Diabetes mellitus (DM) adalah gangguan metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia, polidipsia, dan polifagia. Kondisi ini memengaruhi metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak akibat kekurangan insulin atau penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin. Prevalensi DM terus meningkat secara global, dari 4,7% pada tahun 1980 menjadi 8,5% pada tahun 2014. Diperkirakan 425 juta orang di seluruh dunia menderita DM, dengan angka yang diprediksi meningkat menjadi hampir 700 juta pada tahun 2045. Indonesia menempati peringkat ketujuh di dunia untuk jumlah kasus DM, menjadikannya masalah kesehatan utama dengan prevalensi 6,2% di populasi dewasa dan salah satu penyebab utama kematian.
Pada pasien diabetes, luka sering kali sulit sembuh karena terganggunya proses polarisasi makrofag. Biasanya, makrofag bergeser dari fenotipe M1 (proinflamasi) ke M2 (antiinflamasi) selama penyembuhan luka. Namun, pada diabetes, dominasi M1 yang berkepanjangan menghambat angiogenesis dan menurunkan sintesis kolagen, yang mengakibatkan penyembuhan luka yang lambat dan tidak optimal. Hal ini meningkatkan risiko komplikasi seperti infeksi, dehiscence luka, dan pembentukan jaringan parut yang buruk. Penelitian ini bertujuan menganalisis ekspresi protein CD86 (penanda M1) dan CD163 (penanda M2) di area luka insisi pada model tikus diabetes. Studi ini diharapkan dapat memberikan wawasan tentang bagaimana polarisasi makrofag memengaruhi proses penyembuhan luka dan mendukung pengembangan strategi untuk meningkatkan penyembuhan luka pada pasien diabetes.
Penyembuhan luka melibatkan tiga fase utama: inflamasi, proliferasi, dan remodeling. Fase inflamasi dimulai dengan hemostasis, di mana bekuan darah terbentuk untuk menghentikan perdarahan. Sel imun, seperti neutrofil dan makrofag, bermigrasi ke lokasi luka untuk membersihkan jaringan yang rusak dan mencegah infeksi. Dalam fase proliferasi, neovaskularisasi dan regenerasi epitel berlangsung, disertai pembentukan jaringan granulasi oleh fibroblas dan keratinosit. Pada fase remodeling, kolagen tipe III digantikan oleh kolagen tipe I untuk mengembalikan struktur kulit yang normal.
Makrofag memainkan peran penting dalam penyembuhan luka melalui mekanisme polarisasi. Makrofag M1, yang dipicu oleh sitokin Th1 seperti IFN-γ dan TNF-α, memiliki sifat proinflamasi yang mendukung fagositosis dan eliminasi patogen. Sebaliknya, makrofag M2 diinduksi oleh sitokin Th2 seperti IL-4 dan IL-13, yang memiliki sifat antiinflamasi, mendorong angiogenesis, deposisi kolagen, dan regenerasi jaringan. Ketidakseimbangan antara M1 dan M2 dapat menghambat penyembuhan luka.
Pada pasien diabetes, proses penyembuhan luka terganggu karena dominasi makrofag M1 yang berkepanjangan. Hiperglikemia memicu peningkatan sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-6, dan IL-1β, yang memperpanjang fase inflamasi dan menghambat transisi ke fenotipe M2. Akibatnya, angiogenesis dan deposisi matriks ekstraseluler terganggu, sehingga memperlambat penyembuhan luka. Selain itu, makrofag pada luka diabetes cenderung mengalami fenotipe senesens yang mengurangi kemampuan regeneratifnya.
Penelitian ini menyoroti pentingnya mengoptimalkan polarisasi makrofag dari M1 ke M2 untuk mempercepat penyembuhan luka, khususnya pada pasien diabetes. Intervensi yang menargetkan jalur molekuler seperti STAT6 dan NF-κB berpotensi meningkatkan transisi ini, yang mendukung regenerasi jaringan yang lebih cepat dan efektif.
Kesimpulannya, polarisasi makrofag memainkan peran penting dalam proses penyembuhan luka, di mana transisi dari fenotipe M1 (proinflamasi) ke M2 (antiinflamasi) diperlukan untuk mendukung regenerasi jaringan. Pada pasien diabetes, transisi ini terganggu, sehingga memperpanjang fase inflamasi dan menghambat proses angiogenesis serta deposisi kolagen. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekspresi protein CD86 (penanda M1) tetap tinggi, sementara ekspresi protein CD163 (penanda M2) terhambat pada luka tikus diabetes. Ketidakseimbangan ini menyebabkan penyembuhan luka yang lambat dibandingkan dengan kelompok kontrol non-diabetes. Hasil ini menegaskan bahwa dominasi makrofag M1 menjadi faktor utama dalam gangguan penyembuhan luka pada diabetes.
Intervensi yang menargetkan jalur molekuler untuk mengoptimalkan transisi dari M1 ke M2 dapat menjadi strategi potensial untuk meningkatkan penyembuhan luka pada pasien diabetes. Studi ini memberikan wawasan penting tentang mekanisme polarisasi makrofag dan mendukung penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan terapi berbasis molekuler yang lebih efektif.
Penulis: Dr. Prananda Surya Airlangga., dr., M.Kes., SpAn-TI., Subsp. TI(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Chrisdianto A, Airlangga PS, Susilo I, Iskandar RPD. Expression of M1 and M2 protein around incision wound area during wound healing process on mice model for diabetes mellitus. Journal of Medicinal and Pharmaceutical Chemistry Research. 2025 Jan 1;7(1):135“49.





