Aflatoksin B1 (AFB1) adalah salah satu racun yang paling berbahaya yang dihasilkan oleh jamur tertentu, yang dapat menimbulkan efek toksik yang serius bagi hewan dan manusia. Setelah dikonsumsi, AFB1 menjalani proses metabolik di dalam tubuh hewan, yang mengubahnya menjadi berbagai metabolit dengan tingkat toksisitas yang berbeda. Setelah metabolisme, beberapa metabolit AFB1 dapat diekskresikan keluar dari tubuh melalui jalur ekskresi, sementara yang lain mungkin tetap berada di dalam tubuh dan terakumulasi seiring waktu. Aflatoksikosis, yaitu keracunan yang disebabkan oleh AFB1, dapat muncul dalam bentuk efek akut, subakut, atau kronis, dengan dampak utama yang terlihat pada hati, organ yang paling terkena dampak dari toksisitas AFB1. Paparan AFB1 dapat mengubah ekspresi gen protein dan RNA, yang menjadi indikasi kerusakan akibat AFB1.
Sejumlah protein telah diidentifikasi berhubungan dengan inisiasi tumor hati, termasuk Glycogen Synthase Kinase 3 Beta, Mammalian Target of Rapamycin (mTOR), dan Mitogen-Activated Protein Kinases (MAPK). Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami bagaimana AFB1 memodulasi protein-protein ini, termasuk pengujian potensi afinitas dan energi aktivasi pada organisme model seperti tikus. Keluarga protein kinase terlihat memiliki peran penting dalam karsinogenesis hepatik dengan memediasi transduksi sinyal dari faktor pertumbuhan dan mengatur siklus sel.
Salah satu tanaman yang menarik perhatian dalam konteks toksisitas AFB1 adalah Capsicum annuum, yang dikenal dengan cabenya. Senyawa utama dalam cabai, yaitu capsaicin, memiliki banyak aplikasi farmasi, termasuk sebagai analgesik untuk meredakan rasa sakit dan menghambat ekspresi gen serta protein tertentu. Capsaicin telah terbukti memiliki efek positif pada berbagai jenis sel, termasuk sel hati, tanpa menyebabkan efek samping yang signifikan pada sel normal. Capsaicin mampu menghambat proliferasi berbagai sel melalui mekanisme apoptosis, yang melibatkan produksi reactive oxygen species (ROS), aktivasi jalur Jun N-terminal kinase (JNK), dan pelepasan sitokrom c, yang pada gilirannya mengaktifkan caspase-3. Aktivasi jalur MAPK, khususnya MAPK3, menunjukkan bahwa capsaicin memainkan peran dalam morfologi dan fungsi apoptosis. Penurunan fosforilasi ERK 1/2 juga diamati seiring dengan pengaruh capsaicin terhadap jalur MAPK.
Beberapa studi in vivo menunjukkan bahwa capsaicin memiliki efek perlindungan terhadap kerusakan hati. Misalnya, capsaicin telah dilaporkan dapat mengurangi cedera hati yang diinduksi oleh karbon tetraklorida pada tikus dengan memodulasi stres oksidatif dan respons inflamasi. Selain itu, capsaicin terbukti memengaruhi jalur sinyal kunci, termasuk PI3K/AKT dan MAPK/ERK, yang terlibat dalam regulasi proliferasi sel, apoptosis, dan peradangan. Pentingnya penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dampak capsaicin pada ekspresi protein target seperti AKT1 dan MAPK1 dalam konteks hepatotoksisitas yang diinduksi oleh AFB1. Melalui penggunaan teknik imunohistokimia (IHC) dan pemeriksaan histopatologis dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE), penelitian ini bertujuan untuk menentukan interaksi antara kompleks reseptor-ligan.
Meskipun capsaicin memiliki efek pro-inflamasi dan anti-inflamasi yang bergantung pada dosis dan konteks, temuan penelitian ini mendukung peran hepatoprotektifnya dalam mengurangi kerusakan hati yang diinduksi oleh aflatoksin B1. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian capsaicin secara signifikan mengurangi tingkat keparahan lesi pada hati dan menurunkan ekspresi AKT1 serta MAPK1.





