51动漫

51动漫 Official Website

Brain Derived Neurotropic Factor sebagai Biomarker Non-invasif untuk Deteksi Endometriosis

Ilustrasi by Haibunda.com

Endometriosis adalah penyakit ginekologi progresif kronis yang bergantung pada estrogen. Penyakit ini dijumpai pada sekitar 10% wanita usia reproduksi. Sekitar 50% remaja wanita mengeluhkan nyeri panggul kronis, infertilitas, atau dismenore akibat endometriosis. Selain menyebabkan kesulitan punya anak atau yang dikenal dengan infertilitas, endometriosis seringkali juga menyebabkan nyeri yang mengganggu aktivitas dan fungsi sosial wanita endometriosis. Sampai saat ini dokter masih belum bisa menegakkan diagnosis endometriosis hanya berdasarkan keluhan, gejala, pencitraan maupun pemeriksaan laboratorium. Diagnosis pasti endometriosis adalah dengan melihat (inspeksi visual) secara langsung adanya endometriosis di rongga panggul melalui tindakan laparoskopi maupun pembedahan, yang memiliki banyak konsekuensi bagi pasien,  termasuk potensi komplikasi prosedur, biaya, dan keterbatasan sumber daya di sebagian besar negara berkembang. Hal ini menyebabkan keterlambatan dalam diagnosis dan pengobatan, yang berakibat perkembangan penyakit yang cepat dari waktu ke waktu. Di Amerika Serikat dan Inggris, interval antara gejala awal dan diagnosis masing-masing adalah 11 tahun 7 bulan dan 8 tahun, sehingga penemuan teknik diagnosis endometriosis yang andal dan non-invasif harus tetap menjadi perhatian utama.

Para ilmuwan telah melakukan banyak upaya untuk menemukan penanda baru untuk diagnosis endometriosis, mulai dari mencari sifat biokimia endometriosis di darah, cairan peritoneal, dan jaringan endometrium. Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa Brain Derived Neurotrophic Factor (BDNF) memiliki potensi sebagai penanda klinis untuk mendiagnosis endometriosis. Protein BDNF merupakan anggota neurotropin yang pertama kali diidentifikasi pada sistem saraf dan disintesis oleh endometrium. Kadar BDNF dalam serum tidak dipengaruhi oleh usia dan berat badan serta cenderung lebih stabil dibandingkan dengan kadarnya di plasma. Studi sebelumnya telah menunjukkan kadar BDNF yang lebih tinggi pada endometrium dan plasma wanita endometriosis dibandingkan dengan non endometriosis. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian prospektif ini adalah untuk mengukur kadar Brain Derived Neurotrophic Factor (BDNF) serum wanita endometriosis dibandingkan dengan wanita non endometriosis, selain itu penelitian ini dilakukan untuk menilai apakah BDNF dapat dijadikan biomarker klinis non-invasif yang dapat diandalkan untuk mendiagnosis penderita endometriosis serta untuk menemukan korelasi antara serum BDNF dengan tingkat keparahan nyeri wanita endometriosis.

Penelitian ini dikerjakan di RSUD dr. Soetomo dan RSAL Dr. Ramelan mulai Oktober sampai dengan Agustus 2018. Sebelum diikutkan dalam subyek penelitian semua calaon subyek peneltian diberikan informed consent untuk ditandatangani.  Terdapat lima puluh wanita subyek penelitian yang sesuai dengan kriteria inkusi penelitian yang menjalani operasi laparoskopi di RSU Dr. Soetomo dan RSU Dr. Ramelan. Subyek penelitian dengan keluhan nyeri, terdapat kista endometriosis dan infertilitas dikelompokkan pada kelompok endometriosis. Diagnosis endometriosis ditegakkan dengan melihat secara laparoskopi adanya lesi endometriosis atau kista endometrisois. Sedangkan pada kelompok kontrol didapatkan dari wanita sehat yang akan menjalani laparoskopi steril. Sampel darah diambil sebelum operasi dan kadar BDNF diukur menggunakan kit Human BDNF Quantakine庐锔. Hubungan kadar BDNF serum dengan derajat nyeri dan stadium penyakit dibandingkan antara kelompok endometriosis dan kontrol. Validitas BDNF sebagai biomarker diagnosis endometriosis dinilai menggunakan Receiver Operating Characteristic (ROC). Hasil penelitian ini menunjukkan kadar serum BDNF secara signifikan lebih tinggi pada wanita endometriosis (30,42卤7,41 pg/ml), dibandingkan dengan kontrol (25,66卤3,30 pg/ml). Kadar serum BDNF berkorelasi dengan skor nyeri yang dilaporkan pasien (r=0,44, p=0,01). Receiver Operating Characteristic menunjukkan potensi BDNF dalam diagnosis endometriosis. Dengan menggunakan nilai batas 27,06 pg/ml, sensitivitas dan spesifisitas dilaporkan masing-masing 66,7% dan 64,3%. Kesimpulan penelitian ini adalah  kadar serum BDNF pada wanita endometriosis secara signifikan lebih tinggi dibandingkan pada wanita wanita non endometriosis. Kadar serum BDNF tampaknya memiliki akurasi dan nilai prediktif yang rendah sebagai penanda diagnostik endometriosis. Namun, ada hubungan yang moderat antara kadar serum BDNF dengan derajat nyeri endometriosis.

Penulis: Sri Ratna Dwiningsih

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan di

AKSES CEPAT