51动漫

51动漫 Official Website

BBLR di Indonesia Rendah, Faktor Merokok menjadi Penyebab Dominan

Ilustrasi wanita merokok (foto: dok istimewa)


Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu indikator penting dalam menilai kesehatan ibu dan bayi yang baru lahir. Bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram berisiko mengalami berbagai komplikasi kesehatan, termasuk stunting, keterlambatan perkembangan kognitif, serta peningkatan risiko penyakit kronis di masa dewasa seperti obesitas dan diabetes. Di Indonesia, BBLR masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat, terutama di daerah pedesaan yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2021, prevalensi BBLR di Indonesia mencapai 11,7 persen. Beberapa provinsi dengan angka BBLR tertinggi antara lain Maluku Utara (20,1 persen), Sulawesi Tengah (17 persen), dan Banten (16 persen). Di sisi lain, provinsi dengan prevalensi BBLR terendah adalah Jawa Tengah (8,3 persen). Menariknya, meskipun Jawa Barat tidak memiliki prevalensi tertinggi, provinsi ini mencatat jumlah absolut bayi BBLR tertinggi di Indonesia, yakni 104.585 bayi

Selain itu, perbedaan antara daerah perkotaan dan pedesaan juga cukup signifikan. Di pedesaan, angka BBLR mencapai 12,9 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan yang berada di angka 10,8 persen. Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap perbedaan ini adalah keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dan rendahnya tingkat pendidikan ibu hamil.
Berbagai faktor telah diidentifikasi sebagai penyebab utama BBLR di Indonesia. Beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap kejadian BBLR meliputi:

Perilaku Merokok Studi ini menemukan bahwa ibu hamil yang memiliki kebiasaan merokok setiap hari memiliki risiko 1,45 kali lebih tinggi untuk melahirkan bayi BBLR dibandingkan ibu yang tidak merokok. Selain itu, paparan asap rokok pasif juga menjadi faktor risiko yang perlu mendapat perhatian khusus.

Kekurangan Nutrisi Ibu hamil yang tidak dapat mengonsumsi makanan bergizi secara rutin memiliki kemungkinan 1,2 kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Kekurangan nutrisi selama kehamilan berdampak langsung pada pertumbuhan janin dan meningkatkan risiko kelahiran prematur.

Usia Ibu Saat Melahirkan Usia ibu yang terlalu muda (<21 tahun) atau terlalu tua (>35 tahun) saat melahirkan meningkatkan kemungkinan melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Studi menunjukkan bahwa ibu yang melahirkan di usia lebih dari 35 tahun memiliki risiko 1,18 kali lebih besar mengalami BBLR dibandingkan ibu yang melahirkan pada usia lebih muda.

Jarak Kelahiran yang Terlalu Dekat Jarak antar kelahiran yang kurang dari 33 bulan juga menjadi faktor risiko signifikan. Ibu yang memiliki jarak kehamilan terlalu dekat memiliki kemungkinan 1,12 kali lebih besar melahirkan bayi dengan BBLR.

Pendidikan Rendah dan Tinggal di Pedesaan Ibu dengan tingkat pendidikan rendah cenderung memiliki pemahaman yang terbatas mengenai pentingnya perawatan prenatal dan pola makan sehat. Di pedesaan, keterbatasan fasilitas kesehatan juga berkontribusi pada tingginya angka BBLR.
Hasil penelitian ini memberikan implikasi penting bagi kebijakan kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Beberapa rekomendasi yang dapat diterapkan untuk mengurangi angka BBLR di Indonesia antara lain:

Pemerintah perlu memperketat regulasi terkait kawasan bebas rokok, terutama di lingkungan keluarga, serta meningkatkan edukasi mengenai dampak buruk rokok terhadap kehamilan.

Program bantuan pangan dan edukasi gizi bagi ibu hamil, terutama di daerah pedesaan, sangat diperlukan untuk memastikan kecukupan nutrisi selama kehamilan.

Pemerintah perlu meningkatkan ketersediaan alat ukur antropometri, tenaga kesehatan, dan layanan kesehatan ibu dan anak di daerah pedesaan agar semua ibu hamil mendapatkan perawatan prenatal yang memadai.

Kampanye mengenai pentingnya perencanaan kehamilan dengan jarak yang aman (>33 bulan) dapat membantu mengurangi angka BBLR.

Meningkatkan akses pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi bagi perempuan di daerah pedesaan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan ibu dan anak.
BBLR masih menjadi tantangan besar dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Faktor utama seperti kebiasaan merokok, kekurangan nutrisi, usia ibu saat melahirkan, jarak kelahiran yang terlalu dekat, serta faktor pendidikan dan geografis berkontribusi terhadap tingginya angka BBLR. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berbasis kebijakan yang komprehensif untuk mengatasi masalah ini, termasuk peningkatan akses layanan kesehatan, edukasi gizi, serta kampanye anti-rokok bagi ibu hamil. Dengan langkah-langkah yang tepat, Indonesia dapat mencapai target penurunan angka kematian bayi dan meningkatkan kesehatan generasi mendatang.

Penulis: Yuli Puspita Devi, S.KM., M.K.M
Link artikel:

AKSES CEPAT