UNAIR NEWS – Pagi itu, ruang kelas SDN Brumbun berubah menjadi bengkel mini yang ramai. Meja kayu dipenuhi tutup botol, sedotan, karet gelang, selotip, dan gunting yang berpindah dari tangan ke tangan. Anak-anak kelas 45 duduk berkelompok, menunduk serius seperti perancang kendaraan sungguhan, bedanya, bahan baku mereka adalah botol plastik bekas.
Program Blow N Go yang dilaksanakan pada Rabu, 21 Januari, mengajak mereka mengenal perubahan energi lewat pengalaman yang bisa disentuh dan dilihat: udara dalam balon yang dilepas berubah menjadi dorongan, lalu menjadi gerak mobil-mobilan. Setelah rangka botol dibentuk, empat tutup botol dipasang sebagai roda, dan tusuk sate dijadikan poros. Sedotan menjadi jalur udara, menuntun hembusan balon agar terarah. Ketika balon ditiup, anak-anak menyimpan 渆nergi tanpa mereka sadari. Saat jepitan dilepas, udara melesat, mobil pun meluncur.
Uji coba pertama selalu paling heboh. Ada mobil yang melesat lurus, ada yang berputar seperti kompas rusak, ada pula yang berhenti mendadak lalu membuat seluruh kelompok tertawa. Dari kegagalan itulah diskusi muncul: roda terlalu rapat, poros miring, selotip menempel ke roda, sedotan bocor, atau balon kurang kencang. Mereka memperbaiki desain, mengulang percobaan, lalu membandingkan hasil. Di lantai berubin, lintasan sederhana menjadi laboratorium: anak-anak mengukur jarak, mencatat, dan menyimpulkan hubungan antara dorongan udara, gesekan, serta arah gerak.
Kegiatan ini bukan sekadar 減raktik sains, tapi latihan berpikir. Mereka belajar bahwa gerak bisa diciptakan tanpa bahan bakar, dan barang bekas bisa diberi fungsi baru. Pada akhirnya, mobil-mobilan itu memang kecil攖etapi rasa ingin tahu yang dibangunnya terasa jauh lebih besar.
Penulis: Zinadine Zidan





