Spirulina adalah Cyanobacterium autotrofik hijau biru yang selnya membentuk filamen berbentuk heliks (helix). Filamen tersebut tersusun dari rangkaian sel (trikoma) dengan dinding sel yang tipis. Sel tersebut kurang lebih berdiameter 1 hingga 12 mikron. Filamen berupa rangkaian tunggal dan mampu bergerak bebas. Spirulina merupakan Organisme perairan yang ada di mana-mana dan tersebar luas di lingkungan berbeda seperti perairan darat, rawa, air tawar, payau, dan laut. dapat terjadi di lingkungan ekstrim di mana organisme lain tidak dapat hidup. Spirulina hidup pada lingkungan basa, salinitas optimum adalah 12-20 g/l. pH optimal Spirulina yaitu 9,5-9,8. Suhu optimum adalah 25-32oC.
Siklus hidup Spirulina dominannya yaitu, reproduksi dengan fragmentasi trikoma dewasa. Produksi Spirulina terjadi secara aseksual (pembelahan sel) dengan memecah filamen menjadi unit sel yang membentuk filamen baru. Ada tiga tahapan dasar dalam proses reproduksi Spirulina yaitu fragmentasi trikoma, ekspansi dan pematangan hormogonia, dan pemanjangan trikoma. Trikoma dewasa membentuk filamen, dan sel hormogenia berkembang biak dengan pembelahan biner, tumbuh panjang dan membentuk spiral.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan Spirulina dalam budidaya, yaitu nutrisi, suhu dan intensitas cahaya. Masing-masing faktor ini harus dipertimbangkan selama budidaya Spirulina untuk produksi biomassa Spirulina Sehingga dapat dioptimalkan. Kebutuhan nutrisi mikroalga cukup besar yaitu 56,3% C; 8,6% N; 1,2% P berdasarkan massa. Nitrat adalah sumber nitrogen utama yang diasimilasi oleh Spirulina Nitrogen merupakan unsur hara makro yang mempengaruhi pertumbuhan Spirulina dalam aktivitas metabolisme seluler seperti katabolisme dan anabolisme, terutama biosintesis protein. Nitrogen merupakan komponen penting dari asam amino, amida, nukleotida, dan nukleoprotein dan diperlukan untuk pembelahan sel, sehingga nitrogen penting untuk pertumbuhan. Berdasarkan hal tersebut, ketika konsentrasi nitrogen dalam media kultur mencapai tingkat optimum, aktivitas metabolisme sel juga berlangsung dengan baik, termasuk sintesis klorofil, karena kandungan klorofil yang tinggi akan menyebabkan fotosintesis dan pertumbuhan spirulina berjalan dengan baik. sp.
Spirulina (alga termofilik) akan lebih optimal pada 35oC sampai 37oC untuk skala besar atau volume besar. Saat membudidayakan spirulina untuk skala laboratorium membutuhkan suhu dari 18oC sampai 2oC. Spirulina Sebagai organisme fotosintetik, cahaya diperlukan agar metabolisme berlangsung. Selama kultur Spirulina sumber cahaya skala lab berasal dari lampu TL. Intensitas cahaya yang optimal untuk pertumbuhan Spirulina yaitu 2000-5000 Lux. Waktu pencahayaan yang optimal untuk pertumbuhan Spirulina yaitu 16 jam terang dan 8 jam gelap.
Fase pertumbuhan mikroalga, khususnya fase akhir, adalah fase tertunda. Awal fase tertunda karena sel harus beradaptasi dengan lingkungan baru sebelum mereka mulai menyebar (membelah). Dalam hal ini, penyesuaian berarti waktu sel kehilangan metabolit dan enzim karena kondisi yang tidak menguntungkan dalam kultur sebelumnya. Selama fase ini, tidak ada peningkatan jumlah sel. Fase logaritmik atau fase eksponensial terjadi ketika sel-sel berada pada keadaan tunak dan jumlah sel meningkat pada tingkat yang konstan. Bahan seluler baru terbentuk dengan kecepatan konstan, tetapi mereka bersifat katalitik dan massanya meningkat secara eksponensial. Fase diam terjadi ketika sel cenderung tetap konstan. Kebiasaan nutrisi dalam media kultur adalah salah satu kemungkinan penyebab terhentinya sel. Dalam kebanyakan kasus, pergantian sel terjadi pada fase diam. Hilangnya sel secara perlahan karena kematian dikompensasi oleh pembentukan sel baru dengan pembelahan. Dalam kondisi ini, jumlah sel akan meningkat secara perlahan, meskipun jumlah sel akan tetap ada. Fase reduksi pertumbuhan terjadi karena persaingan yang ketat dalam media kultur sel. Nutrisi yang tersedia dalam media kultur tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan populasi sel yang tumbuh secara eksponensial. Berkurangnya pertumbuhan dan biomassa dapat dikaitkan dengan sejumlah penyebab, yaitu berkurangnya nutrisi dalam media, berkurangnya intensitas cahaya karena naungan sendiri, lebih banyak persaingan untuk nutrisi, ruang hidup dan cahaya. Fase kematian adalah tahap dimana jumlah populasi sel berkurang, jumlah sel mati secara perlahan per satuan waktu, dan akhirnya laju kematian sel menjadi konstan.
Luthfiana Aprilianita Sari
Department of Aquaculture, Faculty of Fisheries and Marine, 51动漫, Mulyorejo Street, Surabaya 60115, Indonesia
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Evaluation of culture studies Spirulina with nutrient walne plus vitamin B12, KCl, NPK, ZA, CaO and Urea
Aldo Lovely Arief Suyoso, Luthfiana Aprilianita Sari, Putri Desi Wulan Sari, Daruti Dinda Nindarwi and Sulastri Arsad
IOP Conference Series: Earth and Environmental Science





