51

51 Official Website

Gentle Parenting Perlu Batasan, Ini Pandangan Pakar UNAIR

Ilustrasi Gentle Parenting. (Sumber: Freepik)
Ilustrasi Gentle Parenting. (Sumber: Freepik)

UNAIR NEWS – Beragam pola asuh anak kerap menjadi perdebatan mengenai mana yang paling tepat. Belakangan ini, pola asuh gentle parenting ramai menjadi buah bibir, khususnya di kalangan generasi Z. Menanggapi fenomena tersebut, pakar psikologi 51 (UNAIR), Dr Nur Ainy Fardana N MSi Psikolog menegaskan bahwa gentle parenting bukan sekadar pola asuh lembut, melainkan pendekatan yang menuntut keseimbangan antara empati, komunikasi, dan ketegasan batasan.

Dr Nur menjelaskan bahwa gentle parenting merupakan pendekatan yang menekankan hubungan hangat dan penuh empati antara orang tua dan anak, tanpa mengandalkan pendekatan hukuman keras. Tujuannya bukan hanya membuat anak patuh, tetapi membantu mereka berkembang secara emosional, sosial, dan moral dengan kesadaran diri. Pendekatan ini berfokus pada lima prinsip utama, yakni empati, komunikasi yang penuh hormat, disiplin tanpa kekerasan, kesadaran emosi, serta konsistensi dengan batasan yang jelas, ungkapnya. 

Pakar Psikologi 51, Dr Nur Ainy Fardana N MSi (foto: Istimewa)
Pentingnya Empati dan Komunikasi

Dr Nur menekankan bahwa empati dan komunikasi bukan sekadar pelengkap dalam gentle parenting. Tanpa keduanya, pendekatan ini berisiko berubah menjadi permisif atau kembali pada pola otoriter. Dalam perspektif psikologi perkembangan, perilaku anak berkaitan erat dengan tahap emosi dan kognitifnya. Empati membantu orang tua memahami apa yang terjadi di balik perilaku anak, sementara komunikasi menjadi sarana untuk membimbing dan mengarahkan. Keduanya harus berjalan beriringan agar memberikan dampak jangka panjang, seperti kemampuan anak dalam mengendalikan diri, terbentuknya internalisasi nilai, serta hubungan yang terbuka antara orang tua dan anak, jelasnya. 

Menurutnya, gentle parenting berbeda dengan pola asuh yang mengandalkan hukuman atau disiplin keras. Dalam pendekatan ini, anak dipandang sebagai individu yang sedang belajar mengelola emosi dan perilaku. Oleh karena itu, fokusnya terletak pada pembentukan kesadaran, empati, dan regulasi diri jangka panjang melalui komunikasi, validasi emosi, serta batasan yang konsisten. Mengakui emosi anak, namun tetap mengarahkan perilakunya. Sebaliknya, dalam disiplin keras, anak dituntut patuh terhadap aturan orang tua. Perilaku yang dianggap salah dipandang sebagai ketidaktaatan yang harus dikoreksi secara tegas, sering kali melalui bentakan, ancaman, maupun hukuman fisik atau verbal. Emosi anak pun kerap dianggap sebagai gangguan yang harus segera dihentikan, imbuhnya.

Potensi Gentle Parenting

Sejalan dengan itu, Dr Nur menegaskan bahwa gentle parenting dapat membantu anak menjadi mandiri dan percaya diri karena mereka dibimbing memahami diri, emosi, serta konsekuensi secara konsisten, bukan dibiarkan tanpa aturan. Hal ini dapat tercapai apabila pendekatan tersebut berjalan dengan empati sekaligus batasan yang jelas. Namun, ia mengingatkan bahwa penerapan gentle parenting tidak selalu mudah. Pendekatan ini menuntut kesadaran diri, konsistensi, serta energi emosional yang besar dari orang tua, tegasnya.

Secara keseluruhan, gentle parenting dapat menjadi strategi efektif dalam jangka panjang, meskipun bukan tanpa kelemahan. Pendekatan ini mampu menumbuhkan kemandirian, kepercayaan diri, empati, serta regulasi emosi anak karena sejalan dengan pola asuh authoritative. Pengasuhan ini menekankan aspek afeksi untuk membangun komunikasi dan empati dengan anak, pesannya. 

Penulis: Putri Andini

Editor: Ragil Kukuh Imanto 

AKSES CEPAT