51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Biofilm pada Pipa Pernapasan Pasien Kritis: Ancaman Tersembunyi di Balik Penggunaan Klorheksidin

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Pada pasien kritis yang dirawat di unit perawatan intensif (ICU), pemasangan pipa pernapasan atau endotracheal tube (ETT) merupakan tindakan yang tidak dapat dihindari. Namun, keberadaan alat medis ini ternyata dapat menjadi tempat ideal bagi bakteri untuk tumbuh dan membentuk biofilm. Biofilm adalah kumpulan mikroorganisme yang melekat kuat pada permukaan dan terlindungi oleh lapisan matriks, sehingga sulit dibersihkan dan lebih kebal terhadap obat. Biofilm pada ETT berperan penting dalam terjadinya pneumonia terkait ventilator yang sering memperburuk kondisi pasien. Salah satu upaya pencegahan yang umum dilakukan adalah perawatan kebersihan mulut menggunakan larutan klorheksidin. Meskipun dikenal sebagai antiseptik efektif, manfaat klorheksidin dalam mencegah pembentukan biofilm pada permukaan ETT masih diperdebatkan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis bakteri yang melekat pada ETT, tingkat pembentukan biofilm, serta kaitannya dengan lamanya penggunaan ETT pada pasien kritis.

Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan mengambil sampel ETT dari pasien dewasa yang menjalani ventilasi mekanik di ICU. Semua pasien telah mendapatkan perawatan kebersihan mulut menggunakan klorheksidin 0,2% setiap delapan jam sesuai protokol. Setelah ETT dilepas, bagian luar yang terpapar rongga mulut dipotong secara steril dan diperiksa di laboratorium mikrobiologi. Identifikasi bakteri dilakukan melalui metode kultur roll-plate, sedangkan pembentukan biofilm dinilai menggunakan uji mikroplate dengan pembacaan kepadatan optik. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk menilai jenis bakteri, kekuatan biofilm, serta hubungannya dengan durasi penggunaan ETT.

Dari 41 ETT yang diperiksa, ditemukan 67 isolat bakteri dengan sebagian besar menunjukkan kemampuan membentuk biofilm. Sekitar 85% isolat terbukti positif membentuk biofilm, yang menandakan tingginya risiko kolonisasi bakteri meskipun pasien telah mendapatkan perawatan kebersihan mulut rutin. Bakteri Gram-negatif mendominasi temuan, dengan Klebsiella pneumoniae sebagai spesies terbanyak, diikuti oleh Pseudomonas aeruginosa dan Acinetobacter baumannii. Ketiga bakteri ini dikenal memiliki kemampuan tinggi untuk bertahan hidup di lingkungan rumah sakit dan membentuk biofilm yang kuat. Biofilm yang dihasilkan umumnya berada pada kategori sedang hingga kuat, terutama pada bakteri Gram-negatif. Sementara itu, bakteri Gram-positif seperti Staphylococcus koagulase-negatif juga menunjukkan kemampuan membentuk biofilm meskipun jumlahnya lebih sedikit. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lamanya penggunaan ETT dengan tingkat kekuatan biofilm. Hal ini mengindikasikan bahwa pembentukan biofilm dapat terjadi sejak awal pemasangan ETT dan tidak selalu meningkat seiring waktu.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa biofilm pada ETT merupakan masalah serius yang tidak sepenuhnya dapat dicegah hanya dengan penggunaan klorheksidin. Bakteri Gram-negatif yang dominan memiliki berbagai mekanisme virulensi seperti pembentukan pili, produksi eksopolisakarida, dan sistem komunikasi antar bakteri yang memperkuat struktur biofilm. Biofilm ini melindungi bakteri dari respons imun tubuh dan membuatnya lebih tahan terhadap antibiotik maupun antiseptik. Ketidakterkaitan antara durasi penggunaan ETT dan tingkat biofilm menegaskan bahwa proses kolonisasi terjadi sangat cepat, bahkan dalam waktu singkat setelah intubasi. Selain itu, kondisi pasien kritis yang mengalami penurunan sistem imun turut menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan biofilm. Penggunaan klorheksidin yang berulang juga diduga berkontribusi pada munculnya resistensi bakteri, sehingga efektivitasnya semakin berkurang. Oleh karena itu, hasil ini memperkuat kebutuhan untuk meninjau kembali strategi pencegahan infeksi, termasuk pemilihan antiseptik, rotasi agen pembersih, serta pengembangan pendekatan tambahan untuk menghambat pembentukan biofilm pada alat medis.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan biofilm pada permukaan luar ETT tetap tinggi meskipun pasien telah menjalani perawatan kebersihan mulut dengan klorheksidin 0,2%. Mayoritas bakteri yang ditemukan mampu membentuk biofilm dengan kekuatan sedang hingga kuat, terutama dari kelompok Gram-negatif. Tidak ditemukannya hubungan antara lama penggunaan ETT dan tingkat biofilm menandakan bahwa biofilm dapat terbentuk sejak fase awal pemasangan. Temuan ini menegaskan keterbatasan klorheksidin sebagai satu-satunya strategi pencegahan dan menyoroti perlunya pendekatan yang lebih komprehensif untuk mengurangi risiko infeksi pada pasien dengan ventilasi mekanik.

Penulis: Dr. Bambang Pujo Semedi, dr., SpAn-TI., Subsp. TI(K)., Subsp. An. Ped(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Rizkiya P, Semedi BP, Kusuma E, Widodo ADW. Bacterial profile and biofilm intensity on endotracheal tubes following chlorhexidine use in critically ill patients. Crit Care Shock. 2025;28(5):207“214.

AKSES CEPAT