UNAIR NEWS Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNAIR menyalakan puluhan lilin di depan patung Kampus MERR (C) UNAIR, Jumat (30/09/2022). Dalam serangkaian acara itu terlihat seluruh peserta duduk melingkar mengenakan pakaian serba hitam dengan lilin yang menyala di depannya.
Peringatan Mengenang Kelam September Hitam ini merupakan momentum sejarah yang harus mengingatkan kita bahwa beberapa tahun yang lalu keadilan di negeri tercinta ini dinodai oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Bisa kita ingat peristiwa semanggi, terbunuhnya munir, bahkan puncak tragis pahlawan-pahlawan bangsa tepat 30 September lalu yang dibantai oleh pasukan PKI, ujar Yoga Haryo, Presiden BEM UNAIR.
Yoga menyerukan kepada seluruh rekan-rekan mahasiswa yang turut hadir untuk tidak pernah melupakan peristiwa kelam itu. Hal itu, lanjutnya, justru harus menjadi awal perlawanan bagi mahasiswa untuk kembali menghidupkan dan menuntut keadilan yang belum tuntas.
Dengan adanya peringatan September hitam ini kita harus sadar dan membuka mata bahwa tidak ada keadilan yang akan ditegakkan jika tidak ada tuntutan yang disuarakan. Jadi mari kawan-kawan bukan saatnya lagi kita diam, lawan dengan cara kalian, imbuh Yoga.
Orasi dan Teatrikal Suara Jalang
Dalam serangkaian acara peringatan itu, tak hanya melantunkan sebuah doa namun satu per satu mahasiswa saling sahut menyahut menyerukan orasi-orasinya yang dikemas baik dalam bentuk puisi maupun teatrikal.
Tak terkecuali dengan salah satu tim teatrikal Suara Jalang yang membawakan satu pentas teater sebagai representasi keadaan dari Indonesia saat ini.
Keren banget si teater dengan mandi air darah dan penderitaan suara perempuan-perempuan yang menangis itu bukan hanya mengingat kejadian kelam saat istri-istri jenderal dibantai habis-habisan, tapi lain dari pada itu teater ini seolah mencerminkan bahwa saat ini banyak suara-suara masyarakat kecil yang diabaikan dan suara orang-orang yang membela kebenaran juga dibungkam oleh beberapa oknum, ujar Avin salah satu mahasiswa yang turut menyaksikan teatrikal.
Menutup serangkaian acara seluruh mahasiswa dipimpin oleh Yoga memberikan pernyataan sikap menuntut menuntaskan penegakan keadilan kepada korban-korban kejahatan pelanggaran HAM.
Penulis: Rosita
Editor: Nuri Hermawan





