Cedera otak traumatik (Traumatic Brain Injury/TBI) mengganggu fungsi otak yang dapat disebabkan oleh benturan atau cedera penetrasi. Pada tahun 2019, CDC mencatat 223.135 kasus rawat inap terkait TBI di Amerika Serikat. Di Asia, insiden TBI mencapai 344 per 100.000 populasi pada tahun 2013. Berdasarkan Riskesdas 2018, cedera kepala menyumbang 11,79% dari 1.678 kasus trauma di Indonesia. Di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, tercatat rata-rata 1.178 kasus TBI per tahun dengan angka kematian sebesar 6,17-11,22% pada periode 2009 hingga 2013.
Pasien TBI akut membutuhkan evaluasi dan stabilisasi cepat. Evaluasi awal dan berkala menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS) membantu menentukan terapi dan prognosis. CT scan non-kontras merupakan standar emas untuk pencitraan awal pada pasien dengan penurunan kesadaran karena dapat mengidentifikasi patologi intrakranial yang memerlukan intervensi bedah segera. Namun, keputusan untuk melakukan CT scan sering kali sulit karena keterbatasan seperti paparan radiasi, kebutuhan transportasi pasien, biaya tinggi, dan waktu yang diperlukan, yang dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis.
Oleh karena itu, diperlukan metode diagnostik sederhana, aman, dan mudah diakses bagi pasien TBI. Pemeriksaan biomarker merupakan salah satu alternatif, di mana biomarker yang sensitif dan spesifik sangat penting untuk diagnosis dan prognosis penyakit. Ubiquitin Carboxy-terminal Hydrolase L1 (UCH-L1) adalah biomarker protein yang banyak diteliti pada TBI. UCH-L1 melimpah di badan sel saraf otak dan dilepaskan ke cairan serebrospinal ketika terjadi kerusakan sel saraf. Biomarker ini telah terbukti memiliki tingkat akurasi tinggi dalam memprediksi temuan CT scan pada berbagai tingkat keparahan GCS. Berdasarkan hal ini, penelitian ini mengevaluasi hubungan kadar UCH-L1 dalam darah dengan keparahan TBI menggunakan GCS dan Rotterdam CT Score.
Penelitian ini merupakan studi diagnostik dengan desain cross-sectional untuk mengevaluasi hubungan kadar UCH-L1 dalam darah dengan keparahan cedera otak traumatik (TBI) berdasarkan Glasgow Coma Scale (GCS) dan Rotterdam CT Score. Penelitian dilakukan pada 41 pasien TBI berusia 18-50 tahun yang datang ke Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Soetomo dalam waktu 3-24 jam setelah cedera. Sampel darah diambil untuk mengukur kadar UCH-L1 menggunakan metode ELISA. Keparahan TBI dinilai berdasarkan GCS yang mengelompokkan pasien menjadi kategori ringan, sedang, dan berat, serta dilakukan CT scan untuk menilai struktur otak menggunakan Rotterdam CT Score (skor 1-6). Data dianalisis menggunakan SPSS versi 29. Uji Shapiro-Wilk dilakukan untuk menentukan normalitas data. Uji korelasi Pearson digunakan untuk data normal, sementara uji Spearman diterapkan untuk data yang tidak terdistribusi normal. Hasil analisis digunakan untuk memahami hubungan UCH-L1 dengan tingkat keparahan TBI.
Penelitian ini melibatkan 41 pasien dengan cedera otak traumatik (TBI) yang sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (68,3%) dan rata-rata berusia 35,63 ± 13,26 tahun. Mayoritas kasus disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (87,8%) dan sisanya akibat jatuh (12,2%). Komorbiditas yang ditemukan meliputi hipertensi (29,3%), diabetes mellitus tipe 2 (4,9%), dan obesitas derajat 1 (9,8%). Analisis menunjukkan kadar rata-rata UCH-L1 sebesar 0,522 ± 0,592 ng/mL dengan nilai cutoff >0,2057, yang mengindikasikan TBI sedang hingga berat. Uji Spearman menunjukkan hubungan signifikan antara kadar UCH-L1 dan Rotterdam CT Score (p < 0,05, r = 0,661), di mana kadar UCH-L1 yang lebih tinggi berkorelasi dengan skor Rotterdam CT yang lebih tinggi, menandakan tingkat keparahan cedera otak yang lebih berat. Selain itu, analisis menunjukkan hubungan signifikan antara kadar UCH-L1 dan keparahan TBI berdasarkan Glasgow Coma Scale (GCS) (p < 0,05, r = 0,705). Pasien dengan TBI berat memiliki kadar UCH-L1 yang lebih tinggi (0,7624 ± 0,7535) dibandingkan pasien dengan TBI sedang (0,3575 ± 0,2556) dan ringan (0,1866 ± 0,0668). Hasil ini menunjukkan bahwa kadar UCH-L1 dapat mencerminkan tingkat kerusakan neuronal dan berpotensi menjadi biomarker praktis untuk diagnosis TBI. Temuan ini mendukung penggunaan UCH-L1 sebagai alat tambahan untuk meminimalkan penggunaan CT scan yang tidak perlu, terutama pada pasien dengan risiko rendah.
Kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kadar serum UCH-L1 dengan keparahan cedera otak traumatik (TBI) berdasarkan Glasgow Coma Scale (GCS) dan Rotterdam CT Score. Kadar UCH-L1 yang lebih tinggi ditemukan pada pasien dengan TBI berat dibandingkan dengan TBI sedang dan ringan. Rotterdam CT Score juga menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi dalam memprediksi TBI sedang hingga berat dibandingkan kadar UCH-L1. UCH-L1 berpotensi menjadi biomarker yang efektif untuk menilai keparahan TBI, mengurangi kebutuhan penggunaan CT scan, dan mendukung diagnosis serta manajemen yang lebih cepat pada pasien TBI.
Penulis: Dr. Prananda Surya Airlangga., dr., M.Kes., SpAn-TI., Subsp. TI(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Manurung JK, Airlangga PS, Hamzah H, Kriswidyatomo P, Sensusiati AD, Utomo B. The Relationship Between Blood Levels of Ubiquitin Carboxyterminal Hydrolase L1 (UCH-L1) Protein and the Severity of Traumatic Brain Injury Based on the Glasgow Coma Scale and Rotterdam CT Score. Pharmacognosy Journal . 2024 May 1;16(3):695“9.





