UNAIR NEWS – 51动漫 (UNAIR) kembali menjadi tuan rumah bagi pembahasan isu strategis nasional. Kegiatan itu adalah Seminar Nasional KHAIR yang berlangsung Selasa (25/6/2025) di Aula Ternate ASEEC Tower, UNAIR Kampus Dharmawangsa-B.
Salah satu agenda utama dalam seminar ini adalah pemaparan riset dan inovasi halal terkini oleh melalui Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP). Pemaparan materi langsung oleh Satriyo Krido Wahono PhD Kepala PRTPP, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN. Satriyo juga kondang sebagai peneliti senior di bidang teknologi kimia pangan.
Dalam paparannya, Satriyo menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat halal dunia. Hal yang mendukung potensi tersebut ialah keberagaman sumber daya hayati lokal serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya produk yang aman, berkualitas, dan halal. Namun, untuk mewujudkan hal itu, tentu memerlukan ekosistem riset halal yang kuat dan kolaboratif.
淩iset halal bukan hanya bicara soal sertifikasi semata, tetapi juga menyangkut penguasaan teknologi deteksi, rekayasa bahan halal, dan validasi metode ilmiah yang mampu menjawab kebutuhan industri dan masyarakat secara nyata, ujarnya.
Deteksi Cepat dan Substitusi Bahan Non-Halal
Riset halal BRIN saat ini menitikberatkan pada dua aspek utama, yakni deteksi kehalalan dan substitusi bahan non-halal, terutama pada produk pangan olahan. Penggunaan berbagai pendekatan mulai dari deteksi berbasis DNA menggunakan Real-Time PCR dan Loop Mediated Isothermal Amplification (LAMP), hingga pendekatan non-DNA seperti metabolomik LC-HRMS dan sistem Computer Vision.
Salah satu tujuan utama dari pendekatan ini adalah menciptakan metode deteksi yang cepat, akurat, dan ekonomis untuk digunakan di lapangan, khususnya oleh pelaku UMKM dan industri makanan. Misalnya, pengembangan portable detector berbasis Vis-NIR (Visible Near Infrared). Ini memungkinkan proses autentikasi daging berlangsung tanpa merusak sampel dan tanpa perlu laboratorium khusus.
Selain itu, BRIN juga melakukan riset substitusi bahan non-halal seperti gelatin dan kolagen babi dengan sumber-sumber halal, di antaranya kulit kambing, ikan laut, hingga bahan nabati seperti rumput laut dan sorgum. Pengembangan kapsul keras dan lunak berbasis rumput laut pun menjadi salah satu inovasi yang kini tengah dalam tahap uji industri.
Produk Inovatif: Meat Analog, Probiotik Lokal, dan Perisa Halal
Beragam inovasi juga terus dalam upaya pengembangan, seperti produk meat analog berbasis tempe kacang benguk dan selada laut, sebagai alternatif protein nabati yang halal dan bergizi. Di sisi lain, riset kolaboratif dengan Fakultas Peternakan Universitas Andalas juga tengah mengembangkan keju artisan probiotik menggunakan kultur kefir lokal.
Satriyo juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan riset halal. PRTPP BRIN saat ini telah bekerja sama dengan lebih dari 50 industri dan 20 perguruan tinggi. Termasuk antaranya PT Indofood CBP, PT Rumah Keju Jogja, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, hingga Universitas Trunojoyo Madura. Selain itu, BRIN juga aktif menjalin kemitraan dengan lembaga seperti BPJPH, BAZNAS, BAPANAS, dan KNEKS.
Melalui program seperti Fasilitasi Inovasi Akar Rumput (FIAR) dan Perusahaan Pemula Berbasis Riset (PPBR), BRIN turut mendorong diseminasi hasil riset kepada pelaku usaha mikro dan masyarakat luas. Hingga pertengahan 2025, tercatat lebih dari 2.200 kegiatan pelatihan, bimbingan teknis, dan diseminasi hasil riset telah menjangkau lebih dari 450 ribu peserta di 98 kabupaten/kota di Indonesia.
Menuju Indonesia Pusat Halal Dunia
Satriyo menyampaikan bahwa arah riset halal BRIN ke depan tidak hanya berorientasi pada produk dan teknologi, tetapi juga pada sinkronisasi kebijakan antar-lembaga. Salah satunya adalah mempercepat harmonisasi antara regulasi halal dan izin edar, khususnya untuk produk pangan UMKM.
淛ika kita ingin menjadi pusat halal dunia, maka kita harus mampu menguasai teknologi, memperkuat riset berbasis kebutuhan pasar, serta membuka akses yang luas bagi pelaku usaha lokal, tegasnya.
Melalui paparan tersebut, UNAIR menunjukkan perannya sebagai fasilitator ilmu pengetahuan dan mitra strategis dalam pengembangan ekonomi halal berbasis riset dan inovasi. Seminar Nasional KHAIR ini menjadi bukti bahwa sinergi antara akademisi, peneliti, dan pelaku industri adalah kunci kemajuan Indonesia dalam kancah halal global.
Penulis: Febriana
Editor: Ragil Kukuh Imanto





