51动漫

51动漫 Official Website

Bisakah Penderita Penyakit Kronis mencapai Flourishing?

Sumber: Alodokter

Penelitian terbaru mengungkapkan pentingnya pendekatan holistik dalam mendukung individu dengan penyakit kronis agar dapat berkembang dan mencapai kualitas hidup yang optimal. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Health Psychology Research Volume 12:126453 yang dipublikasikan bulan Desember 2024 oleh Amherstia Pasca Rina, Endang R. Surjaningrum, dan Triana Kesuma Dewi dari 51动漫 ini menyoroti berbagai faktor biologis, psikologis, dan sosial yang memengaruhi kemampuan pasien untuk “flourishing” atau berkembang meskipun menghadapi tantangan penyakit kronis.
Penyakit kronis, seperti diabetes, hipertensi, kanker, dan lupus, menjadi tantangan kesehatan global, termasuk di Indonesia. Data menunjukkan bahwa prevalensi penyakit kronis di Indonesia terus meningkat. Stroke menyumbang 56% dari kasus, diabetes 23%, dan hipertensi 32%. Sementara itu, angka pasti untuk penyakit autoimun seperti lupus masih sulit dipastikan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik tetapi juga menciptakan kerentanan mental dan sosial yang signifikan. Faktor gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, kurang aktivitas fisik, dan konsumsi makanan tidak bergizi, menjadi penyebab utama yang memperburuk situasi.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bagaimana faktor biologis, psikologis, dan sosial saling berkontribusi untuk menciptakan kondisi flourishing pada pasien penyakit kronis. Flourishing sendiri didefinisikan sebagai keadaan kesejahteraan yang berkelanjutan, di mana individu dapat menjalani hidup yang bermakna, fungsional, dan seimbang meskipun menghadapi keterbatasan.
Secara biologis, penelitian ini menemukan bahwa praktik seperti olahraga ringan, yoga, dan mindfulness dapat membantu pasien mengelola kondisi mereka. Kesehatan fisik yang terjaga melalui aktivitas tersebut berkontribusi langsung pada pengurangan gejala dan peningkatan kualitas hidup. Selain itu, pemulihan secara mandiri攕eperti mengelola rasa sakit dan kelelahan tanpa intervensi medis langsung攋uga memainkan peran penting. Kegiatan sehari-hari yang dilakukan secara konsisten dapat meningkatkan rasa percaya diri dan fungsi diri pasien.
Dari aspek psikologis, resilience (ketahanan diri), optimisme, dan kemampuan mengatur emosi menjadi faktor pelindung utama. Pasien yang mampu mengembangkan kapasitas ini lebih cenderung melihat tantangan sebagai peluang untuk berkembang, bukan hambatan. Sebaliknya, stres, depresi, dan rasa kesepian menjadi risiko yang harus diatasi agar pasien tidak semakin terpuruk. Pengelolaan emosi melalui praktik seperti bersyukur dan fokus pada momen saat ini terbukti efektif dalam mendukung kesehatan mental mereka.
Aspek sosial juga memainkan peran yang tidak kalah penting. Dukungan keluarga, teman, dan komunitas menjadi elemen kunci dalam menciptakan lingkungan yang mendukung. Penelitian ini menemukan bahwa hubungan sosial yang positif tidak hanya memberikan bantuan praktis, tetapi juga menciptakan rasa keterhubungan yang mendalam. Interaksi dengan sesama pasien atau kelompok pendukung dapat membantu individu merasa diterima dan termotivasi untuk menjalani perawatan.
Penelitian ini melibatkan analisis terhadap 19 studi yang dipublikasikan antara 2010 hingga 2024, dengan menggunakan pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan metode campuran. Hasilnya menunjukkan bahwa flourishing pada pasien penyakit kronis adalah hasil dari interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan sosial. Setiap faktor saling mendukung untuk menciptakan kondisi yang lebih baik bagi pasien.
Meskipun temuan ini memberikan wawasan berharga, penelitian ini juga menggarisbawahi tantangan yang masih ada. Salah satunya adalah kurangnya akses terhadap layanan kesehatan mental dan fisik yang terintegrasi, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Stigma terhadap masalah kesehatan mental juga menjadi hambatan bagi pasien untuk mencari bantuan yang mereka butuhkan.
Dalam konteks kebijakan kesehatan, penelitian ini menyarankan pentingnya pendekatan holistik untuk mendukung pasien penyakit kronis. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pengobatan fisik, tetapi juga mencakup intervensi psikologis dan sosial. Misalnya, menyediakan program olahraga yang terjangkau, layanan konseling mental, dan kelompok pendukung komunitas dapat menjadi solusi yang efektif.
Penulis penelitian juga mengusulkan perlunya penelitian lanjutan untuk mengeksplorasi lebih dalam faktor budaya yang memengaruhi flourishing, terutama di negara-negara dengan keberagaman budaya seperti Indonesia. Hal ini penting untuk memastikan bahwa intervensi yang dirancang sesuai dengan konteks lokal.
Dengan mengadopsi pendekatan biopsikososial, pasien penyakit kronis dapat mencapai kesejahteraan yang lebih baik. Penelitian ini menjadi pengingat bahwa kesehatan bukan hanya tentang tidak adanya penyakit, tetapi tentang bagaimana individu dapat berkembang dan hidup dengan penuh makna meskipun menghadapi tantangan. Temuan ini memberikan harapan baru bagi jutaan orang di seluruh dunia yang hidup dengan penyakit kronis, sekaligus menjadi panduan bagi pembuat kebijakan dan penyedia layanan kesehatan untuk menciptakan sistem yang lebih inklusif dan mendukung.

Penulis: Endang Retno Surjaningrum, Fakultas Psikologi UNAIR

Referensi:
Rina AP, Surjaningrum ER, Dewi TK. Biological, Psychological, And Social Factors Of Flourishing In Chronic Diseases: A Systematic Review Of Research. Health Psychol Res. 2024 Dec 14;12:126453. doi: 10.52965/001c.126453. PMID: 39687280; PMCID: PMC11646797.

AKSES CEPAT