Salmonella sp. adalah bakteri patogen Gram-negatif dan merupakan agen penyebab penyakit bawaan makanan yang paling umum ditemukan di seluruh dunia. Salmonella sp. dapat menyebabkan salmonellosis, penyakit zoonosis yang menyerang saluran pencernaan dengan tingkat penularan yang tinggi ke hewan dan manusia. Faktor virulensi pada Salmonella sp. merupakan salah satu penyebab tingginya insiden salmonellosis karena memungkinkan bakteri ini bertahan hidup di lingkungan yang tidak mendukung dan menyebabkan infeksi.
Salah satu faktor virulensi penting dari Salmonella adalah gen yang mengkode mgtC. Gen ini umumnya ditemukan pada serotipe Salmonella tertentu, terutama yang memiliki potensi patogenik yang lebih tinggi, seperti Salmonella enterica, yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia dan hewan. Transfer gen mgtC dapat terjadi melalui mekanisme transfer gen horizontal (HGT). Selain itu, gen mgtC juga dapat diwariskan melalui transfer gen vertikal selama pembelahan sel bakteri. Namun, HGT lebih umum terlibat dalam penyebaran gen ini di antara berbagai strain atau spesies Salmonella. Gen mgtC berperan penting dalam produksi protein mgtC, yang berfungsi mengikat enzim F1F0 ATP sintase. Dengan mengikat enzim ini, mgtC dapat mengurangi masuknya ion H+ ke dalam sel, sehingga membantu bakteri mempertahankan kadar ATP bahkan ketika konsentrasi magnesium (Mg虏+) intraseluler rendah. Keberadaan protein mgtC memungkinkan bakteri untuk bertahan hidup dan bereplikasi pada tingkat rendah di dalam sel fagosit. Tanpa mgtC, Salmonella tidak dapat bertahan hidup di lingkungan intraseluler yang penuh tekanan dengan kadar Mg虏+ yang rendah.
Salmonella sp. yang membawa gen virulensi mgtC cenderung lebih resisten terhadap stres intraseluler, memungkinkan untuk bertahan hidup dan bereproduksi dalam makrofag, tempat mereka seharusnya berfungsi untuk membunuh patogen. Selain faktor virulensi, resistensi antibiotik juga berperan dalam peningkatan jumlah kasus infeksi Salmonella sp. Signifikansi Salmonella sp. juga terkait dengan masalah kesehatan masyarakat yang timbul dari isolat yang resisten antibiotik (resistensi antimikroba) baik dalam pengobatan hewan maupun manusia.
Isolat Salmonella sp. yang ditemukan pada kulit telur telah menunjukkan resistensi terhadap antibiotik, dan isolat Salmonella sp. yang juga resisten terhadap beberapa antibiotik telah terdeteksi pada telur ayam di berbagai negara. Bakteri ini dapat berpindah dari kulit telur ke produk pangan, sehingga meningkatkan risiko infeksi pada konsumen. Salmonella sp. juga dapat bertahan hidup dan tumbuh di permukaan cangkang telur pada suhu rendah. Salmonella sp. terdeteksi pada cangkang telur selama musim hujan ketika tingkat kelembapan tinggi mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup mereka. Kontaminasi Salmonella sp. pada kulit telur juga dapat menyebar ke putih dan kuning telur karena bakteri ini mampu menembus pori-pori kulit telur.
Keberadaan gen mgtC pada Salmonella sp., yang resisten terhadap berbagai jenis antibiotik, merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global. Kemampuan bakteri ini untuk menghindari sistem imun dan resistensinya terhadap berbagai golongan antibiotik dapat meningkatkan risiko penyebaran infeksi pada manusia dan hewan. Kondisi ini berkontribusi pada peningkatan insiden penyakit yang disebabkan oleh Salmonella sp.
