Penelitian kualitatif terbaru mengungkap bahwa pasien penyakit jantung koroner (PJK) di Sumatera Barat, bersama keluarga dan pemimpin adat Minangkabau, masih memiliki pemahaman yang terbatas terhadap gejala awal dan pengelolaan mandiri penyakit tersebut. Dalam studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Indonesia dan 51动漫 ini, ditemukan bahwa sebagian besar peserta salah mengartikan gejala awal serangan jantung sebagai gangguan pencernaan seperti masuk angin atau maag. Kesalahpahaman ini menyebabkan keterlambatan dalam penanganan medis, yang pada gilirannya dapat memperburuk kondisi pasien. Ketidaktahuan ini tidak hanya terjadi pada pasien, tetapi juga pada keluarga dan tokoh adat, meskipun sebagian dari mereka memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi.
Temuan lain dari studi ini menunjukkan bahwa pasien PJK, dengan dukungan keluarga dan tokoh adat, telah melakukan berbagai bentuk perawatan mandiri yang mencakup aspek fisik, psikologis, dan spiritual. Pasien mengatur pola tidur, mengurangi aktivitas berat, menjaga pola makan, serta berusaha berhenti merokok sebagai bagian dari perawatan fisik. Secara psikologis, mereka melakukan manajemen stres melalui relaksasi dan motivasi diri. Sedangkan secara spiritual, banyak pasien mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa dan mendengarkan bacaan Al-Qur檃n. Dukungan keluarga, khususnya istri dan anak-anak, sangat berperan dalam menyusun makanan sehat dan mengingatkan pasien agar patuh pada pengobatan.
Namun, berbagai hambatan juga ditemukan dalam praktik perawatan mandiri, mulai dari masalah fisik dan psikologis, hingga keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dan pengaruh budaya lokal. Keluhan seperti sesak napas, nyeri dada, insomnia, serta kecemasan dan ketakutan terhadap kematian menjadi kendala besar bagi pasien. Selain itu, kebiasaan makan makanan tinggi lemak khas Minangkabau serta keterlibatan dalam kegiatan adat menjadi tantangan dalam mengadopsi gaya hidup sehat. Keluarga pun menghadapi dilema antara menjaga kesehatan pasien dan mempertahankan kebiasaan budaya setempat.
Peserta penelitian menyuarakan harapan besar terhadap adanya edukasi kesehatan yang lebih baik dan berakar pada kearifan lokal Minangkabau untuk meningkatkan hasil pengelolaan penyakit. Mereka mengusulkan agar edukasi dilakukan secara luas kepada masyarakat, melibatkan tokoh adat sebagai agen perubahan dalam menyosialisasikan pentingnya deteksi dini dan perawatan PJK. Selain itu, mereka menginginkan adanya pemantauan lanjutan oleh tenaga kesehatan setelah pasien pulang ke rumah. Penelitian ini memberikan rekomendasi penting untuk merancang intervensi keperawatan berbasis budaya Minangkabau yang holistik dan berkelanjutan guna meningkatkan kualitas hidup pasien PJK di Indonesia.
Penulis: Hidayat Arifin
Fakultas Keperawatan, 51动漫
Sumber:
Setyowati, S., Wahyuni, A., Adriantoro, H., Junus, K., Umar, E., Fauk, N. K., & Arifin, H. (2024). Self-Care Practices and Perspectives in Managing Coronary Heart Disease Patients: A Qualitative Study. Nursing Reports, 14(4), 3264-3279. https://doi.org/10.3390/nursrep14040237





