51动漫

51动漫 Official Website

Blackleg: Penyakit Mematikan dengan Penyebab Tersembunyi

Ilustrasi Penyakit Blackleg (Sumber: Irish Farmers Journal)
Ilustrasi Penyakit Blackleg (Sumber: Irish Farmers Journal)

Blackleg adalah penyakit menular yang terutama menyerang sapi dan jarang menyerang ruminansia lainnya. Kondisi ini ditandai dengan miositis hemoragik. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Gram-positif anaerobik Clostridium chauvoei, yang tumbuh subur di tanah sebagai spora yang kuat. Penyakit blackleg pertama kali dilaporkan pada tahun 1870, tetapi bakteri penyebab C. chauvoei baru dideskripsikan pada tahun 1887. Spora C. chauvoei dapat bertahan hidup selama bertahun-tahun di dalam tanah. Selain itu, spora tersebut tahan terhadap disinfektan kimia, panas, dingin, kekeringan, dan sinar UV. Hewan mengonsumsi spora melalui makanan mereka, yang diyakini berjalan melalui sistem pencernaan, memasuki aliran darah, lalu menuju ke berbagai otot dan organ tempat mereka tinggal hingga terangsang untuk menyebabkan penyakit.

Spora C. chauvoei dapat berkembang menjadi bakteri aktif di dalam inang hewan, menghasilkan eksotoksin kuat yang merusak jaringan lokal dan seringkali mengakibatkan toksemia. Produksi gas di jaringan hewan, yang dikenal sebagai pembengkakan emfisematosa, merupakan ciri khas penyakit blackleg. Pembengkakan biasanya memengaruhi otot-otot besar termasuk leher, bahu, paha, dan pinggul. Pembengkakan terasa nyeri dan panas. Lebih lanjut, infeksi yang sering menyerang ruminansia ditandai dengan nekrosis jantung dan otot lurik, yang sering mengakibatkan kematian mendadak. Gas dapat terasa di bawah kulit jika tonjolan tersebut terkompresi. Hewan biasanya menunjukkan gejala dalam 12 hingga 48 jam. Hewan biasanya ditemukan mati tanpa menunjukkan tanda-tanda penyakit sebelumnya.

Prevalensi penyakit blackleg pada ruminansia telah menurun drastis karena penggunaan vaksinasi dan antibiotik yang tersedia dan efisien. Penyakit blackleg paling umum terjadi pada sapi muda berusia antara 6 bulan dan 2 tahun. Hal ini disebabkan oleh kolostrum yang tidak memberikan kekebalan pasif yang cukup kepada sapi muda terutama anak sapi dari sapi dara. Lebih lanjut, sapi yang berusia lebih dari 2 tahun jarang terjangkit penyakit ini, kemungkinan besar sebagai akibat dari perlindungan yang ditimbulkan oleh vaksinasi atau paparan alami.

Meskipun demikian, beberapa kejadian memang terjadi pada anak sapi yang berusia lebih dari 2 tahun, dan sering dikaitkan dengan penggunaan jarum suntik yang sering. Tidak ada kontak langsung antara hewan yang sakit dan sehat yang menyebarkan penyakit ini. Penyakit menular yang parah ini mempengaruhi ruminansia di seluruh dunia dan mengakibatkan kerugian finansial yang besar bagi industri peternakan terutama sapi. Penyakit blackleg merupakan risiko persisten bagi ternak yang belum divaksinasi atau yang telah menerima vaksinasi di bawah standar karena prevalensi spora C. chauvoei di dalam tanah. Akibatnya, wabah penyakit ini lebih umum terjadi pada ternak yang imunisasinya diabaikan, tetapi tetap saja terkadang terjadi pada ternak yang divaksinasi. Artikel ulasan ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum pengetahuan terkini mengenai penyakit blackleg, termasuk penyebab, gejala, diagnosis, pencegahan, dan pengobatannya.

Penyakit blackleg biasanya menyerang sapi yang tidak divaksinasi antara usia 6 bulan dan 2 tahun yang berada dalam kondisi gizi yang baik. Namun, beberapa kasus terisolasi telah didokumentasikan pada janin, hewan yang berusia lebih dari 2 tahun, dan anak sapi yang lebih muda. Dalam kasus yang jarang terjadi, penyakit blackleg pada sapi yang divaksinasi telah didokumentasikan.

