakteristik antara kedua grup. Dari enam puluh lima pasien yang dilibatkan dalam penelitian ini didapatkan 2 kematian neonatal. Perbandingan indeks apoptosis plasenta positif COVID-19 dan non-COVID-19 menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (p=0,001) dimana didapatkan apoptosis yang lebih tinggi pada kelompok COVID-19.
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan indeks apoptosis plasenta antara kehamilan positif dan negatif COVID-19. Seperti yang tela dijelaskan sebelumnya, jaringan plasenta dapat menjadi target potensial infeksi SARS-COV-2. Ekspresi ACE2 dan TMPRSS2 dalam sitotrofoblas dan syncytiotrophoblas mungkin bertanggung jawab atas peningkatan indeks apoptosis pada kehamilan yang terinfeksi Covid-19. Secara histopatologis, infeksi Covid-19dapat menyebabkan deposisi fibrin dan malperfusi pembuluh darah ibu pada plasenta. Infeksi SARS COV-2 pada kehamilan dapat mengganggu organ respirasi, mengurangi PO2 (hipoksia), dan mungkin mempengaruhi perfusi plasenta, yang berakhir dengan hipoksia plasenta sehingga dapat mempengaruhi peningkatan kematian sel di dalam plasenta.
Penulis: Almira Aulia Shahnaz, Manggala Pasca Wardhana, Ernawati, Grace Ariani, Budi Utomo
Untuk informasi lebih lanjut bisa melalui link berikut:https://bolg.balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/4200/2625





