51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Biomarker Otak untuk Prognosis Cedera Otak Traumatik: Peran NSE, S100B, GFAP, dan MBP

Biomarker Otak untuk Prognosis Cedera Otak Traumatik: Peran NSE, S100B, GFAP, dan MBP
Sumber: Mitra Keluarga

Cedera otak traumatik (Traumatic Brain Injury/TBI) didefinisikan sebagai perubahan fungsi atau patologi otak yang disebabkan oleh kekuatan eksternal. Perubahan tersebut mencakup periode kehilangan atau penurunan tingkat kesadaran, hilangnya memori antegrad atau retrograd, defisit neurologis, atau perubahan kondisi mental. Berdasarkan data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) selama 10 tahun terakhir, terdapat 521“823 kasus TBI per 100.000 orang setiap tahun yang memerlukan rawat inap, dengan tingkat kematian sekitar 17“18 kasus per 100.000 orang setiap tahun. Di Indonesia, menurut Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018, cedera kepala menempati peringkat ketiga dari jenis cedera berdasarkan bagian tubuh yang terdampak. Salah satu penyebab utama TBI di Indonesia adalah kecelakaan lalu lintas, di mana sebanyak 23,9% masyarakat tidak menggunakan helm saat berkendara.

Patofisiologi TBI dimulai dengan “primary insult” akibat trauma fisik langsung, yang kemudian diikuti oleh “secondary insult” akibat respons inflamasi yang memperburuk kerusakan otak. Penelitian telah menunjukkan bahwa biomarker kerusakan otak dapat digunakan sebagai alat evaluasi prognostik. Salah satu biomarker tersebut adalah Neuron Specific Enolase (NSE), protein struktural sistem saraf pusat yang meningkat untuk mempertahankan homeostasis ketika terjadi kerusakan aksonal. Selain itu, S100B dan Glial Fibrillary Acidic Protein (GFAP) dilepaskan selama kerusakan sel glial, sementara Myelin Basic Protein (MBP) menjadi penanda kerusakan aksonal.

Penelitian ini menggunakan strategi pencarian sistematis dengan basis data seperti PubMed, Science Direct, dan Scopus hingga Januari 2024. Kata kunci yang digunakan adalah “Neuron Specific Enolase” atau “NSE”, “Glial Fibrillary Acidic Protein” atau “GFAP”, “Myelin Basic Protein” atau “MBP”, “S100”, dan “traumatic brain injury” atau “TBI”. Kriteria inklusi mencakup penelitian observasional pada pasien dengan TBI yang diambil sampel darahnya untuk analisis biomarker NSE, S100B, GFAP, dan MBP, serta ketersediaan data hasil seperti status kelangsungan hidup atau hasil klinis (baik atau buruk). Artikel dengan komorbiditas lain, dalam bahasa selain Inggris, hanya berupa abstrak, atau duplikat, dikecualikan.

Dua peneliti melakukan pencarian dan ekstraksi artikel secara independen, sementara dua lainnya menyaring artikel dan mengevaluasi duplikasi. Artikel yang memenuhi kriteria dievaluasi menggunakan Newcastle-Ottawa Scale dengan skor minimal 7 untuk memastikan kualitas. Analisis statistik dilakukan untuk menilai heterogenitas antar studi menggunakan uji I². Model efek acak digunakan jika p < 0,05, sementara model efek tetap digunakan jika tidak ada heterogenitas. Uji Egger dilakukan untuk mengidentifikasi bias publikasi. Perangkat lunak Review Manager versi 5.4 dan Comprehensive Meta Analysis versi 3 digunakan untuk analisis meta. Data ini memungkinkan evaluasi biomarker NSE, S100B, GFAP, dan MBP sebagai indikator prognostik dan kelangsungan hidup pada TBI.

Sebanyak 23 studi dianalisis sesuai dengan protokol PRISMA untuk mengevaluasi peran biomarker NSE, S100B, GFAP, dan MBP pada pasien cedera otak traumatik (TBI). Studi ini menemukan bahwa kadar NSE, S100B, dan GFAP lebih tinggi pada pasien dengan hasil prognostik buruk dan tingkat kelangsungan hidup yang rendah (p < 0,001 untuk semua biomarker). MBP menunjukkan hasil signifikan dalam kelangsungan hidup (p < 0,001) tetapi tidak signifikan untuk hasil prognostik (p = 0,35). NSE, yang dilepaskan ke serum setelah kerusakan neuronal, menjadi penanda utama kerusakan neuron. S100B, yang berasal dari astrosit, mencerminkan cedera astroglial dan berkorelasi dengan tingkat keparahan TBI. GFAP, protein filamen intermediate astrosit, meningkat secara signifikan pada pasien non-survivor. MBP, sebagai penanda cedera mielin, menunjukkan puncak kadar serum 48“72 jam setelah cedera, merefleksikan kerusakan aksonal jangka panjang.

Penelitian ini menunjukkan bahwa NSE, S100B, dan GFAP dapat digunakan untuk memprediksi hasil prognostik dan tingkat kelangsungan hidup pasien TBI, sementara MBP lebih relevan untuk prediksi kelangsungan hidup. Meskipun biomarker ini menawarkan wawasan berharga, heterogenitas tinggi antar studi dan kurangnya perbandingan langsung antara biomarker menjadi keterbatasan utama. Penelitian di masa depan perlu memasukkan subkelompok usia dan jenis cedera untuk menghasilkan hasil yang lebih spesifik dan relevan secara klinis.

Kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan bahwa biomarker Neuron Specific Enolase (NSE), S100B, dan Glial Fibrillary Acidic Protein (GFAP) memiliki nilai signifikan untuk memprediksi hasil prognostik dan kelangsungan hidup pada pasien cedera otak traumatik (TBI). Kadar biomarker ini lebih tinggi pada pasien dengan hasil buruk atau tingkat kelangsungan hidup rendah. Sementara itu, Myelin Basic Protein (MBP) menunjukkan relevansi yang lebih kuat sebagai penanda kelangsungan hidup dibandingkan nilai prognostik. Meskipun biomarker ini memberikan wawasan penting, heterogenitas tinggi antarstudi dan kurangnya penelitian yang secara langsung membandingkan biomarker menjadi keterbatasan utama. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk memasukkan subkelompok usia, jenis cedera, dan meta-analisis yang membandingkan biomarker secara langsung. Hasil ini diharapkan dapat membantu pengembangan metode diagnostik dan prognostik yang lebih akurat untuk TBI, khususnya di daerah dengan fasilitas terbatas.

Penulis: Dr. Prananda Surya Airlangga., dr., M.Kes., SpAn-TI., Subsp. TI(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Sutrisno WA, Airlangga PS, Kencono Wungu CD, Kriswidyatomo P, Hamzah, Semedi BP, et al. The Role of Neuron Specific Enolase, S100B, Glial Fibrillary Acidic Protein, and Myelin Basic Protein as Prognostic and Survival Values in Traumatic Brain Injury: Systematic Review and Meta-analysis. Vol. 16, Pharmacognosy Journal. EManuscript Technologies; 2024. p. 478“84.

AKSES CEPAT