Domba jarang mengalami penyakit blackleg. Pada domba, sangat penting untuk membedakan antara gangren gas yang terkait dengan patogenesis eksternal yang disebabkan oleh C. chauvoei dan patogenesis endogen yang disebabkan oleh blackleg, terutama pada kasus di mana portal masuk infeksi tidak diketahui.

Spesies hewan lain seperti kuda, gajah, ayam, rusa, cerpelai, dan burung unta, juga telah dilaporkan terinfeksi C. chauvoei. Penyebab infeksi ini pada hewan selain domba dan sapi masih belum sepenuhnya jelas. Manusia, anjing, kucing, dan kelinci diyakini kebal terhadap infeksi C. Chauvoei.

Meskipun kemampuan C. chauvoei untuk bereproduksi di tanah belum terbukti, sporanya dapat bertahan hidup di sana dalam jangka waktu yang lama dan faktor lingkungan tertentu, seperti suhu dan kelembapan yang tinggi, dapat membantu mereka bertahan hidup. Prevalensi penyakit blackleg berkaitan dengan jenis tanah, jumlah bahan organik yang ada, penggalian tanah, banjir, dan curah hujan tahunan. Hal ini menyoroti pentingnya kondisi-kondisi predisposisi ini dalam penularan spora C. chauvoei.

Sebagian besar kasus blackleg terjadi ketika hewan yang merumput di padang rumput yang terkontaminasi dipindahkan ke padang rumput baru setelah periode curah hujan yang tinggi. Yang lebih jarang, hewan yang dikandangkan terkena blackleg, kemungkinan besar akibat memakan pakan yang terkontaminasi spora. Curah hujan dan kejadian penyakit blackleg pada hewan penggembalaan saling berkaitan karena curah hujan tinggi menyebabkan kondisi tanah anaerobik yang mendorong pertumbuhan bakteri dan penyebaran spora yang luas.

Kemungkinan terjadinya penyakit blackleg merupakan pertimbangan penting dalam strategi manajemen dan pencegahan. Selain itu, program vaksinasi yang didanai dapat membantu meminimalkan kejadian penyakit blackleg dan akibatnya mengurangi polusi lingkungan yang disebabkan oleh spora C. chauvoei, terutama di lokasi berisiko tinggi. Vaksinasi blackleg harus menjadi kegiatan rutin di semua properti di tempat-tempat yang diketahui terdapat penyakit tersebut. Vaksinasi direkomendasikan untuk sapi yang rentan di daerah endemis. Karena kemungkinan infeksi menyebar melalui sapi mati yang mungkin menetap setelah banjir, hewan di daerah banjir atau di sepanjang aliran air juga harus menerima vaksinasi rutin. Anak sapi pedaging biasanya divaksinasi saat telinga mereka diberi cap, biasanya pada usia satu hingga empat bulan.

Pengendalian kasus penyakit blackleg melalui program surveilans resmi memerlukan koordinasi. Memberikan insentif untuk melaporkan insiden dapat mendorong peternak untuk melaporkan setiap insiden. Cara alternatif untuk mencegah dan mengendalikan penyakit blackleg mencakup praktik pengelolaan padang rumput khusus, seperti drainase buatan di padang rumput. Faktanya, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa kasus penyakit blackleg cenderung terkonsentrasi di wilayah dengan permeabilitas air rendah. Penyakit blackleg dapat dikendalikan dengan memusnahkan karkas dan membakar lapisan atas tanah untuk membasmi spora yang tersisa. Banyak spora tersebar oleh hewan pemakan bangkai, angin, dan hujan. Memindahkan ternak dari area yang terkontaminasi sangat penting untuk pengendalian blackleg. Ternak di padang rumput yang terdapat spora harus dipindahkan. Penyakit blackleg, yang terutama menyerang sapi akibat basil anaerobik C. chauvoei, menimbulkan risiko dan kerugian finansial yang signifikan bagi industri peternakan. Vaksinasi yang efektif telah mengurangi prevalensinya, tetapi wabah masih dapat terjadi, terutama pada hewan yang tidak divaksinasi secara memadai.

Penulis: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH.

Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:

AKSES CEPAT