Kontaminasi Salmonella sp. pada telur tidak hanya kontaminasi lingkungan tetapi juga dapat ditularkan dari ayam petelur yang terinfeksi Salmonella. Salmonella sp. dapat menginfeksi ayam petelur dan ayam kampung melalui lingkungan, pakan, air minum, dan kontak dengan hewan atau manusia yang terinfeksi. Peternakan komersial berisiko tinggi karena kepadatan populasi, yang mempercepat penyebaran bakteri. Kontaminasi juga dapat berasal dari pakan dan air minum selama produksi atau distribusi. Transportasi dan stres lingkungan dapat melemahkan kekebalan ayam petelur dan meningkatkan risiko infeksi. Ayam kampung juga rentan terhadap infeksi, mereka sering berkeliaran di area terbuka dan terpapar bakteri dari tanah, air, atau kotoran hewan lainnya. Pakan yang tidak terjamin kebersihannya juga meningkatkan risiko kontaminasi. Kontaminasi Salmonella sp. pada kulit telur di pasar tradisional di Surabaya dipengaruhi oleh sanitasi yang buruk, lingkungan pasar yang kotor, serta pengangkutan dan penyimpanan yang tidak tepat.
Hasil isolasi dan identifikasi bakteri Salmonella sp. menunjukkan bahwa 27 dari 160 sampel usap kulit telur ayam petelur (15) dan ayam kampung (12) dari pasar tradisional Surabaya positif Salmonella sp. (16,87%). Sebanyak 8 isolat Salmonella sp. dalam penelitian ini menunjukkan sifat multidrug-resistant (MDR) sebesar 29,62% (8/27). Penggunaan antibiotik spektrum luas secara rutin juga merupakan faktor yang berkontribusi terhadap perubahan pola resistensi terhadap berbagai jenis antibiotik. Uji sensitivitas antibiotik menunjukkan bahwa isolat Salmonella sp. dari usapan kulit telur dari pasar tradisional di Surabaya memiliki pola MDR dengan berbagai kombinasi antibiotik. Pola resistensi bakteri dapat bervariasi di setiap wilayah karena perbedaan lingkungan dan tingkat penggunaan antibiotik. Penggunaan antibiotik spektrum luas secara rutin juga berkontribusi terhadap perubahan dalam pola resistensi.
Uji PCR menunjukkan bahwa gen mgtC terdeteksi pada tujuh dari delapan isolat yang dianggap MDR (87,5%). Keberadaan gen mgtC pada Salmonella sp., yang resisten terhadap berbagai obat, menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global. Kemampuan bakteri ini untuk menghindari sistem imun dan menimbulkan resistensi terhadap berbagai golongan antibiotik meningkatkan risiko penyebaran infeksi ke manusia dan hewan. Kondisi ini berkontribusi pada peningkatan insiden penyakit yang disebabkan oleh Salmonella sp.
Studi ini menemukan Salmonella sp. pada 27 dari 160 isolat (16,87%) cangkang telur ayam di Pasar Tradisional Surabaya, dengan delapan isolat (29,62%) merupakan MDR. Gen mgtC terdeteksi pada tujuh dari delapan isolat MDR (87,5%). Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keamanan pangan dan pemahaman petani tentang Salmonellosis sangatlah penting. Pencegahan dan pengendalian resistensi multiobat dapat dicapai melalui penggunaan antibiotik yang bijaksana. Penelitian ini memberikan wawasan deskriptif tentang fenomena yang diamati dalam sampel tetapi tidak menggunakan analisis statistik untuk menguji signifikansi perbedaan atau hubungan antar variabel. Oleh karena itu, hasil ini harus dianggap sebagai temuan awal yang bermanfaat. Namun, penting untuk dicatat bahwa generalisasi temuan ini ke populasi yang lebih luas memerlukan penelitian lebih lanjut dengan pendekatan statistik yang lebih mendalam.
Penulis: Dr. Wiwiek Tyasningsih, drh., Mkes.
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:





