51动漫

51动漫 Official Website

Bedah Karya Alumnus FIB di Edinburgh, Angkat Isu Nelayan ke Panggung Internasional

Rusydan (kanan) dan Prof Tim Creswell (kiri) duduk di depan audiens dalam pemutaran film dokumenter karya Rusydan dan diikuti diskusi bersama
Pemutaran film dokumenter Seizing The Coast oleh Muhammad Rusydan di The University of Edinburgh (Foto: Dok. Narasumber)

UNAIR NEWS – Alumnus program studi Sastra Indonesia (FIB) 51动漫 (UNAIR) kembali menyumbangkan kontribusinya di kancah global. Muhammad Rusydan Mirwan Hadid membawa isu sosial nelayan di Kenjeran, Surabaya, terhadap proyek reklamasi pantai Surabaya Waterfront Land (SWL) ke panggung internasional. 

Melalui pemutaran perdana dokumenter berjudul Seizing The Coast yang ia produksi, Rusydan berupaya menawarkan sudut pandang yang berbeda dari narasi media lokal yang cenderung mengabaikan kehidupan masyarakat pesisir setempat. Pemutaran film yang diikuti dengan diskusi bertajuk Revaluing the Ocean Talks ini terselenggara di The University of Edinburgh. Berlangsung pada Jumat (7/11/2025), pemutaran film tersebut menghadirkan Profesor Tim Creswell, pakar geografi budaya. 

Inisiatif Rusydan lahir dari keprihatinan mendalam atas wacana pembangunan yang tidak berkeadilan di Kenjeran. Proyek reklamasi yang mengancam mata pencaharian dan tempat tinggal nelayan sejak kerap terbungkam oleh narasi tunggal.

淪elama ini, narasi perlawanan terhadap proyek SWL ini hampir tidak pernah terangkat oleh media arus utama di Surabaya. Akibatnya, pandangan masyarakat terhadap isu ini menjadi terpecah, padahal ada kehidupan nelayan yang sudah turun-temurun di sana, jelas Rusydan. Melalui dokumenternya, Rusydan ingin menegaskan bahwa ada kehidupan yang kaya dan kebudayaan yang tidak bisa direduksi dalam valuasi mata uang belaka.

Diskusi tersebut bertujuan memberikan simpati dan dukungan moral kepada masyarakat Kenjeran yang terus menghadapi tantangan terkait reklamasi. Selain itu, kegiatan ini menjadi platform kolaborasi untuk membahas pembangunan yang tidak hanya merusak alam, tetapi juga menghilangkan kebudayaan lokal.

淚ni adalah upaya untuk mengenalkan sisi lain Indonesia kepada dunia yang selama ini tidak dikenal, ujarnya. Ia percaya bahwa pengetahuan adalah alat tukar yang mampu menembus batas geografis dan menggerakkan solidaritas global. 

Dalam persiapan secara teknis, acara berfokus pada penyampaian pesan yang efektif. Dokumenter ini tidak hanya menyoroti perjuangan di Kenjeran, tetapi juga mengaitkannya dengan isu-isu pembangunan tak berkeadilan secara global. Harapannya, audiens internasional dapat lebih memahami kompleksitas isu di Indonesia, khususnya di Kenjeran.

Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT