UNAIR NEWS – 51动漫 (UNAIR) membuka pendaftaran mahasiswa baru program studi kedokteran. Terdapat tiga jalur masuk Kedokteran FIKKIA UNAIR, yakni SNBP, SNBT, dan Seleksi Mandiri UNAIR (SMUA). Masing-masing kuota pada ketiga jalur tersebut adalah 10, 15, dan 25.
Seimbangkan Kesehatan Fisik dan Psikis
Koordinator Program Studi (KPS) Kedokteran FIKKIA, Muhammad Nazmuddin dr MSc mengatakan menempuh pendidikan kedokteran adalah keputusan besar yang menentukan masa depan profesional. Program studi Kedokteran FIKKIA Banyuwangi menawarkan keunggulan wilayah yang menjadi pilihan tepat.
Suasana Banyuwangi yang nyaman dan tenang dapat menjaga fokus selama menempuh pendidikan. Mahasiswa juga bisa menikmati waktu luang dengan kegiatan alam. Seperti mendaki Gunung Ijen hingga menikmati pantai yang indah. 淪uasana itu sangat ideal bagi mahasiswa kedokteran yang membutuhkan fokus tinggi dalam menjalani perkuliahan dan praktikum intensif, kata dosen yang akrab disapa dr Didin itu.
Pendidikan Berkualitas
UNAIR terkenal dengan standar pendidikan kedokteran terbaik di Indonesia. Hal tersebut memastikan pendidikan di Banyuwangi memiliki kredibilitas tinggi. Termasuk dukungan kuat alumni melalui jaringan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNAIR yang membantu lulusan dalam mencari peluang kerja dan spesialisasi.

Dengan kombinasi lingkungan belajar yang nyaman, kualitas akademik yang tinggi, dan jejaring alumni yang luas semakin memperbesar peluang kerja. 淢emilih Kedokteran FIKKIA jadi langkah tepat bagi calon dokter yang ingin mendapatkan pendidikan terbaik dalam suasana yang kondusif untuk belajar dan berkembang, tuturnya.
Tawarkan Bidang Travel Medicine
Lebih lanjut, dr Didin menyebut prodi Kedokteran FIKKIA Banyuwangi tak hanya melatih mahasiswa menjadi seorang dokter biasa. Unggulan travel medicine mengembangkan kemampuan akademik dan penelitian yang lebih tangguh. Akan hadir aktivitas mulai dari surveilans penyakit tropis, edukasi, kajian, hingga pelayanan kesehatan wisata.
Mahasiswa dapat terlibat dalam riset riset penyakit terkait perjalanan. Seperti malaria, demam berdarah, dan infeksi zoonosis kawasan wisata. Mahasiswa akan melayani kesehatan wisatawan yang berkolaborasi dengan puskesmas dan rumah sakit daerah wisata untuk menangani penyakit atau kecelakaan terkait perjalanan. Termasuk melakukan mitigasi risiko kesehatan wisatawan.
淜e depan, program studi Kedokteran FIKKIA akan menggelar simulasi kedaruratan di destinasi wisata. Latihan penanganan kegawatdaruratan medis di lokasi wisata terpencil, seperti pendakian Ijen atau selancar di G-Land, sebut kandidat PhD dari University Medical Center Groningen, Belanda itu.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Yulia Rohmawati





