UNAIR NEWS – Masalah sampah perkotaan masih menjadi pekerjaan rumah besar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di kawasan padat penduduk seperti Kota Surabaya. Minimnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumber menyebabkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terus menanggung beban yang kian berat. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mempercepat degradasi ekosistem perkotaan. Di tengah tantangan tersebut, peran generasi muda menjadi krusial dalam menghadirkan solusi edukatif yang membumi dan berkelanjutan.
Berangkat dari urgensi tersebut, mahasiswa BBK-7 51¶¯Âþ (UNAIR) Kelompok Kalijudan RW 6 menggagas program RAPIH (Ramah Pilah Sampah) yang dilaksanakan pada 25“26 Januari 2026 di RW 06 Kalijudan, Surabaya. Program ini menyasar anak-anak sekolah dasar yang tergabung dalam Kelompok Belajar SINAU BARENG sebagai upaya menanamkan kesadaran ekologis sejak dini. Kegiatan ini sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui edukasi lingkungan, SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui praktik pemilahan dan daur ulang sampah, SDGs 15 (Ekosistem Daratan) melalui pengurangan pencemaran lingkungan, serta SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi mahasiswa dan komunitas lokal.
Program RAPIH dirancang tidak berhenti pada penyampaian materi secara teoritis. Kegiatan dikemas secara interaktif agar mudah dipahami dan membekas bagi anak-anak. Rangkaian agenda meliputi sosialisasi pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, praktik pembuatan paper clay dari sampah kertas sebagai bentuk upcycling, hingga proses pewarnaan hasil karya yang melibatkan kreativitas peserta.
Pendekatan berbasis praktik ini dipilih untuk menunjukkan bahwa sampah, khususnya kertas, tidak selalu berakhir sebagai limbah tak berguna. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah dapat memiliki nilai guna baru sekaligus mengurangi tekanan terhadap lingkungan. Anak-anak tidak hanya diajak mendengar, tetapi juga mengalami langsung proses transformasi sampah menjadi produk bernilai.
Lebih dari sekadar kegiatan edukatif, program RAPIH menargetkan dampak jangka panjang berupa pembentukan pola pikir circular economy sejak usia dini. Perubahan perilaku yang dimulai dari anak-anak diharapkan mampu menular ke lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar, sehingga praktik memilah dan mengelola sampah dapat menjadi kebiasaan sehari-hari.
Melalui sinergi antara mahasiswa dan komunitas lokal, BBK-7 51¶¯Âþ (UNAIR) berupaya menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang aplikatif dan berkelanjutan, sekaligus menanamkan nilai kepedulian lingkungan sebagai fondasi masa depan yang lebih lestari.
Penulis: Vanyadhita Iglian





