Teknologi biosorpsi digunakan untuk menghilangkan kontaminan, terutama polutan anorganik, dari lingkungan perairan. Teknologi ini melibatkan pengikatan dan penyerapan ion logam oleh biomassa, yang membantu menghilangkan polutan dari larutan air. Proses ini meliputi adsorpsi fisik, kompleksasi, pertukaran ion, dan mekanisme pengendapan, sehingga efektif dalam mengurangi konsentrasi ion logam berat dengan cara yang hemat biaya. Mikroorganisme, baik yang hidup maupun yang tidak hidup, digunakan sebagai biosorben, dengan bakteri yang umumnya digunakan untuk remediasi logam berat dalam pengolahan air limbah.
Bakteri epifit memainkan peran penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman di lingkungan yang tercemar, terutama dengan adanya ion logam. Bakteri ini dapat membantu tanaman dalam mengatasi efek toksik dari polusi melalui berbagai mekanisme, seperti pembentukan fitohormon. Enzim yang dihasilkan oleh bakteri ini berkontribusi pada metabolisme zat pengatur tumbuh, yang berdampak pada pengelolaan limbah dan strategi pencegahan polusi seperti fitoremediasi. Memasangkan bakteri epifit yang tahan terhadap logam berat dengan tanaman telah menunjukkan harapan dalam meningkatkan remediasi polutan, terutama dalam menghilangkan logam berbahaya dari lokasi yang terkontaminasi. Potensi spesies rizobakteri epifit dari tanaman asli Malaysia untuk strategi bioaugmentasi dalam fitoremediasi air limbah yang terkontaminasi timbal dan tembaga sedang dieksplorasi.
Penelitian ini difokuskan pada isolasi spesies rizobakteri epifit dari sistem perakaran tanaman S. grossus dan L. articulata yang dikumpulkan dari daerah padang alang-alang dan Danau Chini di Malaysia. Sampel tanaman disimpan dalam kantong steril dan diangkut ke laboratorium untuk analisis lebih lanjut dalam waktu enam jam setelah pengumpulan. Isolasi bakteri epifit dilakukan dengan membilas akar tanaman, membedahnya menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, dan menginkubasinya dalam kaldu nutrisi. Bakteri kemudian dikultur pada media nutrient agar untuk diidentifikasi. Berat kering sel bakteri diukur pada titik waktu yang berbeda, dan kemampuan biosorpsi mereka terhadap timbal dan tembaga diselidiki dengan menginokulasi mereka dengan konsentrasi logam berat yang berbeda dan menganalisis larutan pengikatnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lap(1+2)1 menunjukkan kapasitas bioakumulasi yang lebih tinggi untuk Pb dibandingkan dengan Cu, mencapai 100% dalam waktu satu jam untuk Pb dan 36% dalam waktu empat jam untuk Cu. Demikian pula, Lap(1+2)2 menunjukkan kemampuan biosorpsi yang lebih baik untuk Pb dibandingkan dengan Cu, dengan Pb mencapai 100% bioakumulasi pada 50 ppm dalam waktu satu jam pertama, sedangkan Cu mencapai 31% pada jam pertama dan 52% setelah empat jam. Penelitian ini menyoroti potensi bakteri epifit ini sebagai biosorben yang efektif untuk meremediasi area yang tercemar Pb dan Cu.
Selain itu, kapasitas biosorpsi Sc(1+2)1 dan Sc(1+2)2 dalam menghilangkan logam berat (Pb dan Cu) dari larutan berair dengan konsentrasi awal mulai dari 50 hingga 400 ppm juga dilakukan. Kapasitas bioakumulasi diukur pada 0,1 g berat kering, dan hasilnya menunjukkan bahwa Sc(1+2)1 dan Sc(1+2)2 efektif dalam biosorpsi Pb dan Cu. Hasil percobaan menunjukkan bahwa Sc(1+2)1 memiliki kapasitas bioakumulasi yang lebih tinggi untuk Pb dibandingkan dengan Cu, dengan Pb mencapai akumulasi 100% pada konsentrasi awal 50 ppm dalam waktu satu jam pertama, sedangkan Cu terakumulasi 36% pada konsentrasi awal yang sama. Efisiensi biosorpsi dianalisis secara statistik, yang menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam kapasitas biosorpsi berdasarkan konsentrasi awal dan waktu kontak.
Penelitian ini menyoroti kemanjuran spesies rizobakteri epifit dari tanaman Malaysia dalam menghilangkan Pb dan Cu. Bakteri ini memiliki potensi untuk strategi bioaugmentasi dalam fitoremediasi air limbah yang terkontaminasi logam. Penelitian lebih lanjut mengenai aplikasi bakteri epifit dalam remediasi polusi diperlukan.
Penulis: Muhammad Fauzul Imron
Artikel dapat diakses pada:





