Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah kondisi kelainan struktur jantung yang sudah ada sejak lahir, memengaruhi sekitar 1 dari 100 bayi di dunia. Tanpa penanganan yang tepat, PJB dapat menyebabkan komplikasi serius seperti gagal jantung, gangguan pertumbuhan, hipertensi arteri pulmonal bahkan kematian dini. Hipertensi arteri pulmonal (PAH) akibat kelainan jantung bawaan (PJB) adalah kondisi serius yang menyebabkan tekanan darah di pembuluh paru meningkat. Penyakit ini membuat jantung, khususnya bilik kanan, bekerja lebih keras untuk memompa darah ke paru-paru. Akibatnya, pasien sering mengalami sesak, cepat lelah, dan penurunan kemampuan melakukan aktivitas fisik.
Selama ini, kemampuan fisik pasien biasanya diukur menggunakan tes jalan 6 menit (6-Minute Walk Test/6MWT). Namun, tidak semua pasien dapat melakukannya secara rutin, dan hasilnya bisa dipengaruhi banyak faktor. Karena itu, diperlukan metode yang lebih sederhana, tidak invasif, dan tetap akurat untuk menilai kondisi pasien. Salah satu metode yang mulai mendapat perhatian adalah pengukuran rasio TAPSE/PASP melalui pemeriksaan ekokardiografi (USG jantung).
Studi yang dilakukan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya ini bertujuan mengetahui apakah rasio TAPSE/PASP berhubungan dengan daya tahan fisik pasien PAH-PJB. TAPSE (Tricuspid Annular Plane Systolic Excursion) menggambarkan seberapa baik bilik kanan jantung berkontraksi, sedangkan PASP (Pulmonary Artery Systolic Pressure) menunjukkan tekanan di pembuluh darah paru. Rasio TAPSE/PASP mencerminkan keseimbangan antara kekuatan pompa jantung kanan dan beban tekanannya. Penelitian ini melibatkan 51 pasien dewasa dengan PAH-PJB. Semua peserta menjalani tes jalan 6 menit dan echokardiografi untuk mengukur TAPSE, PASP, serta menghitung rasio TAPSE/PASP. Hasilnya menunjukkan bahwa pasien dengan rasio TAPSE/PASP lebih tinggi mampu berjalan lebih jauh pada tes 6MWT. Sebaliknya, pasien dengan rasio rendah cenderung memiliki jarak tempuh lebih pendek, tekanan paru lebih tinggi, dan fungsi jantung kanan yang lebih lemah.
Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa rasio TAPSE/PASP dapat menjadi indikator sederhana untuk memprediksi kemampuan fisik pasien tanpa harus melakukan tes fisik berat. Pemeriksaan ini juga mudah dilakukan di rumah sakit yang memiliki fasilitas USG jantung, tanpa memerlukan prosedur invasif. Dengan pemantauan rutin rasio TAPSE/PASP, dokter dapat menilai kondisi pasien lebih cepat, mengatur terapi yang sesuai, dan mendeteksi perburukan sebelum gejalanya semakin berat. Penelitian ini merekomendasikan penggunaan rasio TAPSE/PASP sebagai bagian dari evaluasi rutin pada pasien PAH-PJB, sehingga perawatan bisa lebih terarah dan kualitas hidup pasien dapat meningkat.
Penulis: Dr. I Gde Rurus Suryawan, dr. Sp.JP(K)FIHA.FAPSC.FACC.FSCAI.FAsCC
Link Publikasi :





