Bullying adalah masalah sosial yang rumit dan meluas di berbagai segmen masyarakat, termasuk di sekolah, komunitas, dan media sosial. Dalam dua puluh tahun terakhir, fenomena ini telah menarik perhatian penelitian yang mendalam. Para peneliti telah menemukan berbagai bentuk bullying, dari bullying fisik hingga sosial, relasional, dan cyberbullying. Banyak penelitian yang membahas faktor lingkungan dan hubungan interpersonal sebagai pemicu perilaku bullying ini; hal yang menarik untuk diteliti juga adalah apakah terdapat peran genetik dalam perkembangan perilaku bullying?.
Bullying didefinisikan sebagai tindakan agresif yang dilakukan dengan sengaja oleh individu atau kelompok terhadap korban yang dianggap lebih lemah. Berbagai jenis bullying mencakup bullying fisik (serangan secara fisik), bullying sosial (pengucilan), relasional (pengelolaan hubungan), dan cyberbullying (perundungan lewat internet), yang menunjukkan bahwa bullying dapat terjadi dalam berbagai situasi.
Beberapa penelitian menitikberatkan pada faktor eksternal yang menyebabkan bullying, seperti dinamika dalam keluarga, kultur sekolah, dan interaksi sosial. Literatur review ini ingin mengeksplorasi peran faktor genetik pada perilaku bullying. Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa predisposisi terhadap agresi, impulsivitas, dan dominasi sosial dapat memiliki akar genetik. Penelitian Ball et al. (2008) dan Johansson et al. (2022) menunjukkan adanya elemen keturunan yang berkontribusi terhadap perilaku agresif, yang mengarah pada tindakan bullying.
Penelitian tentang faktor genetik dengan perilaku bullying, mayoritas temuan menampilkan hasil yang belum memberikan gambaran utuh. Hal ini menyulitkan untuk memahami secara keseluruhan bagaimana interaksi antara faktor genetik dan lingkungan mempengaruhi perilaku bullying. Oleh karena itu, penting untuk mengintegrasikan aspek genetik dan lingkungan dalam konteks bullying.
Memahami pengaruh genetik terhadap perilaku bullying adalah hal penting. Dengan menyadari bahwa beberapa individu mungkin memiliki kerentanan genetik terhadap perilaku agresif, strategi pencegahan bisa dirancang dengan mempertimbangkan aspek genetik ini. Misalnya, program intervensi yang berfokus pada peningkatan dukungan keluarga dengan pendekatan yang mempertimbangkan perbedaan individu dalam kecenderungan genetik.
Kesimpulan
Bullying merupakan fenomena sosial yang memiliki banyak lapisan dengan berbagai faktor yang memengaruhi perilakunya. Literatur review ini menekankan pentingnya memahami peran genetik dalam perilaku bullying, meskipun studi di bidang ini masih terbatas dan terfragmentasi. Dengan pendekatan yang lebih komprehensif, termasuk faktor genetik, kita dapat mengembangkan strategi pencegahan yang lebih efektif dan menyeluruh. Langkah intervensi yang melibatkan penguatan lingkungan sosial dan pendidikan serta pengertian tentang kerentanan genetik dapat membantu menurunkan perilaku bullying.
Penulis: Nurul Hartini (Tim Peneliti)
Informasi detil dari tulisan ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Baca juga: Hubungan Antara Harga Diri, Bullying, dan Perundungan Siber pada Remaja





