51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Metode Penguatan Pembelajaran Melalui Kompetisi bagi Mahasiswa Kedokteran

Mahasiswa termuda UNAIR
(Dari Kiri) Muhammad Faiz Awwaaluddin Al Mubarok, Andreas Novaldi Watang, dan Chaq El Chaq Zamzam Multazam di Fakultas Kedokteran UNAIR. (Foto: Nuri Hermawan)

Seiring dengan perkembangan zaman, tantangan yang dihadapi oleh dunia kedokteran semakin kompleks. Untuk menjawab tantangan tersebut, perlu adanya reformasi pada sistem pendidikan kedokteran untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan profesional. Saat ini, kurikulum yang paling sering digunakan adalah kurikulum berbasis integrasi. Kurikulum tersebut terbukti mampu meningkatkan antusiasme dan partisipasi aktif mahasiswa kedokteran dalam proses pembelajaran. Penerapan kurikulum berbasis integrasi dinilai efektif meningkatkan kemampuan penyelesaian masalah, meningkatkan pemahaman terhadap konsep, mendorong proses belajar yang mandiri, meningkatkan kemampuan analisis, serta menjembatani ilmu kedokteran dasar dan ilmu kedokteran klinis.

Dalam proses pembelajaran, kurikulum ini menerapkan metode Problem Based Learning (PBL) yang dikembangkan oleh Universitas McMaster pada tahun 1969. Dalam pelaksanaannya, metode PBL melibatkan 8-10 mahasiswa kedokteran sebagai satu kelompok dan seorang tutor yang berperan sebagai fasilitator. Setiap kelompok akan membahas dan menyelesaikan suatu studi kasus yang berhubungan dengan penyakit sistem organ tertentu. Proses pembelajaran kelompok menjadikan metode PBL dinilai efektif tidak hanya untuk meningkatkan pengetahuan di bidang kedokteran, namun juga meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memimpin, berkolaborasi, dan melatih komunikasi efektif. Kemampuan untuk bekerja dalam sebuah tim sangat krusial untuk dimiliki para calon dokter agar mampu memberikan pelayanan kesehatan yang unggul.

ILUSTRASI mahasiswa kedokteran membaca buku. (Foto: Istimewa)
ILUSTRASI mahasiswa kedokteran membaca buku. (Foto: Istimewa)

Kompetisi berpotensi memberikan sejumlah aspek positif dalam proses penguatan pembelajaran mahasiswa kedokteran. Berdasarkan sejumlah penelitian yang telah dilakukan, lingkungan pembelajaran yang kompetitif terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi belajar sehingga mahasiswa mampu memperoleh nilai ujian yang lebih memuaskan. Partisipasi mahasiswa dalam kompetisi juga mampu meningkatkan kreativitas mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu dan keterampilan medis yang telah didapatkan. Selain itu, partisipasi mahasiswa dalam kompetisi dapat meningkatkan nilai tawar pada portofolio mereka sehingga memudahkan mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan pada program magister atau program pendidikan dokter spesialis.

Oleh karena itu, kami melakukan telaah pustaka dengan yang berfokus pada metode pembelajaran melalui kompetisi untuk penguatan pembelajaran didalam maupun diluar kurikulum bagi mahasiswa kedokteran. Telaah pustaka ini dilakukan dengan menggunakan artikel penelitian yang menyampaikan temuan terkait partisipasi mahasiswa kedokteran dalam suatu kompetisi.

Artikel-artikel tersebut diperoleh melalui Pubmed, Science Direct, dan grey literature pada tanggal 20 November 2023 dengan menggunakan kata kunci sebagai berikut: kompetisi, mahasiswa kedokteran, proses pembelajaran, pendidikan kedokteran. Berdasarkan pencarian, terdapat enam artikel yang mencantumkan secara detail mengenai aspek positif dari partisipasi mahasiswa kedokteran dalam sejumlah kompetisi kedokteran.

Partisipasi mahasiswa dalam kompetisi terbukti mampu mengubah cara pandang mahasiswa terhadap bidang yang diujikan menjadi lebih positif. Contohnya, partisipasi mahasiswa kedokteran dalam suatu kompetisi public speaking di bidang Psikiatri terbukti telah meningkatkan minat mahasiswa kedokteran untuk mengeksplorasi bidang Psikiatri. Partisipasi dalam kompetisi bedah di Rusia juga memberikan hasil yang serupa, peserta dalam kompetisi tersebut mengakui bahwa minat mahasiswa terhadap ilmu bedah semakin meningkat. Sejumlah partisipan bahkan mengakui dengan mengikuti kompetisi tersebut membuka wawasan dan meningkatkan minat untuk melanjutkan ke spesialisasi bedah sebagai pilihan karirnya. Penelitian lain yang melibatkan mahasiswa kedokteran peserta kompetisi keterampilan klinis

turut memberikan hasil serupa. Para peserta menyatakan bahwa partisipasi mereka dalam kompetisi mampu meningkatkan minat terhadap bidang-bidang yang diujikan. Kompetisi bahkan dinilai memiliki peran untuk memberikan perubahan dalam sistem pendidikan kedokteran dan mendorong peningkatan kualitas alat peraga atau manekin yang umumnya digunakan dalam ujian keterampilan klinis/Objective Structured Clinical Examination (OSCE).

Kompetisi juga dapat berperan sebagai suatu sarana evaluasi bagi para pesertanya. Melalui keikutsertaan dalam kompetisi, mahasiswa kedokteran dapat mengetahui area mana saja yang menjadi kelemahan dan kekuatan mereka. Partisipasi dalam kompetisi juga dapat dilihat sebagai momentum bagi peserta untuk saling berkenalan dan membangun jejaring antara peserta yang berasal dari institusi yang beragam.

Penerapan pembelajaran berbasis kompetisi dalam proses pembelajaran di kelas masih sangat terbatas. Akan tetapi, kurikulum tersebut sangat berpotensi untuk dapat diterapkan karena efektivitasnya dalam meningkatkan motivasi dan hasil ujian akhir mahasiswa. Penerapan kurikulum ini dapat meningkatkan antusiasme mahasiswa dalam proses pembelajaran dengan memicu insting berkompetisi antar tiap mahasiswa. Sejumlah studi telah menyatakan bahwa implementasi kompetisi dalam proses belajar di kelas secara efektif meningkatkan pemahaman dan memberikan luaran yang lebih baik.

Sebagai kesimpulan, kompetisi merupakan suatu kegiatan ekstrakurikuler yang efektif dalam meningkatkan motivasi belajar dan melatih sejumlah soft skill bagi mahasiswa kedokteran. Dengan berpartisipasi dalam suatu kompetisi, mahasiswa berkesempatan untuk mengevaluasi tingkat pemahaman mereka terhadap bidang yang dilombakan. Pembelajaran berbasis kompetisi dapat diterapkan dalam metode pembelajaran intrakurikulum. Hal ini dapat lebih menjadi pelengkap dalam metode pembelajaran konvensional pada kurikulum mahasiswa kedokteran.

Penulis: Raden Argarini dan Mohamad Nizar Maulana (Dosen di Departemen Fisiologi dan mahasiswa program studi kedokteran Fakultas Kedokteran 51¶¯Âþ)

Informasi lebih detail mengenai penelitian kami dapat dilihat pada tautan berikut:

Mohammad Nizar Maulana, Agde Muzaky Kurniawan, Raden Argarini, Rimbun, dan Eka Arum Cahyaning Putri. Competition-based learning in medical school: A literature review. World Journal of Advanced Research and Reviews, 2024, 21(01), 1197“1201

AKSES CEPAT