Jaringan lunak periodontal merupakan penentu penting estetika warna gingiva merah muda. Pengelolaan jaringan lunak yang menyelimuti setiap gigi sangat penting untuk desain senyuman yang estetis. Penggunaan blue print dapat membantu dalam menentukan profil pra-perawatan untuk gigi dan menciptakan senyuman optimal bagi pasien.
Seorang wanita berusia 27 tahun mengalami masalah estetika senyuman akibat gigi depan rahang atas yang berbentuk persegi, dan secara klinis gusi terlihat lebih luas. Pasien menuntut estetika dan meminta untuk dilkukan koreksi.
Penatalaksanaan kasus: Blue print jaringan lunak yang diikuti dengan wax-up dan template bedah individual dibuat sebelum Tindakan operasi untuk melihat usulan senyum masa depan. Pemanjangan mahkota estetik dilakukan dengan melakukan gingivektomi dengan menggunakan laser dioda. Instruksi kebersihan mulut diberikan selama masa penyembuhan.
Tuntutan estetika yang tinggi terhadap senyuman yang sempurna dapat dicapai dengan mengembangkan usulan estetika dan blue print berikutnya. Penggunaan templat bedah dapat membantu mendapatkan hasil yang tepat dan optimal.
Kata Kunci: blue print jaringan lunak; Gummy smile, pemanjangan mahkota secara estetis; hasil kesehatan
Pendahuluan
Kedokteran gigi terus berkembang dengan teknik dan bahan baru, namun keberhasilan pengobatan terutama didasarkan pada hal tersebut diagnosis dan perencanaan pengobatan [1]. Bagi pasien gummy smile, jaringan lunak periodontal merupakan hal yang penting penentu estetika warna merah muda. Pengelolaan jaringan lunak yang menyelimuti setiap gigi sangat penting untuk pemenuhan estetika desain senyum [2] Tuntutan estetika yang tinggi memerlukan keputusan klinis yang sulit mengenai hasil estetika akhir yang dikerjkan oleh operator, harus memvisualisasikan posisi akhir margin gingiva. Keputusan penting ini harus dibuat sebelum perawatan dilakukan. Mengkomunikasikan keputusan ini kepada pasien sangat penting sebelum mencapai keberhasilan klinis. Blue print merupakan salah satu media untuk berkomunikasi yang baik antara operator dan pasien. Penggunaan blue print dapat membantu dalam menentukan profil pra-perawatan untuk gigi dan menciptakan senyuman optimal bagi pasien [1].
Seorang perempuan berusia 27 tahun dengan keluhan gummy smile dirujuk ke Departemen Periodonsia 51动漫 untuk dilakukan evaluasi senyum yang tidak memuaskan. Pemeriksaan menunjukkan gigi 減ersegi dan garis bibir tinggi, yang menandakan mahkota tersebut prosedur pemanjangan dan kemungkinan reposisi bibir diperlukan untuk menciptakan senyum optimal. Daerah CEJ, pengukuran dilakukan selama sesi konsultasi, dan disimpulan bahwa reduksi tulang tidak diperlukan. Pasien mempunyai tuntutan estetika yang tinggi, oleh karena itu penggunaan blue print dapat membantu prosedur pembedahan untuk mendapatkan hasil yang tepat.
Rencana Perawatan
- Tahap I (pendidikan kesehatan gigi, scaling dan root planing)
- Tahap II (crown lengthening 13 23)
- Tahap IV (pemeliharaan).
Dilakukan pencetakan rahang atas yang diambil pada pertemuan pertama setelah evaluasi menyeluruh dan lengkap, menentukan diagnostiknya. Kemudian, template untuk tindakan bedah dibuat. Sebelum operasi, panduan bedah ditempatkan dimulut pasien untuk memastikan posisi duduk yang benar dan untuk memeriksa apakah tingkat margin gingiva yang diusulkan memenuhi tuntutan estetika dari dokter dan pasien. Pada saat tindakan operasi, panduan gingiva dimasukkan ke dalam mulut dan margin gingiva baru di sesuaikan dengan panduan yang ada dengan menggunakan laser dioda (Biolase EPIC) dengan anestesi lokal. Gingivektomi teknik ini dilakukan secara tepat menggunakan garis besar panduan bedah. Instruksi kebersihan mulut diberikan setelah prosedur. Evaluasi kesembuhan telah dilakukan pada hari ke-1, hari ke-7, dan hari ke-14.
Dalam beberapa tahun terakhir, tuntutan akan estetika dalam kedokteran gigi telah meningkat pesat karena meningkatnya kesadaran akan kecantikan. Dokter yang merawatpun semakin fokus pada pengelolaan dan rekonstruksi estetika warna merah muda [3]. Estetika yang kompleks kasus memerlukan keputusan klinis yang sulit mengenai hasil estetika akhir di mana operator harus memvisualisasikannya posisi margin gingiva dan gigi [1]. Keputusan penting ini perlu dibuat sebelum pengobatan diberikan.
Mengkomunikasikan keputusan ini kepada pasien sangat penting sebelum mencapai keberhasilan klinis. Kunci untuk memenuhi meningkatnya tuntutan estetika pasien adalah komunikasi antara semua pihak yang terlibat: pasien, dokter, dan teknisi. Untuk mencapai perpaduan yang harmonis dan alami antara gigi dengan jaringan di sekitarnya, berbagai aspek biologis, fungsional, dan aspek biomekanik harus ditangani sebelum operasi sehingga potensi masalah dapat diidentifikasi [4].
Komunikasi terkait estetika merupakan saluran yang baik, pemilihan estetika yang sesuai dengan acuan ini didasarkan pada empat keputusan berurutan seperti analisis dentofasial, pengembangan blue print, manajemen matriks, dan aplikasi template. Saat menggunakan template estetik, dokter harus mengetahui di mana tepi gusi harus ditempatkan berdasarkan analisis dentofasial. Analisis dentofasial kemudian harus dikomunikasikan ke laboratorium, dan kemudian blue print dikembangkan dari cetakan diagnostik. blue print estetika adalah sketsa senyuman terakhir pasien. A matriks kemudian dibuat dari cetak biru. 4 Template estetika adalah komunikator berharga yang dapat dimanfaatkan di kantor. Jelasnya, penggunaan template estetika yang efektif menunjukkan cara yang dapat dibalik untuk memvisualisasikan estetika yang sulit keputusan sebelum prosedur ireversibel diselesaikan [5].
Penulis: Prof. Dr. Chiquita Prahasanti S, drg., Sp.Perio.
Link:
Baca juga: Dampak Bencana Alam terhadap Energi Terbarukan di Asia





