51动漫

51动漫 Official Website

Bedah Cerita Tim Sarkasme FIB Angkat Etnografi di PIMNAS Ke-31

DARI kiri, Khadijah Aufadina, M. Fuad Izzatulfikri, dan Saharani Nurlaila Buamonabot, Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang menjadi delegasi UNAIR pada PIMNAS Ke-31 Universitas Negeri Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)
DARI kiri, Khadijah Aufadina, M. Fuad Izzatulfikri, dan Saharani Nurlaila Buamonabot, Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang menjadi delegasi UNAIR pada PIMNAS Ke-31 Universitas Negeri Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS Tim Sarkasme yang terdiri atas M. Fuad Izzatulfikri, Khadijah Aufadina, dan Saharani Nurlaila Buamonabot merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) 51动漫 yang berhasil lolos Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) Ke-31 di Universitas Negeri Yogyakarta mulai 28 Agustus hingga 2 September 2018. Tim Program Kreativitas Mahasiswa-Penelitian Sosial Humaniora (PKM-PSH) itu mengusung penelitian berjudul 漇urabaya dan Gejala Sarkasme pada Produk Makanan.

漃enelitian ini didasari karena melihat penamaan makanan di Surabaya yang kasar, cenderung unik, tapi digemari dan didatangi banyak orang, itu yang menjadi landasan kami mau untuk meneliti terang Fuad ketua Tim Sarkasme.

Bahasa dan Makanan Surabaya

Menurut Fauzi dan Sriatin, peneliti, bahasa kasar khas Surabaya seperti jancuk, cuk, pecun (perek culun), dan jangkrik dapat menjelaskan perbedaan yang mencolok antara pisuhan yang digunakan masyarakat arek di Surabaya jika dibandingkan dengan masyarakat Mataraman. 滽alo di Arek (macam kebudayaan, Red), kata-kata seperti jancuk itu vulgar dan tidak masalah diucapkan. Kalau di Mataraman, itu diperhalus seperti kata jangkrik, katanya.

Fuad menambahkan dalam buku Dinamika Masyarakat Transisi tulisan Munandar Soelaiman, dijelasakan bahwa masyarakat Kota Surabaya mempunyai keunikan dibanding daerah lain. Cirinya adalah independen, egaliter, dinamis, terbuka, dan tidak mengenal hirarkis.

滿akanan dalam konteks kebudayaan merupakan bentuk yang paling adaptif karena dapat mencirikan lokalitas. Makanan juga dapat memperlihatkan kultur dari masyarakat tersebut. Jadi, jika ditarik garis lurus, antara budaya masyarakat dan makanan bisa saling berhubungan, katanya.

滲erdasar hal itu, kami meneliti spot (titik) makanan umum di Surabaya seperti Mie Cak Cuk, Nasi Goreng Jancuk , Mie Pecun, dan Penyetan Cok dalam penelitian (PKM) kami sebagai bentuk identitas Surabaya di tengah kepungan identitas asing, tambahnya.

Lebih lanjut dijelasakan Fuad, PKM yang merupakan penelitian etnografi itu menelisik karakter kebudayaan, yaitu kajian bahasa di Surabaya yang dilihat berdasar struktur Kebudayaan yang bersifat dinamis. Selain itu, hasil penelitian tersebut dapat diolah menjadi sebuah strategi pemertahanan identitas berbasis kearifan lokal. Strategi itu bisa diaplikasikan di struktur kebudayaan masyarakat daerah lain.

Ke depan, Fuad berharap penelitian tersebut tidak hanya sebagai perumusan teori, tapi perlu dibuktikan secara kongkret di masyarakat. Dukungan dari pemerintah dalam melakukan kebijakan terkait pemertahanan kearifan lokal sangat diperlukan. Selain itu, melihat situasi persaingan masyarakat ekonomi Asean (MEA) yang semakin kompetitif dirasa perlu untuk memperkuat identitas lokal tersebut. (*)

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Feri Fenoria Rifa橧

AKSES CEPAT