Penyedia layanan kesehatan garis depan utama yang sering berkontak dengan pasien COVID-19 adalah perawat. Banyak perawat yang telah terinfeksi COVID-19 dan mengalami kelelahan emosional yang parah dan burnout. Penting untuk menilai kesehatan psikologis perawat selama pandemi COVID-19. Studi ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan burnout, ketahanan, dan pemberdayaan di antara perawat Indonesia yang selamat dari COVID-19. Dalam studi potong lintang ini, 182 perawat yang selamat dari COVID-19 berpartisipasi dari September hingga November 2022 dengan pengambilan sampel yang mudah. Survei online menggunakan Copenhagen Burnout Inventory (CBI), Skala Ketahanan Connor-Davidson (CD-RISC), dan Skala Pemberdayaan Psikologis (PES) digunakan untuk mengumpulkan data.
Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan regresi logistik biner. Mayoritas perawat berusia antara 30“45 tahun (61,6%), dan perempuan (67,4%) mengalami burnout. Ketahanan yang lebih tinggi ditemukan di antara perawat yang terkontrak COVID-19 (83,1%). Dalam analisis regresi logistik multivariat, ketiadaan dampak psikologis (OR = 0,44, 95% CI = 0,21“0,93) secara signifikan terkait dengan pengalaman burnout yang lebih tinggi. Selain itu, tempat kerja, terutama di rumah sakit (OR = 4,32, 95% CI = 1,09“17,09) berhubungan dengan ketahanan, dan waktu jeda setelah menerima hasil negatif COVID-19 (OR = 3,90, 95% CI = 1,27“12,03) berkorelasi dengan pemberdayaan psikologis, dalam hasil kami 4“6 bulan setelah mendapatkan hasil negatif berisiko lebih tinggi. Untuk menjaga aspek psikologis yang positif bagi perawat yang selamat dari COVID-19, perlu untuk menerapkan dukungan psikologis di tempat kerja dan memastikan beban kerja yang tepat bagi profesional perawat.
Penulis: Huan-Fang Lee, Hsiang-Chin Hsu, Ferry Efendi, Vimala Ramoo, Ika Adelia Susanti
Jurnal: Burnout, resilience, and empowerment among COVID-19 survivor nurses in Indonesia





