51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Bijak Mencermati Kandungan Natrium pada Produk Makanan Snack Camilan Asin Agar Tetap Sehat

Ilustrasi snack kemasan pengganti menu MBG (Foto: d-onenews.com)
Ilustrasi snack kemasan pengganti menu MBG (Foto: d-onenews.com)

Natrium merupakan zat gizi esensial yang berperan menjaga homeostasis tubuh seperti keseimbangan cairan, asam basa, tekanan osmotik, menstabilkan potensial membran sel, transpor aktif melewati membran sel, serta berperan pada pertumbuhan sel. Namun, konsumsi natrium berlebihan akan menimbulkan permasalahan kesehatan seperti hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan obesitas. Data epidemiologi menunjukkan bahwa hampir seluruh populasi dunia pada semua golongan usia mulai dari anak sampai lansia mengonsumsi natrium melebihi kecukupan. Untuk negara Indonesia memiliki rata-rata asupan garam harian sekitar 6,6 g atau lebih tepatnya 2674 mg natrium. Hal ini menunjukkan bahwa sebanyak 52,7% penduduk Indonesia mengkonsumsi lebih dari 5 g garam maupun 2000 mg natrium per hari.

Bahan makanan tinggi natrium banyak terdapat pada bahan tambahan seperti saus, kecap, bumbu penyedap, serta snack asin yang umumnya mengandung garam tinggi. Snack asin seperti kerupuk, keripik, dan stik renyah termasuk camilan komersial praktis yang digemari berbagai usia serta menjadi salah satu kategori camilan paling populer. Bahkan terdapat penelitian yang menunjukkan keripik menempati tiga besar camilan terbanyak yang dikonsumsi. Beberapa negara telah menetapkan kebijakan dalam membatasi asupan natrium termasuk negara Indonesia melalui regulasi pembatasan garam sebesar 1 sendok teh (5 gr) atau setara denagan 2000 mg Natrium. Bagaimanapun studi analisis kandungan natrium pada produk kemasan snack asin yang beredar di pasaran belum pernah dilakukan.

Hasil penelitian menunjukkan teridentifikasi jenis kategori snack asin meliputi keripik, snack riingan, stik & kerupuk, dan kacang-kacangan. Rata-rata kandungan natrium pada 32 produk snack asin mencapai 1081,5 mg dengan mayoritas 500“1000 mg/100 g dan memenuhi hingga 50% kebutuhan harian serta melebihi anjuran untuk selingan. Berdasarkan regulasi Chili (400 mg/100 g), 31 produk snack asin di Indonesia melebihi batas sementara menurut sistem label warna Inggris sebagian besar masuk kategori sedang hingga tinggi.

Produk snack asin komersial cukup banyak beredar di pasaran dan umumnya mengandung natrium cukup tinggi. Peraturan pelabelan produk bertujuan untuk membantu konsumen memahami kandungan gizi, membatasi asupan natrium, serta mendorong industri menghadirkan produk lebih sehat, misalnya dengan menurunkan kadar natrium, mengurangi porsi kemasan, menghentikan produksi tinggi natrium. Penting memperhatikan kandungan gizi khususnya natrium pada produk snack asin dalam memperhatikan kebutuhan natrium maupun garam harian serta diperlukan penerapan peraturan maupun undang-undang terkait pelabelan pembatasan natrium pada produk snack asin di Indonesia. Inovasi healthy snack yang dapat diterima dan diminati masyarakat tanpa mengkesampingkan nilai gizi harus terus diupayakan

Penulis: Dr. Farapti, dr., M.Gizi dan Meisya Ayu Pradana, S,.Gz

Informasi lebih lengkap dari penelitian dapat diakses pada:

https://e-journal.unair.ac.id/AMNT/article/view/70102/34001

Meisya Ayu Pradana, Farapti Farapti, Zulfitri ˜Azuan Mat Daud. (2025). 

Analysis of Sodium Content in Commercially Salty Snack and its Contribution to Daily Salt Intake: A Market Survey in East Surabaya. Amerta Nutrition, 9(3), 538-544. DOI 10.20473/amnt.v9i3.2025.538-544.

AKSES CEPAT