D. magna dengan kelamin jantan secara umum berukuran lebih kecil daripada daphnia betina, namun pada daphnia jantan terdapat antennule lebih panjang. Panjang tubuh D. magna dengan kelamin jantan dewasa adalah sekitar 1 “ 5 mm, sedangkan panjang betinanya antara 3 – 5 mm. Dengan demikian, D. magna betina lebih besar daripada D. magna jantan. D. magna betina dilengkapi dengan kantung induk dalam dinding tubuhnya yaitu di bagian dorsal karapaks yang berfungsi sebagai penyimpanan telur.
Habitat D. magna yaitu di perairan tawar yang menggenang. D. magna merupakan jenis zooplankton yang hidup pada perairan tawar. Sering dijumpai pada perairan dengan kandungan bahan organik atau tempat tergenang lain, seperti selokan, rawa, sawah dan perairan lain yang tidak berarus. D. magna memiliki tubuh yang berukuran kecil sehingga pergerakannya lemah untuk dapat melawan arus air yang kuat. Zooplankton ini biasanya bergerak migrasi secara vertikal.
D. magna mampu hidup dengan baik dalam lingkungan yang memiliki kisaran suhu antara 25 “ 30oC, dimana kisaran pH optimum antara 7,0 “ 8,6. Konsentrasi dissolved oxygen yang optimum yaitu di atas >3,0 mg. Kandungan ammoniak antara 0,35 “ 0,61 ppm, D. magna masih mampu berkembang biak dengan baik dan bertahan hidup. D. magna selama masa hidupnya mengalami beberapa fase, diantaranya fase telur, fase larva, fase juvenille, dan fase dewasa. Dalam kurun waktu 4 – 6 hari dengan ukuran mencapai 2,5 mm D. magna akan mencapai fase dewasa dan akan menjadi induk pada saat berumur 8 – 10 hari. Anak pertama yang dilepaskan memiliki ukuran sebesar 0,8 mm. Umur zooplankton ini hanya akan bertahan hingga 12 hari selama siklus hidupnya. Zooplankton ini dapat berkembang biak dengan dua cara, yaitu secara seksual dan partenogenesis. Dalam keadaan normal, D. magna dapat berkembang biak dengan cara partenogenesis, dimana anak berasal dari sel-sel yang tak terbuahi. Telur yang tak terbuahi akan berkembang lalu menetas menjadi embrio dan akhirnya berkembang menjadi D. magna Pada fase setengah dewasa, anakan D. magna dikeluarkan dari ruang penetasan dalam tubuh saat induknya mengalami pergantian kulit. Individu betina sebagian besar hanya dihasilkan dari cara parthenogenesis yang akan menghasilkan telur sebanyak 10 – 20 butir dengan variasi 2 – 40 butir. Dalam kondisi perairan yang kurang baik, seperti suhu yang berfluktuatif, kurang tersedianya nutrisi yang cukup dan banyaknya limbah akibat populasi yang terlalu tinggi akan mengakibatkan produksi telur secara parthenogenesis akan berkurang, beberapa telur yang menetas akan berkembang menjadi individu baru dengan kelamin jantan karena kondisi perairan yang buruk tersebut dapat mengubah proses metabolismenya, sehingga dapat mempengaruhi pembentukan kromosomnya. Telur D. magna jantan untuk reproduksi dilakukan dengan cara seksual, yang mana satu individu D. magna jantan dapat melakukan pembuahan terhadap ratusan individu betina dalam satu periode.
Individu jantan memiliki adanya organ tambahan yang berada pada bagian abdominalnya dan berfungsi untuk memeluk betina dari belakang, lalu membuka carapace betinanya. Setelah carapace terbuka, spermateka jantan masuk untuk membuahi sel telur didalamnya. Telur yang terbuahi tersebut dilindungi oleh lapisan yang selanjutnya disebut ephipium. Lapisan ini berfungsi untuk melindungi telur terbuahi dari kondisi lingkungan yang tidak bagus. D. magna akan mulai menetaskan telurnya yang pertama pada usia 4 – 6 hari. Lalu setiap 2 hari sekali dapat menghasilkan keturunan sekitar 29 ekor. Selama fase hidupnya dalam kondisi lingkungan yang mendukung, organisme ini dapat beranak sebanyak 7 kali.
Nutrisi yang terkandung dalam tubuh D. magna relative tinggi yang diantaranya adalah lemak, protein, kadar air dan serat. Kandungan nutrisi pada D. magna sangat beragam tergantung umur dan pada sumber makanan yang dimakan yang tersedia didalam media pemeliharaan. Kandungan proteinnya adalah sekitar 50% dari berat keringnya. Kandungan lemak daphnia dewasa akan lebih tinggi dibandingkan dengan juvenille yaitu berkisar antara 20 – 27%. Daphnia diketahui mengandung enzim pencernaan seperti peptidase, proteinase, lipase, amilase dan selulase yang dapat berperan sebagai ekso enzim dalam pencernaan larva ikan.
Penulis: Yudi Cahyoko
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Suryaning Trinita Setyawan, Yudi Cahyoko and Luthfiana Aprilianita Sari





