Dangdut Koplo bukan sekadar hiburan, namun juga medium untuk belajar bahasa Jawa. Sebagai salah satu sub-genre musik populer di Indonesia, Dangdut Koplo mendapatkan penerimaan yang luas di masyarakat. Di samping jenis musiknya yang memang tinggal telan, beberapa lirik lagu dangdut Koplo menggunakan bahasa Jawa. Pilihan bahasa lirik ini semakin mempererat pertalian musik dangdut dengan orang Jawa, terutama kalangan menengah ke bawah. Para pendengar tidak perlu memutar otak untuk memahami lagu dangdut yang dilantunkan dalam bahasa Jawa tersebut. Dengan demikian, baik alunan musik maupun lirik mudah sekali diresapi oleh penggemar Jawanya.
Kemudahan yang ditawarkan oleh Dangdut Koplo ini menjadi kenyamanan dalam berbahasa, terutama bagi keturunan diaspora Jawa di luar Jawa, dalam hal ini di Sumatera Selatan. Etnis Jawa di provinsi ini menempati posisi tertinggi di kalangan etnis non-lokal. Hingga tahun 2010, terdapat lebih dari 27% populasi orang Jawa di Sumatera Selatan. Di sisi lain, angka tersebut menunjukkan bahwa secara umum etnis Jawa tidak mendominasi di kawasan tersebut. Kondisi ini menyulitkan etnis Jawa dalam mempertahankan budaya dan bahasanya di luar lingkungan keluarga.
Terdapat perbedaan kemampuan berbahasa Jawa pada generasi milenial diaspora Jawa di Sumatera Selatan. Di kota kecil yang masih dihuni oleh banyak diaspora Jawa seperti di Banyuasin, yang merupakan salah satu basis transmigran asal Jawa, eksistensi bahasa Jawa masih kuat, minimal di lingkungan keluarga. Sementara di kota besar, seperti di Palembang, proporsi penggunaan bahasa Jawa di kalangan diaspora Jawa sangat minim. Tantangan besar yang dihadapi oleh generasi milenial ialah kehilangan identitas Jawa terkait kemampuan berbahasa ibu.
Namun, kesulitan ini dapat ditemukan solusinya dengan perkembangan dunia komunikasi dan informasi. Munculnya berbagai platform aplikasi termasuk spotify memberi kemungkinan pemertahanan bahasa Jawa pada generasi mileial. Generasi millennial kerap terikat dengan gadget dan menggemari hiburan termasuk musik Aplikasi spotify lazim digunakan untuk penyebaran musik, termasuk Dangdut Koplo. Pada posisi inilah Dangdut Koplo dapat menjadi solusi dalam pelestarian bahasa Jawa untuk generasi milenial diaspora Jawa di Sumatera Selatan.
Dangdut Koplo populer dalam ruang dengar masyarakat di Sumatera Selatan. Berbagai lirik lagu dangdut sudah biasa diperdengarkan dalam berbagai kesempatan. Masyarakat (Jawa) setempat sangat akrab dengan lagu-lagu tersebut karena lirik-liriknya seakan mewakili kehidupan sehari-hari mereka, seperti masalah tumbuhnya cinta, penghianatan cinta, patah hati, dan sebagainya. Judul-judul lagu di antaranya Satru, Widodari, Klebus, Kok iso yo banyak disukai oleh generasi milenial. Generasi milenial yang biasanya merasa rendah manakala berbahasa Jawa, berkat popularitas lagu-lagu Dangdut Koplo ini mereka menjadi percaya diri dalam dalam berbahasa Jawa dan dengan nyaman melantunkan lagu berbasa Jawa dari Dangdut Koplo ini.
Oleh karena adanya rentang jarak dan waktu dalam berbahasa Jawa sebagai bukan generasi pertama diaspora Jawa, tidak sedikit kata-kata dalam lirik lagu Dangdut Koplo berbahasa Jawa ini yang tidak diketahui oleh generasi milenial. Kesulitan ini dapat diatasi dengan dibuatnya platform spotify yang memberikan alih bahasa dan interpretasi lagu dalam bahasa Jawa tersebut ke dalam bahasa Indonesia atas beberapa lirik lagu Dangdut Koplo. Platform yang dapat diakses secara daring di https://www.radioindonesia.org/podcasts/kidung-koplo ini menjadi sasaran rujukan bagi para milenial Jawa di Sumatera Selatan. Menurut hasil analitik podcast spotify, sejak platform ini diluncurkan pada Agustus 2021 sudah terjadi 1.297 kali pemutaran. Ini menjadi indikasi adanya antusiasme untuk tidak hanya menikmati lagu Dangdut Koplo, namun juga upaya untuk memahami lagu tersebut melalui platform ini. Alhasil, generasi milenial diaspora Jawa di Sumatera Selatan merasa sangat terbantu dan senang sekali karena dapat secara utuh memahami lirik lagu Dangdut Koplo yang kerap disenandungkan.
Di sinilah dapat difahami bahwa musik itu tidak semata hiburan. Bahkan, musik Dangdut Koplo yang terkesan membawa pendengarnya terbius dalam hentakan gendang dan lagu ternyata tidak semata hiburan. Musik pun mampu menjadi sarana edukasi dan pemertahanan bahasa. Bahasa Jawa yang digunakan oleh etnis Jawa terutama di luar Jawa ternyata masih dapat dijaga kelestariannya dengan memasukkannya dalam platform yang banyak digemari oleh generasi milenial. Inovasi ini dapat dikembangkan pada diaspora Jawa di berbagai tempat di seluruh dunia. Tidak menutup kemungkinan bahwa inovasi ini pun dapat digunakan oleh diaspora berbagai etnis Indonesia yang menyebar di berbagai belahan dunia.
Penulis: Johny Alfian Khusyairi
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Mozaik Humaniora Vol. 23 (2): 292-305





